Selasa, 31 Januari 2017

Komunikasi Produktif (Hari ke-7)

Hikmah tantrum 


Selasa,31 Januari 2017


Pagi-pagi sudah mendapati anak tantrum.Berawal saat saya dan nenek syaina berbeda pendapat ketika neneknya memperbolehkan syaina BAK di sembarang tempat (dibelakang rumah) bukan di toilet.Sedangkan saya sedang konsisten melatih anak training toilet untuk konsisten BAB/BAK di toilet dan mengenalkan adab BAB/BAK.Saat saya melihat neneknya memperbolehkan syaina BAK di belakang rumah saya langsung menegur nenek syaina dan menuntun anak BAK di toilet.Sepertinya tindakan saya yang spontan dan cara komunikasi saya yang kurang tepat membuat syaina bingung dan menjadi pemicu tantrumnya di pagi hari.

Saat anak tantrum saya hanya fokus menangani syaina yang sedang tantrum.Berdasarkan pengalaman saya beberapa waktu yang lalu,saat syaina tantrum segala bentuk komunikasi apapun seperti nasehat,belaian tidak dapat diterima anak.Saat itu saya memilih untuk tenang,sabar, diam dan terlihat cuek tetapi tetap mengawasi tingkah laku syaina.Saya biarkan syaina menangis dan memberikan ruang untuk mengeluarkan perasaannya.Sesekali berkata "umi disini ya,tungguin syaina selesai menangis".

Alhamdulillah syaina berhenti menangis.Setelah itu baru saya tawarkan susu kesukaannya dan saya temani syaina meminum susu.

Choose the right time.Setelah tenang dan situasi kondusif saya meminta maaf atas tindakan saya yang memicu tantrum,mulai bertanya dan memberikan nasehat kepadanya.

Maafin umi ya....
Syaina kenapa menangis?
Syaina bingung ya harus pipis dimana?uti bilang diluar tapi umi bilang di kamar mandi ya.

Syaina tidak menjawab,mungkin masih lelah setelah tantrum dan berusaha menenangkan diri.Saya berikan jeda dan melanjutkan berbicara kepada syaina


Malu dan bau pesing yah pipis sembarangan.
Yuk pipis sama umi di kamar mandi
Umi seneng kalau syaina pinter pipis di kamar mandi.


Beberapa saat kemudian syaina mengajak saya ke toilet untuk BAK dan berkata:
Aku pipisnya di kamar mandi 
Malu yah mi pipis di luar
Nanti bau pesing.


Lega rasanya mendengar kata-kata tersebut.Itu artinya komunikasi saya dengan syaina berhasil.Syaina mampu memahami pesan yang saya sampaikan.Yes yes....

Setelah itu saya mulai membuat catatan evaluasi atas tindakan saya.
1. Mencari penyebab syaina tantrum
Hal-hal yang menyebabkan anak tantrum adalah
  • memiliki kebiasaan tidur, makan dan BAB tidak teratur
  • Sulit menyukai situasi,makanan dan orang-orang baru
  • Lambat beradaptasi dengan perubahan
  • Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif
  • Mudah terprovokasi,gampang merasa marah atau kesal
  • Sulit dialihkan perhatiannya
Jelas sudah penyebab syaina tantrum ternyata ada rasa bingung karena saya dan neneknya mengatur tindakannya. Neneknya memperbolehkan syaina BAK di belakang rumah sedangkan saya tidak mengijinkan BAK di sembarangan tempat kecuali toilet.Seharusnya perbedaan pendapat antara saya dan nenek syaina tidak dilakukan didepan anak agar tidak menimbulkan kebingungan terhadap sikap kami.Kami harus menyamakan persepsi terlebih dahulu dan bersikap konsisten. Selain itu pola tidur,pola makan dan pola BAB syaina sedang tidak teratur sehingga mood syaina menjadi negatif.Menjaga mood anak adalah penting.

2. Meminimalisir penyebab tantrum

3. Fokus ke depan bukan masa lalu.Fokus mencari solusi bukan pada masalah.Tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi tantrum dibagi menjadi tiga bagian yaitu tindakan untuk mencegah terjadinya tantrum,tindakan untuk menangani anak saat mengalami tantrum dan tindakan untuk menangani anak pasca tantrum.Ternyata kekeliruan saya adalah saya menjadi faktor pemicu terjadinya tantrum pada syaina.Lagi lagi karena komunikasi yang tidak produktif dan menginginkan anak segera mengikuti perkataan saya.

4. Siapkan fisik dan mental saat menghadapi syaina tantrum.Tenang,sabar dan bersikap konsisten





#hari7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Sumber bacaan:

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_

Senin, 30 Januari 2017

Komunikasi Produktif (Hari ke-6)

Belajar mengontrol diri dan berkata positif


Senin,30 Januari 2017

Belajar memperbaiki diri dalam berkomunikasi dengan syaina adalah tantangan bagi saya.Ketika dihadapkan dengan sikap syaina yang unik,kata-kata positif seringkali mental dan loss control.Fokus pada masalah bukan pada solusi.Saya sedang dalam proses belajar mengontrol diri dalam berkata dan bertindak.

Beberapa catatan untuk saya adalah
  1. Menghindari kata "jangan/tidak boleh".Prinsipnya semua boleh asal tidak bertentangan dengan aqidah dan tidak mengancam jiwa atau keselamatan.Sebagai fasilitator,saya wajib memberikan kesempatan syaina mencoba,mengamati dan mengawasi kegiatannya.
  2. Tidak melabeli anak dengan sering mengatakan nakal/rewel.Prinsipnya tidak ada anak yang nakal/rewel tetapi ada keinginan anak yang belum dapat diungkapkan dengan jelas pada saya.
  3. Tidak membenturkan sifat/sikap anak dengan adab buruk.Misalnya mengganti memanggil si cerewet dan diubah dengan panggilan si presenter.
  4.  Tidak mematikan intellectual curiosity syaina dengan mengatakan "Tidak tahu" pada sesuatu yang menjadi objek belajarnya.Biasanya saya ajak mencari tahu lewat buku/video/media lainnya.
  5. Berlatih untuk tidak berbicara dengan intonasi tinggi kepada syaina.
  6. Tidak mengancam anak dan memaksa menuruti kemauan saya tanpa menghiraukan pendapatnya.
  7. Menerima apapun respon anak terhadap pesan yang saya sampaikan.Mencari cara lain agar anak lebih memahami pesan yang saya sampaikan.
  8. Tidak spontan langsung menyalahkan anak walaupun benar ananda keliru apalagi sampai menyudutkannya.Mencari waktu yang tepat untuk menasehati dan meluruskan kesalahannya.
  9. Tidak berkata bohong kepada syaina.
  10. Tidak membandingkan syaina dengan anak/orang lain.
  11. Menghindari menggegas anak.Mengganti kata "Ayo cepetan" dengan kata ajakan yang baik.Misalnya: 
Kalimat tidak produktif:
Ayo cepetan mandi (nada suara menggegas) 

Diganti dengan:
yuk mandi,umi seneng kalau syaina rajin mandi.Wangi,bersih dan cantik (ekspresi wajah senyum dan intonasi suara lembut,kontak mata dengan anak dan mensejajarkan dengan tinggi badan anak)

12. Mengubah kata "TIDAK BISA" menjadi "BISA".Mencoba terus menumbuhkan   rasa percaya diri pada syaina,menurut saya penting.

Ketika syaina berkata
Mi,aku tidak bisa gunting

Saat itu saya harus meyakinkan syaina bahwa ananda pasti bisa melakukannya.
Syaina bisa,yuk dicoba lagi

Moment ketika syaina berhasil menggunting kemasan obat dan menata dalam wadah.


#hari6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Minggu, 29 Januari 2017

Komunikasi Produktif (Hari ke-5)

Tantangan 10 hari berkomunikasi produktif



Minggu,29 Januari 2017

Salah satu kebiasaan syaina adalah senang bermain di apotek.Semua barang yang ada di apotek dijadikan bahan eksplorasinya.Hari ini syaina tertarik dengan bongkar pasang botol susu.Hasilnya botol susu dan komponen-komponennya berserakan di lantai.Pikiran saya mulai dihantui kekhawatiran:

Aduh nanti kalau rusak bagaimana yah?kan barang dagangan ini
Aduh berantakan banget yah
Bla bla bla....

Tenangkan diri,ambil nafas,istighfar dan tidak terburu-buru berbicara dan bertindak.Berpikir dan utamakan nalar bukan emosi dan mulai memberikan respon secukupnya dan tidak berlebihan.

Negosiasi dan komunikasikan dengan anak dilakukan untuk merapikan kembali botol susu yang berserakan di lantai dan mengembalikan ke tempat semula.Penting dan harus diingat adalah cara komunikasinya harus produktif.Saya pakai prinsip Keep Information Short and Simple (KISS) dan mengungkapkan apa yang menjadi harapan saya:

Umi seneng kalau botol susunya rapi dan disimpen lagi ketempatnya
Yuk rapiin sama-sama.

Setelah saya mencoba berkomunikasi dengan syaina,tara.....

Aksi syaina menyusun komponen botol susu

Syaina berhasil memberikan kejutan kepada saya,bagaimana ananda menyusun kembali komponen-komponen botol susu dengan urut dan benar tanpa saya ajarkan.

Awalnya saya khawatir jika barang dagangan saya dijadikan objek belajar syaina.Sesekali saya larang karena barang yang digunakan untuk eksplorasinya sampai rusak karena sobek atau pecah.Saya harus mencari ide bagaimana agar intellectual curiosity syaina tidak hilang tetapi barang di apotek tidak rusak dan berantakan.Bagaimana harus fokus pada solusi,bukan pada masalah.

Kuncinya adalah komunikasi produktif.Bebebapa cara komunikasi saya adalah
  1. Berkomunikasi lisan langsung dengan syaina tidak on the spot dan tidak menghentikan tindakannya secara frontal dengan cara "short cut" walaupun tindakannya memang keliru (saya tahu bahwa syaina sedang dalam masa egosentris).Berkomunikasi dengan cara mensejajarkan tubuh saya dengan tinggi badan anak serta menatap mata syaina saat berkomunikasi.
  2. Membacakan buku/mendongeng tentang merapikan mainan dan merawat mainan.
  3. Choose the right time yaitu saat menjelang tidur atau saat suasana hati anak kondusif misalnya saat anak sedang senang.Memilih waktu yang tepat untuk berkomunikasi adalah penting agar anak lebih mudah memahami pesan yang saya sampaikan.Saya sounding tentang indahnya menjaga barang-barang diapotek dengan intonasi suara yang lembut dan ekspresi wajah penuh senyum.Sabar dan mencari cara lain jika syaina belum memahami ucapan saya,karena i'm responsible for  my communication results.
  4. Saya memberikan rambu-rambu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh mengingat barang di apotek tidak semuanya ramah dengan anak misalnya menghindari barang mudah terbakar.

Seiring dengan berjalannya waktu,saya lebih rileks membersamai syaina bermain di apotek.Saya biarkan syaina bermain,bereksplorasi dan berimajinasi dengan barang-barang di apotek tentu dalam pengawasan saya.


#hari5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Sabtu, 28 Januari 2017

Komunikasi Produktif (Hari ke-4)

Tantangan 10 hari berkomunikasi produktif



Sabtu,28 Januari 2017

Kurangnya pemahaman bahwa kami memiliki FoR dan FoE yang berbeda membuat saya dan suami terkadang berselisih paham.Yang sering terjadi adalah *MEMAKSAKAN* pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Menurut umi,abi harus begini begitu
Menurut abi,umi harus begini begitu 
Bla bla bla

Bila suhu diantara kami sedang naik biasanya saya dan suami memilih untuk diam sejenak,saling berpikir dan introspeksi diri.Hal ini untuk menghindari emosi tinggi yang dapat menurunkan nalar kami sehingga tidak berkata dan bertindak yang tidak perlu.

Setelah masing-masing dari kami berpikir dan memutuskan tindakan.Kami biasanya memilih waktu-waktu yang tepat untuk berbicara (Choose the right time) yaitu menjelang tidur malam saat suasana sudah hening,kondisi pikiran dan fisik kami yang sudah tenang.Kami mulai berdiskusi, mengalirkan rasa,menjelaskan dan saling mengkoreksi/mengklarifikasi.Mencoba mencari titik tengah dari pendapat masing-masing.Biasanya setelah semuanya clear,berakhir dengan permohonan maaf.

Ketika kami tidak bisa berkomunikasi langsung,kami memilih untuk menuangkan rasa melalui tulisan lewat handphone atau menulis di selembar kertas.

Bentuk komunikasi abi 

Jumat, 27 Januari 2017

Komunikasi produktif (hari ke-3)

Tantangan 10 hari berkomunikasi produktif


Jum'at,27 Januari 2017

Hari ini adalah hari yang full aktivitas.Check list kegiatan sudah dibuat dan menanti untuk dicheck point satu per satu.Tantangannya adalah kepatuhan terhadap manajemen waktu yang telah dibuat.Bakat maximizer yang terkadang membuat diri saya lupa untuk mematuhi kandang waktu yang telah diberikan pada tiap-tiap kegiatan.

Aktifitas diapotek yang mengambil bagian waktu paling banyak.Karena beberapa kegiatan diapotek ini masuk kategori tidak penting mendesak artinya jika tidak segera diselesaikan akan muncul masalah (baca:tantangan) baru.Hal ini membuat syaina merasa tercuri waktunya bersama saya.Saya merasakan waktu dengan anak bukan lagi waktu bersama anak.Fisik saya hadir didekat anak tetapi hati dan pikiran saya fokus pada kegiatan lain.

Hohoho....beberapa insiden terjadi.Disela-sela kegiatan saya di apotek,Syaina meminta saya membuat playdough bersama dengannya.Tantangan lagi ini yah....Iklan dulu membuat playdough.

Awalnya saya tenang dan menikmati setahap demi setahap membuat playdpugh. Saat suatu titik komunikasi saya tidak produktif dengan syaina.Semua bahan-bahan membuat playdough (tepung,baby oil,garam,air,dll) tercecer dimana-mana termasuk baju saya yang dijadikan lap oleh syaina.Dipicu oleh otak yang lagi full (hehehe memikirkan pekerjaan di apotek yang masih banyak dan belum selesai),memicu ekspresi muka yang asam dan ego diri berdesakan dan meletup-letup.Tambah keruh lagi otak dan mata saya saat melihat pemandangan mainan milik syaina yang berantakan diman-mana.
Sinyal emosi saya tertangkap mata oleh suami.Saya diam tanpa kata.

Untungnya saya ingat materi kuliah kelas bunda sayang yang masih hangat dan ada tantangan didalamnya.

"Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI.Bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi."


Jangan sampai saya meluapkan emosi (marah) saya di sembarang tempat,diwaktu yang tidak tepat dan pada orang yang tidak tepat.

Pilihan saya saat itu adalah diam,menenangkan diri,flashback atas tindakan saya yang tadi.Choose the right time.

Saat sudah tenang dan kondusif saya mulai berpikir untuk tindakan berikutnya yaitu mencoba terus rileks dan membersamai anak.Kebetulan syaina meminta saya untuk bermain mengecek gula darah dan tensi.Meminta saya untuk memakai alat cek gula darah lengkap dengan sticknya.Karena alat cek gula darah dan stick gulanya yang rawan rusak,saya tidak memberikan izin kepada syaina untuk menggunakannya lebih lama.Tapi syaina terus meminta untuk memainkannya.Saya tidak boleh membatasi keinginannya berimajinasi tetapi saya juga tidak bisa membiarkan alat cek gula saya jadi bahan observasinya terus-menerus karena rawan rusak.Disaat otak lagi full seat,tiba-tiba muncul ide membuatkan mainan cek gula darah untuk syaina.Saya ajak syaina dengan semangat tinggi membuat mainan cek gula darah dari bahan kardus bekas untuknya.Saya buat dengan sepenuh hati,pikiran sudah tenang dan akhirnya selesai.
Tara mainan cek gula darahnya sudah siap.
Langsung saja saya ajak syaina untuk berimajinasi lagi.Hore alhamdulilah syaina suka dan senang.Terlihat dari ekspresi muka syaina yang tersenyum dan menikmati proses bermainnya menggunakan alat cek gula darah buatan uminya.

Syaina berimajinasi melakukan cek gula darah

Sampai akhirnya syaina lelah bermain dan tertidur.Rasanya lega,senang dan hilang semua beban pikiran diotak saya.Saya lebih rileks dan melanjutkan beberapa pekerjaan saya diapotek yang sempat tertunda.Alhamdulillah.....

Kemudian saya mencoba menuliskan diselembar kertas tentang evaluasi diri atas beberapa tindakan saya hari ini.


Langsung terapkan kaidah 2C (Clear dan Clarify) atas tindakan saya kepada abi.Lega rasanya sudah meminta maaf kepada syaina dan abi atas tindakan saya hari ini.Bantu umi untuk terus memperbaiki diri dan terus berlatih ya....SEMANGAT!!


#hari3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktuf
#kuliahbunsayiip

Kamis, 26 Januari 2017

Komunikasi produktif

_Institut Ibu Profesional_
_Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1_

*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

*_KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI_*

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

*_Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir_*

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

_Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda_

Kata  *masalah* gantilah dengan *tantangan*

Kata *Susah* gantilah dengan *Menarik*

Kata *Aku tidak tahu* gantilah *Ayo kita cari tahu*

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.


Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.


*_Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya_*


Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.


 Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.


*_KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN_*

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.


 Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.


Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki *_Frame of Reference (FoR)_* dan *_Frame of Experience (FoE)_* yang berbeda dengan kita.


FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.


FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.


FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.


Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.


Komunikasi dilakukan untuk *MEMBAGIKAN* yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.


*_Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA_*


 Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.


Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi *MEMAKSAKAN* pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.


Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; *_bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi_*


Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.


Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.


Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.


Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.


Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:


1. *Kaidah 2C: Clear and Clarify*

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.


Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.


2. *Choose the Right Time*

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.


3. *Kaidah 7-38-55*

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.


Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. *Intensity of Eye Contact*

Pepatah mengatakan _mata adalah jendela hati_


Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.


5. *Kaidah: I'm responsible for my communication results*

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.


Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.

*KOMUNIKASI DENGAN ANAK*

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

*_Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy_*


Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. *Keep Information Short & Simple (KISS)*

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.


✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. *Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah*

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  *Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  *Fokus ke depan, bukan masa lalu*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. *Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”*

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. *Fokus pada solusi bukan pada masalah*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.


g. *Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan*

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. *Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman*

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. *Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. *Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati*

⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. *Ganti perintah dengan pilihan*

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat



Salam Ibu Profesional,


/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
_Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000_

_Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015_


_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_


_Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari_





Rabu, 25 Januari 2017

Komunikasi Produktif(Hari ke-2)

Tantangan 10 hari berkomunikasi produktif


Kamis,26 Januari 2017

Saat syaina sedang bermain sepeda di tanah yang tidak rata.Roda sepeda bagian belakang tidak menyentuh tanah,membuat sepeda syaina tidak bisa jalan.Syaina ingin langsung dibantu saya.

Syaina:Mi tolong sepedanya didorong.Sepedanya ngga bisa jalan.
Umi: Bisa,syaina bisa insya allah.Bismillah dulu yuk
Syaina:Ngga bisa mi (sambil mencoba menggenjot sepedanya)
Umi:Bismillah bisa....Ayo coba di genjot sepedanya.
Sambil terus mecoba menggenjot sepedanya...
Setelah beberapa saat mencoba,Akhirnya sepedanya bisa jalan
Hore....sampai finish.

Memberikan kata-kata positif ternyata memberikan energi positif.Ketika saya berkata "BISA" dan terus memberikan semangat, alhamdulilah ada feedback positif dari syaina.Ada energi positif yang muncul dan memberikan semangat berusaha untuk "BISA".


#hari2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip




Syaina belajar tensi dan cek darah

Nama : Naura Syainala Maritza
Usia.  : 2 tahun 6bulan
Waktu kegiatan : Sabtu 31 Desember 2016 dan 8 Januari 2017.
Tempat: di apotek
Judul tulisan: Syaina belajar melakukan cek darah dan tensi darah


Awalnya saat saya melakukan sejumlah cek darah,ananda hanya melihat sambil berdiri disamping saya.Lama kelamaan ananda lebih berani dan minta duduk bersama saya untuk melihat saya melakukan cek darah.Saya pikir ananda hanya ingin melihat saja karena rasa penasarannya.Ternyata ananda mengamati prosesnya dari awal sampai akhir bagaimana urutan prosedur melakukan cek darah.
Karena jam terbang ananda melihat saya melakukan cek darah sudah semakin sering,akhirnya suatu hari ananda ingin mencoba praktek melakukan cek darah.Ananda mengambil peralatan cek darah seperti tensimeter dan seperangkat alat cek darah lainnya.Ananda sudah sangat hafal dimana saya menyimpan peralatan tersebut.
Saya adalah target pertama uji coba ananda.Saya penasaran dengan apa yang ingin ananda lakukan.Dalam hati muncul pertanyaan “Bisa atau tidak ya syaina” hayo lah dilihat saja.
Berikut tahapan cek darah versi syaina:
  1. Syaina mengambil beberapa helai kapas dan botol berisi alkohol (tidak dibuka tutup bagian dalamnya,karena cukup keras dan ananda belum bisa membukanya).
  2. Dibuka tutup bagian luar botol berisi alkohol.
  3. Kapas dibasahi dengan alkohol.
  4. Botol alkohol ditutup kembali.
  5. Mengusapkan kapas yang telah dibasahi alkohol ke jari tangan saya.Maksud ananda mungkin untuk membersihkan jari tangan terlebih dahulu.
  6. Mulai menyuntikan alat pengambil darah ke jari tangan saya (tidak ada jarum didalamnya,saya pastikan alatnya ramah dan aman untuk anak).Bunyi “cetek" keluar dari alat tersebut.Ananda sepertinya senang mendengar bunyinya.Ananda tahu jika sudah terdengar bunyi “cetek" artinya ananda sudah berhasil menyuntik.Ananda berkata “sakit ya mi?”.Saya acting saja,aduuuhhh sakit sedikit nanti sembuh yah (ekspresi wajah harus disesuaikan dengan rasa).Secara tidak langsung syaina belajar emosi “rasa sakit".
  7. Imajinasi ananda darah keluar setelah disuntik.
  8. Selesai.

Lanjut ke tensi darah….
Syaina: Mi ditesi (baca tensi) ya….
Umi.    : Iyaaa…

Tahapan tensi darah versi ananda:
  1. Memasang stetoskop dileher.(Tidak mau dipasang ditelinga karena tidak seimbang antara lubang telinga syaina dengan ujung stetoskop).
  2. Meminta lengan tangan saya dimasukkan ke dalam selubung kain bagian dari alat tensimeter.
  3. Stetoskop diletakan ke lengan atas (daerah nadi)
  4. Digulung-gulung tangannya mi…(maksud ananda lengan atas dibalut dengan selubung pada tensimeter)
  5. Mulai memompa
  6. Ceritanya ananda lagi mendengarkan tekanan sistol dan diastol.
Umi: gimana de hasilnya?
Syaina: tensinya tinggi banget yah mi
Umi: Hah masa de….

Sesekali syaina meminta saya bergantian dengannya melakukan cek darah dan tensi darah. Binar matanya menunjukkan antusias ananda.Kegiatan ini sering dilakukan berulang-ulang.
Ketertarikan ananda pada dunia medis menjadi salah satu perhatian saya untuk terus diamati.Konsisten atau hanya sesaat?Belajar untuk terus merawat fitrah diri sebagai orang tua.Semangat terus membersamai tumbuh kembang syaina.


Aspek fitrah yang ditumbuhkan:
Fitrah belajar dan nalar:syaina paham bagaimana cara melakukan cek darah dan tensi darah.
Fitrah bahasa:bisa berkomunikasi dua arah dengan lawan bicara dan memahami urutan melakukan cek darah dan tensi darah.
Fitrah jasmani:melatih motorik halus.


Ditulis oleh: Linda Kurniawati


#TDoLM_WritingChallenge
#JurnalIbuPembelajar
#Portofolio.FBE. Syaina
#Day5to7days
#Fitrah belajar,fitrah bahasa dah fitrah jasmani
#ODOPfor99days_weeks3

Mengamati sifat unik anak


Nama : Naura Syainala Maritza
Usia.  : 2,5tahun
Waktu kegiatan : Kamis,12 Januari 2017
Tempat: di apotek
Judul tulisan: Mengamati sifat unik anak melalui kegiatan berniaga.

Akhir-akhir ini syaina sangat antusias melakukan kegiatan berniaga.Entah apa yang mendorong syaina melakukan kegiatan berniaga tersebut.Mungkin karena atmosfer berniaga menjadi pemandangan syaina sehari-hari.Ya saya sedang dalam tahap observasi terkait sifat unik syaina.Terlihat matanya yang berbinar-binar,bahagia,antusias,tidak pernah merasakan bosan walaupun dilakukannya setiap hari bahkan syaina dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk kegiatan berniaga.
Berbeda ketika syaina dihadapkan pada permainan khas anak-anak seusianya seperti legio,masak-masakan,boneka,dll ananda cepat bosan dan tidak sampai berjam-jam untuk bermain permainan anak-anak tersebut.

Sejauh pengamatan saya syaina dapat melakukan beberapa tahapan berniaga secara runtut.Mulai dari menyapa dan bertanya pada setiap pengunjung yang datang,mengambil item barang yang diminta pelanggan,membungkus dengan plastik/kertas,bermain peran menghitung,mengentry ke komputer,menulis dalam buku,memberikan uang kembalian dan mengucapkan terimakasih.
Selalu antusias menanti para pelanggan datang dan meminta dirinya untuk ikut serta melayani pelanggan.
Beberapa perkataan syaina kepada saya/para pelanggan saat melakukan kegiatan berniaga:
Beli apa mba/om
Mba/om mau pilih dulu
Om haus ya ga mau diplastikin minumannya,langsung diminum?
Aku aja yang ambil obatnya
Aku aja yang bungkus,diisolasi
Dientry dulu!
Dua puluh (maksud ananda total bayar dua puluh ribu)
Ini kembaliaannya mba/om
Beli apa lagi sih
Kasihnya pakai tangan kanan?
Maturnuwun

Setelah pelanggan pergi meninggalkan apotek
Nanti ada yang datang lagi
Nanti ada yang beli lagi ya mi
Aku disini aja nungguin
(Ekspresi ananda sumringah dan antusias menunggu kedatangan para pelanggan)
Itu ada orang lagi mi,aku aja yah (setiap ada yang datang menuju apotek)

Suka melayani dan suka mengatur mungkin adalah sifat unik ananda.Apakah ini kesimpulan?belum,terlalu prematur untuk mengambil kesimpulan.Kami (saya dan suami) sedang melakukan observasi dan mendokumentasikan beberapa temuan sifat unik ananda.Terus memperbanyak aktifitas anak agar kaya wawasan.Harapan kami ketika usia 10 tahun anak sudah menemukan bakatnya.Aamiin….

Contoh lain terkait sifat melayani ananda adalah ketika saya/orang yang ananda kenal sedang makan,ananda selalu meminta dirinya menyuapi.sifat suka mengatur nampak ketika saya/ananda hendak memilih baju
Mi,aku ga mau yang ada kancingnya
Umi pakai baju yang ga ada kancingnya
Aku pakai baju yang kaya uti (sebutan untuk eyang putri)
Mi kesana mi kesini (ko ini anak ngatur banget yah,dalam hati bilang begitu).


Mengapa saya dan suami melakukan pengamatan dan dokumentasi terkait sifat unik ananda?Ini adalah bagian dari cara kami untuk berikhtiar mendidik fitrah bakat.
Karena setiap anak itu unik.Masing-masing memiliki sifat unik atau fisik unik pada usia 0-6 tahun yang dikenali sebagai bakat.
Bakat berguna untuk mencapai maksud penciptaan.Maksud penciptaan untuk menjadi Hamba Allah dan Khalifah Allah.Sudah menjadi tugas kami menemani syaina menemukan jatidirinya dan menghantarkan mereka untuk menjalani peran spesifik peradaban di dunia yang sesuai sifat uniknya dalam rangka memenuhi maksud penciptaan Allah.(Sumber: Buku FBE karya harry santosa)

قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖ  ؕ  فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا
Katakanlah (Muhammad), "Setiap orang berbuat sesuai dengan bakat pembawaannya masing-masing." Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.
[QS. Al-Isra': Ayat 84]

Percaya bahwa setiap anak memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing.Maka salah satu prinsip yang harus dipegang adalah “Fokus meninggikan gunung bukan meratakan lembah (Sumber:materi matrikulasi IIP karya Septi peni Wulandani)”.Maksudnya adalah fokus pada kekuatan anak (bakat) dan mensiasati kelemahan anak dengan cara berkolaborasi,mendelegasikan tugas,dll.


Aspek fitrah yang ditumbuhkan:
Fitrah bakat:mengenali kemungkinan sifat unik anak yaitu suka melayani dan mengatur.
Fitrah bahasa:muncul kosakata baru dan memahami urutan proses berniaga.
Fitrah jasmani: melatih motorik halus dengan memegang benda dan alat tulis,membungkus,mengitung,memindahkan benda kesuatu wadah.
Fitrah sosialitas:dapat berkomunikasi dua arah dengan orang lain.
Fitrah belajar dan nalar:rasa ingin tahu muncul dengan mengenali beberapa jenis barang dan belajar proses berniaga.

Ditulis oleh: Linda Kurniawati


#TDoLM_WritingChallenge
#JurnalIbuPembelajar
#Portofolio.FBE. Syaina
#Day4to7days
#Fitrah bakat,fitrah bahasa,fitrah jasmani,fitrah sosialitas,fitrah belajar dan nalar

Mengenal udara lewat memompa balon

Nama : Naura Syainala Maritza
Usia.  : 2,5tahun
Waktu kegiatan : Kamis,12 Januari 2017
Tempat: di rumah
Judul kegiatan: Mengenal udara lewat memompa balon.

Awalnya syaina lagi pilih-pilih mainan,ananda mengambil balon yang sudah kempes.Spontan melihat ada pompa didekatnya.Saya mengajak syaina memompa bersama.Antusias ananda memompa balonnya.Melihat balonnya yang dipompa makin lama makin besar,ananda bertanya:
Syaina:mi balonnya ga kempes lagi ya.
Umi    :iya kan sudah dipompa nak.Kenapa sih bisa besar balonnya setelah dipompa?Ada apanya dalam balon?
Syaina: Hore….(seneng sekali ananda dan langsung dimainkan balon itu).
Umi.   :pertanyaan saya belum bisa ananda jawab rasanya.saya kempesin lagi balonnya sambil saya arahkan mulut balon ke muka ananda.Buusssttt udara dalam balon keluar dan dirasakan oleh ananda.Senang sekali ada tiupan udara dan tertawa riang sambil berulang-ulang ananda memompa,mengempeskan balon dan merasakan tiupan udara dari dalam balon.
Syaina:Mi ada anginnya yah mi.
Umi   : ananda mulai tahu kalau dipompa ada udara yang masuk mengisi ruang balon.Ketika balon kempes karena diberi tekanan dari luar,udara yang awalnya mengisi ruang balon keluar dan dirasakan nyata oleh ananda.
Ternyata ananda lagi belajar ilmu fisika lewat permainan.
Umi.  :sama ya nak,ketika syaina menarik nafas ada angin (bahasa versi anak yang mudah dipahami) yang masuk ke badan syaina (paru-paru),nah pas mengeluarkan nafas anginnya keluar lagi ya nak.Syaina bisa nafas yah.Allah baik dan hebat yah nak,menciptakan angin (udara) buat kita,jadi bisa nafas ya nak.
(Anak sambil terus memainkan bolanya).Mungkin gaya belajar syaina kinestetik.


Hikmah:
Fitrah keimanan: anak mengetahui bahwa  udara adalah ciptaan Allah (belajar ayat kauniyah) dan bernafas adalah salah satu bentuk nikmat dari Allah
Fitrah belajar dan nalar:ketika balon dipompa ada udara yang mengisi ruang balon dan ketika balon kempes karena tekanan,udara dalam balon keluar.
Fitrah bahasa:ananda memahami beberapa petunjuk ketika diajak memompa balon bersama dan memahami cara menggunakan pompa yang benar.
Fitrah jasmani:memompa menjadi kegiatan olahraga untuk anak,melatih motorik halus dengan menggerakan tangan keatas kebawah.

Oleh: Linda Kurniawati

#TDoLM_WritingChallenge
#JurnalIbuPembelajar
#Portofolio.FBE. Syaina
#Day2to7days
#Fitrah keimanan, fitrah nalar dan belajar,fitrah jasmani,fitrah bahasa

Melatih syaina menabung

Nama : Naura Syainala Maritza
Usia.  : 2 tahun 6 bulan
Waktu kegiatan : Kamis,12 Januari 2016
Tempat: di rumah
Judul tulisan: Melatih syaina suka menabung

Melatih anak suka menabung adalah tantangan.Tujuannya sederhana agar anak lebih menghargai uang dan melatih kecerdasan finansial.Selain edukasi melalui buku tentang manfaat menabung,kami (saya dan suami) memiliki kebiasaan untuk melatih anak suka menabung dengan cara rutin menabung seribu rupiah per satu anggota keluarga setiap hari.Kebiasaan ini dilakukan menjelang tidur.Sebelum saya membacakan buku/dongeng pengantar tidur,kami bertiga terbiasa menabung bersama.Satu celengan untuk satu anggota keluarga.Masing-masing celengan diberi nama pemiliknya (sayang sudah disobek syaina).Terlihat mudah tetapi perlu konsistensi,motivasi dan teladan untuk terus melatih kebiasaan menabung.Kebiasaan menabung ini menjadi bagian family project yang sedang kami garap.Mudah-mudahan suatu kegiatan berbagi bisa diawali dari kebiasaan baik ini.

Percakapan pendek dengan syaina:
Umi: uangnya kenapa ditabung nak?
Syaina: ayamnya dikasih makan mi (inget saliha dibuku milik ananda)
Umi: nanti kalau sudah penuh,celengannya dibongkar ya kayak kemarin.Uangnya mau buat beli apa nak?
Syaina: beli makan mi sama buku.

Manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan ini adalah
  1. memperkuat bonding antara anak dan orang tua.
  2. Anak lebih bijak menggunakan uang
  3. Anak mengetahui untuk memperoleh sesuatu yabg diinginkan harus ada ikhtiarnya,misalnya lewat menabung.
Contoh:
Suatu saat ketika syaina diajak ke pasar,syaina melihat ada penjual balon.Awalnya ananda minta untuk dibelikan balon,padahal dirumah ananda memiliki balon dengan tipe yang sama yang baru dibelinya.Saya melihat bahwa ini bukan kebutuhan tetapi hanya keinginan saja.
Umi: Syaina lupa ya,dirumah kan masih ada balon baru beli kemarin.Balonnya sama kan dengan yang dirumah?Balon yang dirumah masih bagus.
Syaina: nanti kalau udah rusak baru beli lagi ya mi.
Umi:Iya….kan sayang uangnya,mending ditabung dulu.


Ditulis oleh: Linda Kurniawati


#TDoLM_WritingChallenge
#JurnalIbuPembelajar
#Portofolio.FBE. Syaina
#Day6to7days
#Fitrah belajar
#KuliahBunsayIIP
#Level8
#Tantangan 10Hari
#Day1
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Feedback membacakan buku kepada anak

Nama : Naura Syainala Maritza
Usia.  : 2,5tahun
Waktu kegiatan : Selasa,10 Januari 2017
Tempat: di rumah
Judul tulisan: Feedback membacakan buku kepada anak

Salah satu cara saya saat ingin mengedukasi anak adalah dengan membacakan buku menjelang tidur malam.Tujuannya bukan untuk menggegas anak cepat membaca.Saya membacakan buku untuk menasehati anak dan membuat anak mempunyai kesan mendalam dari kisah-kisah yang saya bacakan.

Salah satu contoh kasus ketika anak selesai bermain dengan kondisi mainan/buku yang berantakan.Tantangan bagi saya adalah bagaimana cara mengedukasi anak ikut serta membantu saya merapikan dan menyimpan mainan/bukunya kembali ke tempat semula. Membutuhkan energi yang cukup banyak bagi saya untuk merapikan mainan anak jika setiap selesai bermain anak terbiasa meninggalkan mainan tanpa merapikan terlebih dahulu.Saya bacakan saja buku tentang manfaat anak dapat merapikan mainannya sendiri.Sepertinya cara ini cukup efektif bagi saya dibandingkan harus on the spot menasehati anak.Alhamdulillah setiap kami selesai bermain,saya ajak merapikan dan menyimpan mainan ke tempat semula,syaina dengan muka riang membantu saya.Saya berikan pujian setiap anak berhasil menyelesaikannya (hore syaina pinter ya sambil nyanyi lagu hallo balita).

Ini sedikit percakapan kami ketika syaina berhasil membantu saya merapikan buku ke dalam container.
Ketika container yang kemarin kami beli dibuka.Anak spontan mengambil buku dalam kardus dan meletakkan dalam container.
Umi.    : lagi apa nak?
Syaina: bukunya di taruh sini ya mi.Kayak sali (nama anak dalam buku cerita) di bukunya aku(sambil nyanyi lagu hallo bilita).Aku bisa merapikan mainan sendiri,Ooo aku suka buku…..(kira-kita begitu lirik lagunya).

Contoh lain ketika saya ingin mengenalkan ciptaan Allah,sifat-sifat Allah,keteladanan rasulullah saw,indahnya islam yaitu dengan membacakan buku.Memang tidak mudah bagi saya,karena saya harus memahami lebih dahulu tentang isi cerita dan harus menyampaikan dengan cara yang mudah dipahami anak.

Manfaat yang saya dapatkan ketika rutin membacakan buku adalah
  1. Anak menjadi suka buka (anak otomatis meminta saya membacakan buku menjelang tidur)
  2. Anak menjadi senang menceritakan kembali tentang apa yang ananda liat dalam bukunya.
  3. Salah satu cara mengedukasi anak,sehingga anak mencontoh kegiatan yang ada dalam buku tanpa harus saya nasehati secara lisan.

Aspek perkembangan fitrah:
Fitrah jasmani: melatih motorik kasar anak dengan gerakan tangan dan kakinya saat merapikan buku
Fitrah keimanan dan estetika: anak menjadi suka kerapian
Fitrah belajar dan nalar: anak belajar merapikan bukunya


Oleh: Linda Kurniawati

#TDoLM_WritingChallenge
#JurnalIbuPembelajar
#Portofolio.FBE. Syaina
#Day3to7days
#Fitrah jasmani,fitrah keimanan,fitrah estetika,fitrah nalar dan belajar
#ODOPfor99days_weeks3