Tampilkan postingan dengan label komunikasi produktif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi produktif. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2017

Aliran rasa kelas komunikasi produktif

ALIRAN RASA SETELAH MENGIKUTI KELAS KOMUNIKASI PRODUKTIF



Sebelum berkenalan dengan kelas komunikasi produktif,gaya komunikasi saya masih seadanya.Rasanya senang sekali selama mengikuti kelas komunikasi produktif.Tantangan 10 hari luar biasa.Selama 10 hari berlatih komunikasi produktif bersama pasangan dan anak.Saya ditantang untuk selalu menata setiap kata-kata yang ingin dilontarkan,menjaga bahasa tubuh dan intonasi bicara agar tidak berlebihan.Tentu hal itu tidak berjalan lancar.Ada saatnya saya gagal berkomunikasi produktif.Dua belas gaya populer kimunikasi tidak produktif masih sering dilakukan.Terutama jika dihadapkan dengan tingkah laku anak yang unik.Sering terjadi perbedaan pendapat dan salah paham dengan suami karena cara penyampaian saya yang ternyata keliru.Semangat untuk terus berlatih komunikasi produktif tidak boleh berhenti hanya dalam tantangan 10 hari.Tantangan sebenarnya adalah saya mampu konsisten berkomunikasi produktif setiap hari.Saya tantang diri saya untuk berlatih komunikasi produktif selama 3 bulan.Harapannya adalah agar dapat menjadi habits.

Adanya kelas komunikasi produktif membuat saya dan suami sepakat untuk saling mengingatkan ketika kami sedang berkomunikasi dengan pasangan atau anak.Tercetus family forum yaitu ngobrol santai dengan suami tentang parenting,manajemen waktu,manajemen rumah tangga,dll.Istilahnya cangkrukan family.

Salah satu cara kami untuk mengevaluasi komunikasi keluarga dalah dengan membuat papan evaluasi komunikasi setiap hari.Papan evaluasi tersebut digunakan untuk mencatat berapa kali saya melakukan gaya komunikasi tidak produktif dan menjadi raport komunikasi.Pemicu terjadinya komunikasi tidak produktif adalah mood yang kurang baik (badmood) maka sangat penting menjaga mood,tidak sabaran,manajemen waktu yang berantakan (manajemen waktu berbanding lurus dengan manajemen emosi) dan fisik yang terlalu lelah.

Dengan mengikuti kelas komunikasi produktif,manfaat yang saya peroleh adalah lebih menjaga lisan dalam memilih kata-kata yang baik sebelum diucapkan,meningkatkan kesabaran,sering dikusi bersama pasangan,terjadi perubahan sikap/respon suami dan anak menjadi lebih baik,lebih saling memahami satu sama lain.




Ditulis oleh:
Linda Kurniawati
Purwokerto

Jumat, 03 Februari 2017

Komunikasi produktif (Hari ke-10)

Syaina belajar membuang sampah



Jum'at,3 Februari 2017

Syaina paling suka ngemil kuaci,belajar menggigit makanan berukuran kecil.Tantangan makan kuaci adalah keriting mulutnya karena keseringan menggigit kulit kuaci,walaupun begitu tetap rajin makan kuaci.Belum selesai sampai disini tantangannya,kulit kuacinya menjadi sampah.Jika dibiarkan begitu saja tentu membuat tidak sedap dipandang mata dan kotor.Nah moment yang tepat untuk membuat tantangan buat syaina.Yups bisa tidak yah syaina inisiatif membuang sampah kulit kuaci di tempat sampah?

Membacakan buku menjadi salah satu bentuk komunikasi saya dan syaina.Kisah inspiratif tentang pentingnya membuang sampah berhasil menginspirasi syaina.

Syaina: mi kulit kuacinya dibuang yah...
Umi: dibuang di mana?
Syaina:di tempat sampah
Umi: kenapa dibuang ditempat sampah?
Syaina:iya biar rumah aku tidak banjir.Kayak sali yah (nama tokoh dalam buku milik syaina) buang kulit pisang sembarangan jadinya kepleset,sama banjir yah mi.


Moment saat syaina membuang sampah di tempat sampah


#hari10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Kamis, 02 Februari 2017

Komunikasi Produktif (Hari ke-9)

Tantangan 10 hari berkomunikasi produktif



Kamis,2 Februari 2017

Mengancam adalah salah satu gaya komunikasi yang tidak produktif.Saya pernah beberapa kali melakukan gaya komunikasi dengan cara mengancam.Terutama saat anak susah untuk dibujuk melakukan sesuatu misalnya saat diajak mandi.

Umi:Syaina mandi yuk.....

Entah sudah berapa kali ajakan ini terlontar.Syaina masih belum bersedia mandi.Ketika berbagai cara ajakan sudah dilakukan dan tetap mental,akhirnya ancamanpun menjadi senjata untuk membujuk syaina mandi.

Umi:Ya sudah kalau tidak mau mandi,umi tinggal.Ngga diajak jalan-jalan.




Note:

  1. Berusaha memperbaiki gaya komunikasi dengan tidak mengancam.Misalnya:syaina mandi yuk...Umi senang kalau syaina rajin mandi.Wangi,bersih dan seger....
  2. Mengajak syaina mendi dengan bahasa dan cara yang baik,alasan yang logis dan menceritakan kisah tentang keuntungan rajin mandi melalui buku/video/media lain.
  3. Memberikan teladan dengan mandi tepat waktu.
  4. Menciptakan suasana mandi yang menyenangkan.


#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Rabu, 01 Februari 2017

Komunikasi Produktif (Hari ke-8)

Belajar minta tolong,meminta maaf dan berterima kasih


Rabu,1 Februari 2017

Ketika saya menginginkan syaina melakukan sesuatu/memerintah, saya mendahulukan kata tolong.

Syaina, umi boleh minta tolong ambilkan plastik?

Setelah syaina berhasil melakukannya saya tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Alhamdulilah kebiasaan saya tersebut di copy oleh syaina.Saat syaina meminta saya membuatkan susu untuknya,ananda berkata:

Mi tolong buatin susu....

Setelah saya buatkan susu,syaina berkata terima kasih.

Alhamdulliah syaina sudah dapat mengungkapkan maaf ketika tanpa sengaja syaina merobek kemasan susu.Syaina sangat suka bermain di apotek.Syaina sering melakukan story telling tentang jual beli.Perhatiannya tertuju pada susu ibu hamil kemasan dus.Sambil bercerita syaina berimajinasi membuka kemasan.Ternyata kemasan susunya sobek dan rusak sudah.
Menghadapi situasi ini,saya mencoba tenang,sabar,tidak terburu-buru bertindak dan berbicara.Sepertinya syaina menyadari kalau caranya keliru.Langsung syaina mengucapkan kata maaf kepada saya.

Mi maaf ya,aku ngga sengaja

Rasanya terharu bercampur bangga dengan sikapnya yang berani meminta maaf dan mengakui kekeliruannya.Saya tersenyum bangga dan berkata

Iya,umi maafin.Besok kalau mau main susu lagi hati-hati yah.


#hari8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Selasa, 31 Januari 2017

Komunikasi Produktif (Hari ke-7)

Hikmah tantrum 


Selasa,31 Januari 2017


Pagi-pagi sudah mendapati anak tantrum.Berawal saat saya dan nenek syaina berbeda pendapat ketika neneknya memperbolehkan syaina BAK di sembarang tempat (dibelakang rumah) bukan di toilet.Sedangkan saya sedang konsisten melatih anak training toilet untuk konsisten BAB/BAK di toilet dan mengenalkan adab BAB/BAK.Saat saya melihat neneknya memperbolehkan syaina BAK di belakang rumah saya langsung menegur nenek syaina dan menuntun anak BAK di toilet.Sepertinya tindakan saya yang spontan dan cara komunikasi saya yang kurang tepat membuat syaina bingung dan menjadi pemicu tantrumnya di pagi hari.

Saat anak tantrum saya hanya fokus menangani syaina yang sedang tantrum.Berdasarkan pengalaman saya beberapa waktu yang lalu,saat syaina tantrum segala bentuk komunikasi apapun seperti nasehat,belaian tidak dapat diterima anak.Saat itu saya memilih untuk tenang,sabar, diam dan terlihat cuek tetapi tetap mengawasi tingkah laku syaina.Saya biarkan syaina menangis dan memberikan ruang untuk mengeluarkan perasaannya.Sesekali berkata "umi disini ya,tungguin syaina selesai menangis".

Alhamdulillah syaina berhenti menangis.Setelah itu baru saya tawarkan susu kesukaannya dan saya temani syaina meminum susu.

Choose the right time.Setelah tenang dan situasi kondusif saya meminta maaf atas tindakan saya yang memicu tantrum,mulai bertanya dan memberikan nasehat kepadanya.

Maafin umi ya....
Syaina kenapa menangis?
Syaina bingung ya harus pipis dimana?uti bilang diluar tapi umi bilang di kamar mandi ya.

Syaina tidak menjawab,mungkin masih lelah setelah tantrum dan berusaha menenangkan diri.Saya berikan jeda dan melanjutkan berbicara kepada syaina


Malu dan bau pesing yah pipis sembarangan.
Yuk pipis sama umi di kamar mandi
Umi seneng kalau syaina pinter pipis di kamar mandi.


Beberapa saat kemudian syaina mengajak saya ke toilet untuk BAK dan berkata:
Aku pipisnya di kamar mandi 
Malu yah mi pipis di luar
Nanti bau pesing.


Lega rasanya mendengar kata-kata tersebut.Itu artinya komunikasi saya dengan syaina berhasil.Syaina mampu memahami pesan yang saya sampaikan.Yes yes....

Setelah itu saya mulai membuat catatan evaluasi atas tindakan saya.
1. Mencari penyebab syaina tantrum
Hal-hal yang menyebabkan anak tantrum adalah
  • memiliki kebiasaan tidur, makan dan BAB tidak teratur
  • Sulit menyukai situasi,makanan dan orang-orang baru
  • Lambat beradaptasi dengan perubahan
  • Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif
  • Mudah terprovokasi,gampang merasa marah atau kesal
  • Sulit dialihkan perhatiannya
Jelas sudah penyebab syaina tantrum ternyata ada rasa bingung karena saya dan neneknya mengatur tindakannya. Neneknya memperbolehkan syaina BAK di belakang rumah sedangkan saya tidak mengijinkan BAK di sembarangan tempat kecuali toilet.Seharusnya perbedaan pendapat antara saya dan nenek syaina tidak dilakukan didepan anak agar tidak menimbulkan kebingungan terhadap sikap kami.Kami harus menyamakan persepsi terlebih dahulu dan bersikap konsisten. Selain itu pola tidur,pola makan dan pola BAB syaina sedang tidak teratur sehingga mood syaina menjadi negatif.Menjaga mood anak adalah penting.

2. Meminimalisir penyebab tantrum

3. Fokus ke depan bukan masa lalu.Fokus mencari solusi bukan pada masalah.Tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi tantrum dibagi menjadi tiga bagian yaitu tindakan untuk mencegah terjadinya tantrum,tindakan untuk menangani anak saat mengalami tantrum dan tindakan untuk menangani anak pasca tantrum.Ternyata kekeliruan saya adalah saya menjadi faktor pemicu terjadinya tantrum pada syaina.Lagi lagi karena komunikasi yang tidak produktif dan menginginkan anak segera mengikuti perkataan saya.

4. Siapkan fisik dan mental saat menghadapi syaina tantrum.Tenang,sabar dan bersikap konsisten





#hari7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Sumber bacaan:

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_

Senin, 30 Januari 2017

Komunikasi Produktif (Hari ke-6)

Belajar mengontrol diri dan berkata positif


Senin,30 Januari 2017

Belajar memperbaiki diri dalam berkomunikasi dengan syaina adalah tantangan bagi saya.Ketika dihadapkan dengan sikap syaina yang unik,kata-kata positif seringkali mental dan loss control.Fokus pada masalah bukan pada solusi.Saya sedang dalam proses belajar mengontrol diri dalam berkata dan bertindak.

Beberapa catatan untuk saya adalah
  1. Menghindari kata "jangan/tidak boleh".Prinsipnya semua boleh asal tidak bertentangan dengan aqidah dan tidak mengancam jiwa atau keselamatan.Sebagai fasilitator,saya wajib memberikan kesempatan syaina mencoba,mengamati dan mengawasi kegiatannya.
  2. Tidak melabeli anak dengan sering mengatakan nakal/rewel.Prinsipnya tidak ada anak yang nakal/rewel tetapi ada keinginan anak yang belum dapat diungkapkan dengan jelas pada saya.
  3. Tidak membenturkan sifat/sikap anak dengan adab buruk.Misalnya mengganti memanggil si cerewet dan diubah dengan panggilan si presenter.
  4.  Tidak mematikan intellectual curiosity syaina dengan mengatakan "Tidak tahu" pada sesuatu yang menjadi objek belajarnya.Biasanya saya ajak mencari tahu lewat buku/video/media lainnya.
  5. Berlatih untuk tidak berbicara dengan intonasi tinggi kepada syaina.
  6. Tidak mengancam anak dan memaksa menuruti kemauan saya tanpa menghiraukan pendapatnya.
  7. Menerima apapun respon anak terhadap pesan yang saya sampaikan.Mencari cara lain agar anak lebih memahami pesan yang saya sampaikan.
  8. Tidak spontan langsung menyalahkan anak walaupun benar ananda keliru apalagi sampai menyudutkannya.Mencari waktu yang tepat untuk menasehati dan meluruskan kesalahannya.
  9. Tidak berkata bohong kepada syaina.
  10. Tidak membandingkan syaina dengan anak/orang lain.
  11. Menghindari menggegas anak.Mengganti kata "Ayo cepetan" dengan kata ajakan yang baik.Misalnya: 
Kalimat tidak produktif:
Ayo cepetan mandi (nada suara menggegas) 

Diganti dengan:
yuk mandi,umi seneng kalau syaina rajin mandi.Wangi,bersih dan cantik (ekspresi wajah senyum dan intonasi suara lembut,kontak mata dengan anak dan mensejajarkan dengan tinggi badan anak)

12. Mengubah kata "TIDAK BISA" menjadi "BISA".Mencoba terus menumbuhkan   rasa percaya diri pada syaina,menurut saya penting.

Ketika syaina berkata
Mi,aku tidak bisa gunting

Saat itu saya harus meyakinkan syaina bahwa ananda pasti bisa melakukannya.
Syaina bisa,yuk dicoba lagi

Moment ketika syaina berhasil menggunting kemasan obat dan menata dalam wadah.


#hari6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Minggu, 29 Januari 2017

Komunikasi Produktif (Hari ke-5)

Tantangan 10 hari berkomunikasi produktif



Minggu,29 Januari 2017

Salah satu kebiasaan syaina adalah senang bermain di apotek.Semua barang yang ada di apotek dijadikan bahan eksplorasinya.Hari ini syaina tertarik dengan bongkar pasang botol susu.Hasilnya botol susu dan komponen-komponennya berserakan di lantai.Pikiran saya mulai dihantui kekhawatiran:

Aduh nanti kalau rusak bagaimana yah?kan barang dagangan ini
Aduh berantakan banget yah
Bla bla bla....

Tenangkan diri,ambil nafas,istighfar dan tidak terburu-buru berbicara dan bertindak.Berpikir dan utamakan nalar bukan emosi dan mulai memberikan respon secukupnya dan tidak berlebihan.

Negosiasi dan komunikasikan dengan anak dilakukan untuk merapikan kembali botol susu yang berserakan di lantai dan mengembalikan ke tempat semula.Penting dan harus diingat adalah cara komunikasinya harus produktif.Saya pakai prinsip Keep Information Short and Simple (KISS) dan mengungkapkan apa yang menjadi harapan saya:

Umi seneng kalau botol susunya rapi dan disimpen lagi ketempatnya
Yuk rapiin sama-sama.

Setelah saya mencoba berkomunikasi dengan syaina,tara.....

Aksi syaina menyusun komponen botol susu

Syaina berhasil memberikan kejutan kepada saya,bagaimana ananda menyusun kembali komponen-komponen botol susu dengan urut dan benar tanpa saya ajarkan.

Awalnya saya khawatir jika barang dagangan saya dijadikan objek belajar syaina.Sesekali saya larang karena barang yang digunakan untuk eksplorasinya sampai rusak karena sobek atau pecah.Saya harus mencari ide bagaimana agar intellectual curiosity syaina tidak hilang tetapi barang di apotek tidak rusak dan berantakan.Bagaimana harus fokus pada solusi,bukan pada masalah.

Kuncinya adalah komunikasi produktif.Bebebapa cara komunikasi saya adalah
  1. Berkomunikasi lisan langsung dengan syaina tidak on the spot dan tidak menghentikan tindakannya secara frontal dengan cara "short cut" walaupun tindakannya memang keliru (saya tahu bahwa syaina sedang dalam masa egosentris).Berkomunikasi dengan cara mensejajarkan tubuh saya dengan tinggi badan anak serta menatap mata syaina saat berkomunikasi.
  2. Membacakan buku/mendongeng tentang merapikan mainan dan merawat mainan.
  3. Choose the right time yaitu saat menjelang tidur atau saat suasana hati anak kondusif misalnya saat anak sedang senang.Memilih waktu yang tepat untuk berkomunikasi adalah penting agar anak lebih mudah memahami pesan yang saya sampaikan.Saya sounding tentang indahnya menjaga barang-barang diapotek dengan intonasi suara yang lembut dan ekspresi wajah penuh senyum.Sabar dan mencari cara lain jika syaina belum memahami ucapan saya,karena i'm responsible for  my communication results.
  4. Saya memberikan rambu-rambu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh mengingat barang di apotek tidak semuanya ramah dengan anak misalnya menghindari barang mudah terbakar.

Seiring dengan berjalannya waktu,saya lebih rileks membersamai syaina bermain di apotek.Saya biarkan syaina bermain,bereksplorasi dan berimajinasi dengan barang-barang di apotek tentu dalam pengawasan saya.


#hari5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Sabtu, 28 Januari 2017

Komunikasi Produktif (Hari ke-4)

Tantangan 10 hari berkomunikasi produktif



Sabtu,28 Januari 2017

Kurangnya pemahaman bahwa kami memiliki FoR dan FoE yang berbeda membuat saya dan suami terkadang berselisih paham.Yang sering terjadi adalah *MEMAKSAKAN* pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Menurut umi,abi harus begini begitu
Menurut abi,umi harus begini begitu 
Bla bla bla

Bila suhu diantara kami sedang naik biasanya saya dan suami memilih untuk diam sejenak,saling berpikir dan introspeksi diri.Hal ini untuk menghindari emosi tinggi yang dapat menurunkan nalar kami sehingga tidak berkata dan bertindak yang tidak perlu.

Setelah masing-masing dari kami berpikir dan memutuskan tindakan.Kami biasanya memilih waktu-waktu yang tepat untuk berbicara (Choose the right time) yaitu menjelang tidur malam saat suasana sudah hening,kondisi pikiran dan fisik kami yang sudah tenang.Kami mulai berdiskusi, mengalirkan rasa,menjelaskan dan saling mengkoreksi/mengklarifikasi.Mencoba mencari titik tengah dari pendapat masing-masing.Biasanya setelah semuanya clear,berakhir dengan permohonan maaf.

Ketika kami tidak bisa berkomunikasi langsung,kami memilih untuk menuangkan rasa melalui tulisan lewat handphone atau menulis di selembar kertas.

Bentuk komunikasi abi 

Jumat, 27 Januari 2017

Komunikasi produktif (hari ke-3)

Tantangan 10 hari berkomunikasi produktif


Jum'at,27 Januari 2017

Hari ini adalah hari yang full aktivitas.Check list kegiatan sudah dibuat dan menanti untuk dicheck point satu per satu.Tantangannya adalah kepatuhan terhadap manajemen waktu yang telah dibuat.Bakat maximizer yang terkadang membuat diri saya lupa untuk mematuhi kandang waktu yang telah diberikan pada tiap-tiap kegiatan.

Aktifitas diapotek yang mengambil bagian waktu paling banyak.Karena beberapa kegiatan diapotek ini masuk kategori tidak penting mendesak artinya jika tidak segera diselesaikan akan muncul masalah (baca:tantangan) baru.Hal ini membuat syaina merasa tercuri waktunya bersama saya.Saya merasakan waktu dengan anak bukan lagi waktu bersama anak.Fisik saya hadir didekat anak tetapi hati dan pikiran saya fokus pada kegiatan lain.

Hohoho....beberapa insiden terjadi.Disela-sela kegiatan saya di apotek,Syaina meminta saya membuat playdough bersama dengannya.Tantangan lagi ini yah....Iklan dulu membuat playdough.

Awalnya saya tenang dan menikmati setahap demi setahap membuat playdpugh. Saat suatu titik komunikasi saya tidak produktif dengan syaina.Semua bahan-bahan membuat playdough (tepung,baby oil,garam,air,dll) tercecer dimana-mana termasuk baju saya yang dijadikan lap oleh syaina.Dipicu oleh otak yang lagi full (hehehe memikirkan pekerjaan di apotek yang masih banyak dan belum selesai),memicu ekspresi muka yang asam dan ego diri berdesakan dan meletup-letup.Tambah keruh lagi otak dan mata saya saat melihat pemandangan mainan milik syaina yang berantakan diman-mana.
Sinyal emosi saya tertangkap mata oleh suami.Saya diam tanpa kata.

Untungnya saya ingat materi kuliah kelas bunda sayang yang masih hangat dan ada tantangan didalamnya.

"Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI.Bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi."


Jangan sampai saya meluapkan emosi (marah) saya di sembarang tempat,diwaktu yang tidak tepat dan pada orang yang tidak tepat.

Pilihan saya saat itu adalah diam,menenangkan diri,flashback atas tindakan saya yang tadi.Choose the right time.

Saat sudah tenang dan kondusif saya mulai berpikir untuk tindakan berikutnya yaitu mencoba terus rileks dan membersamai anak.Kebetulan syaina meminta saya untuk bermain mengecek gula darah dan tensi.Meminta saya untuk memakai alat cek gula darah lengkap dengan sticknya.Karena alat cek gula darah dan stick gulanya yang rawan rusak,saya tidak memberikan izin kepada syaina untuk menggunakannya lebih lama.Tapi syaina terus meminta untuk memainkannya.Saya tidak boleh membatasi keinginannya berimajinasi tetapi saya juga tidak bisa membiarkan alat cek gula saya jadi bahan observasinya terus-menerus karena rawan rusak.Disaat otak lagi full seat,tiba-tiba muncul ide membuatkan mainan cek gula darah untuk syaina.Saya ajak syaina dengan semangat tinggi membuat mainan cek gula darah dari bahan kardus bekas untuknya.Saya buat dengan sepenuh hati,pikiran sudah tenang dan akhirnya selesai.
Tara mainan cek gula darahnya sudah siap.
Langsung saja saya ajak syaina untuk berimajinasi lagi.Hore alhamdulilah syaina suka dan senang.Terlihat dari ekspresi muka syaina yang tersenyum dan menikmati proses bermainnya menggunakan alat cek gula darah buatan uminya.

Syaina berimajinasi melakukan cek gula darah

Sampai akhirnya syaina lelah bermain dan tertidur.Rasanya lega,senang dan hilang semua beban pikiran diotak saya.Saya lebih rileks dan melanjutkan beberapa pekerjaan saya diapotek yang sempat tertunda.Alhamdulillah.....

Kemudian saya mencoba menuliskan diselembar kertas tentang evaluasi diri atas beberapa tindakan saya hari ini.


Langsung terapkan kaidah 2C (Clear dan Clarify) atas tindakan saya kepada abi.Lega rasanya sudah meminta maaf kepada syaina dan abi atas tindakan saya hari ini.Bantu umi untuk terus memperbaiki diri dan terus berlatih ya....SEMANGAT!!


#hari3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktuf
#kuliahbunsayiip

Rabu, 25 Januari 2017

Komunikasi Produktif(Hari ke-2)

Tantangan 10 hari berkomunikasi produktif


Kamis,26 Januari 2017

Saat syaina sedang bermain sepeda di tanah yang tidak rata.Roda sepeda bagian belakang tidak menyentuh tanah,membuat sepeda syaina tidak bisa jalan.Syaina ingin langsung dibantu saya.

Syaina:Mi tolong sepedanya didorong.Sepedanya ngga bisa jalan.
Umi: Bisa,syaina bisa insya allah.Bismillah dulu yuk
Syaina:Ngga bisa mi (sambil mencoba menggenjot sepedanya)
Umi:Bismillah bisa....Ayo coba di genjot sepedanya.
Sambil terus mecoba menggenjot sepedanya...
Setelah beberapa saat mencoba,Akhirnya sepedanya bisa jalan
Hore....sampai finish.

Memberikan kata-kata positif ternyata memberikan energi positif.Ketika saya berkata "BISA" dan terus memberikan semangat, alhamdulilah ada feedback positif dari syaina.Ada energi positif yang muncul dan memberikan semangat berusaha untuk "BISA".


#hari2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip