Selasa, 31 Januari 2017

Komunikasi Produktif (Hari ke-7)

Hikmah tantrum 


Selasa,31 Januari 2017


Pagi-pagi sudah mendapati anak tantrum.Berawal saat saya dan nenek syaina berbeda pendapat ketika neneknya memperbolehkan syaina BAK di sembarang tempat (dibelakang rumah) bukan di toilet.Sedangkan saya sedang konsisten melatih anak training toilet untuk konsisten BAB/BAK di toilet dan mengenalkan adab BAB/BAK.Saat saya melihat neneknya memperbolehkan syaina BAK di belakang rumah saya langsung menegur nenek syaina dan menuntun anak BAK di toilet.Sepertinya tindakan saya yang spontan dan cara komunikasi saya yang kurang tepat membuat syaina bingung dan menjadi pemicu tantrumnya di pagi hari.

Saat anak tantrum saya hanya fokus menangani syaina yang sedang tantrum.Berdasarkan pengalaman saya beberapa waktu yang lalu,saat syaina tantrum segala bentuk komunikasi apapun seperti nasehat,belaian tidak dapat diterima anak.Saat itu saya memilih untuk tenang,sabar, diam dan terlihat cuek tetapi tetap mengawasi tingkah laku syaina.Saya biarkan syaina menangis dan memberikan ruang untuk mengeluarkan perasaannya.Sesekali berkata "umi disini ya,tungguin syaina selesai menangis".

Alhamdulillah syaina berhenti menangis.Setelah itu baru saya tawarkan susu kesukaannya dan saya temani syaina meminum susu.

Choose the right time.Setelah tenang dan situasi kondusif saya meminta maaf atas tindakan saya yang memicu tantrum,mulai bertanya dan memberikan nasehat kepadanya.

Maafin umi ya....
Syaina kenapa menangis?
Syaina bingung ya harus pipis dimana?uti bilang diluar tapi umi bilang di kamar mandi ya.

Syaina tidak menjawab,mungkin masih lelah setelah tantrum dan berusaha menenangkan diri.Saya berikan jeda dan melanjutkan berbicara kepada syaina


Malu dan bau pesing yah pipis sembarangan.
Yuk pipis sama umi di kamar mandi
Umi seneng kalau syaina pinter pipis di kamar mandi.


Beberapa saat kemudian syaina mengajak saya ke toilet untuk BAK dan berkata:
Aku pipisnya di kamar mandi 
Malu yah mi pipis di luar
Nanti bau pesing.


Lega rasanya mendengar kata-kata tersebut.Itu artinya komunikasi saya dengan syaina berhasil.Syaina mampu memahami pesan yang saya sampaikan.Yes yes....

Setelah itu saya mulai membuat catatan evaluasi atas tindakan saya.
1. Mencari penyebab syaina tantrum
Hal-hal yang menyebabkan anak tantrum adalah
  • memiliki kebiasaan tidur, makan dan BAB tidak teratur
  • Sulit menyukai situasi,makanan dan orang-orang baru
  • Lambat beradaptasi dengan perubahan
  • Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif
  • Mudah terprovokasi,gampang merasa marah atau kesal
  • Sulit dialihkan perhatiannya
Jelas sudah penyebab syaina tantrum ternyata ada rasa bingung karena saya dan neneknya mengatur tindakannya. Neneknya memperbolehkan syaina BAK di belakang rumah sedangkan saya tidak mengijinkan BAK di sembarangan tempat kecuali toilet.Seharusnya perbedaan pendapat antara saya dan nenek syaina tidak dilakukan didepan anak agar tidak menimbulkan kebingungan terhadap sikap kami.Kami harus menyamakan persepsi terlebih dahulu dan bersikap konsisten. Selain itu pola tidur,pola makan dan pola BAB syaina sedang tidak teratur sehingga mood syaina menjadi negatif.Menjaga mood anak adalah penting.

2. Meminimalisir penyebab tantrum

3. Fokus ke depan bukan masa lalu.Fokus mencari solusi bukan pada masalah.Tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi tantrum dibagi menjadi tiga bagian yaitu tindakan untuk mencegah terjadinya tantrum,tindakan untuk menangani anak saat mengalami tantrum dan tindakan untuk menangani anak pasca tantrum.Ternyata kekeliruan saya adalah saya menjadi faktor pemicu terjadinya tantrum pada syaina.Lagi lagi karena komunikasi yang tidak produktif dan menginginkan anak segera mengikuti perkataan saya.

4. Siapkan fisik dan mental saat menghadapi syaina tantrum.Tenang,sabar dan bersikap konsisten





#hari7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Sumber bacaan:

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar