Tampilkan postingan dengan label melatih kemandirian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label melatih kemandirian. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Februari 2019

Jum'at Ceria

Jum'at lalu kami punya project yang keluar secara spontan. Berhubung hari jum'at yang penuh berkah, saya ingin mengajak syaina berbagi keceriaan ke teman-temannya yang tinggal di sekitar rumah. 

Empat hal yang tidak pernah ditolak anak-anak adalah hadiah, dongeng, kejutan dan bermain. Kali ini kami ingin berbagi hadiah sederhana, sebuah puding bertema telur ceplok. Anak-anak suka dengan puding. 

Pertama,kami cari sumber ilmu tentang bagaimana cara membuat puding telur ceplok. Menelusur bersama lewat youtube, mencari resep dan step pembuatannya. Syaina ikut menyimak proses pembuatannya. 

Kedua, saya menjadi juru catat atas resep dan step pembuatan yang diperoleh dari sumber ilmu.

Ketiga, belanja bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai resep yang ada. Eits, jangan lupa bawa wadah supaya nggak bawa pulang sampah πŸ˜‰. Hihihi kita lagi belajar zerowaste πŸ’ͺ. 

Keempat, berbagi tugas dalam proses pembuatan puding. Mulai dari menyiapkan peralatan yang diperlukan sampai proses memasak.


Umi berperan sebagai juru racik. Menyiapkan bahan sesuai takaran. 

Syaina mengambil peran 
πŸ’ Mencuci alat cetakan kuning telur dan menata satu persatu di wadah. 
πŸ’ Menuang dan mencampur semua bahan yang sudah disiapkan umi ke panci siap masak.
πŸ’ Memasak campuran bahan sampai mendidih sambil mengaduk. Syaina belajar mengamati bagaimana proses dan tanda air mendidih.
πŸ’ Setelah mendidih dan didinginkan sejenak, syaina mulai menuang adonan untuk bagian kuning telur ke cetakan. Syaina bisa melakukan proses ini dengan apik, rapi, fokus dan sangat hati-hati. Good job nak πŸ‘.

Sambil menunggu adonan puding putih telur matang. Abi berperan mendinginkan puding kuning telur dikulkas dan mengambilnya dari cetakan untuk dipindahkan ke bagian tengah wadah mika siap saji dibantu oleh syaina.

Saat puding putih telur matang, umi bertugas menuangkannya ke wadah mika yang sudah berisi puding kuning telur. Saat itu syaina ingin mencoba, tetapi karena adonan putih telur ini cepat memadat, akhirnya umi tunda keinginan syaina. Maafkan umi ya nak, mematikan rasa ingin tahumu 😰.Tapi sempet mencoba bersama umi. Yeyeyeye puding telur ceplok disiap didinginkan.

Pas waktu itu hujan turun,sambil menunggu puding didinginkan, kami main hujan-hujanan. Beberapa jam kemudian, puding sudah mengeras dan dingin. Itu tandanya puding siap disajikan πŸ˜‹.Hemm yummy.... Waktunya kita berbagi keceriaan. Siap diantar ke temen-temen.Dari tadi syaina selalu menanyakan,mi pudingnya sudah dingin belum? 

Let's go kita keliling ke rumah tetangga. Syaina mulai memasukan satu per satu puding ke wadah sambil menghitung nama teman-temannya yang mau di bagi. Berbinar sekali, berkeliling dari pintu ke pintu rumah sambil praktek adab bertamu. 

🏑 Ketuk pintu sambil mengucapkan salam sampai 3x.
🏑 Tidak mengintip ke dalam rumah tuan rumah. 
🏑 Tidak memaksa masuk ketika tidak ada jawaban dari tuan rumah. 


Bukan hanya temannya yang bahagia mendapatkan hadiah puding, tampaknya syaina juga bahagia melihat temannya bahagia. Syaina berbinar banget, sampai ananda mau bolak balik ke rumah temannya saat pertama ke sana ternyata tidak ada orang.Selalu mengingatkan umi saat ada temennya yang belum kebagian. Masya allah nak, semoga engkau tumbuh menjadi anak yang suka berbagi manfaat dan kebahagiaan untuk orang-orang disekelilingmu ya anak. Aamiin.....

Hikmah project jum'at ceria:
🌷Menumbuhkan semangat berbagi dengan cara yang menyenangkan bukan saat egonya sedang memuncak. 
🌷 Belajar dan praktek adab bertamu
🌷 Menumbuhkan konsep tangan di atas lebih mulia dari tangan dibawah. Berbagi ke sesama itu mulia dan lebih baik daripada selalu menerima/meminta. Seperti sifat rasulullah yang suka berbagi dalam beberapa kisah beliau. 
🌷 Berbagi itu indah. Salah satu cara mendapatkan kunci syurga. Membuat teman bahagia adalah sebuah kebaikan. 
🌷 Dalam rangka kaya kegiatan seperti yang ada pada panduan pandu 45 yaitu salah satunya memasak. 
🌷 Melatih life skill memasak. 




#PortofolioSyaina
#4y7m
#KayaKegiatan
#Pandu45
#LifeSkill
#Cooking
#FamilyProject


Selasa, 22 Januari 2019

Aku bayar sendiri

Kemarin saat pulang menginap dari rumah bunda naura di sruwen, eyang uti dan bu dhe memberikan uang saku ke syaina. Syaina seneng banget dan disimpan di dompet kecilnya. Sejak saat itu syaina merasa banyak uang. Kemudian dia berpikir untuk membelanjakan semua uangnya.

Awalnya saat dijogja syaina membayar cilok dengan uangnya. Wow kami apresiasi atas inisiatifnya untuk mandiri membayar jajannya sendiri. 


Pas cilok sudah habis, syaina ingin membeli gelembung sabun mainan dan naik mobil ontel. 
Balon sabun berapaan mi? Saya bantu syaina mengidentifikasi mana kebutuhan dan mana keinginan. 
Umi tidak tahu berapa harganya. Nak gelembung balon kita bisa buat sendiri dirumah. Gampang bikinnya, besok kita coba bikin sendiri ya.....

Ya udah aku mau naek mobil ontel aja. 
Naik mobil ontel berapaan mi? 
Saya bantu mengidentifikasi lagi. Nak,syaina kan sudah pernah naek mobil ontel sama umi sama abi waktu itu.Sudah dua kali malah. 
Kalau mau naik mobil ontel kita butuh lima lembar uang 10.000 (uang yang tadi syaina pakai untuk bayar cilok).Banyak kan? Coba lihat didompet ada nggak uangnya? 
Ternyata cuma ada 2 lembar. Nggak cukup ya mi.... 

Terus syaina bilang, yuk beli kentang aja di McD?Nak tadi makan cilok habis nggak? Enggak kan...? Nah itu tandanya perut syaina sudah penuh, kira-kira kalau diisi kentang lagi muat nggak? 
Spontan syaina jawab?:apa-apa nggak boleh. Waduh sempet panik πŸ˜‚.
Kami pun membalas, kan masih bisa beli besok nak. 
Yuk kita pulang dulu ke hotel, kebetulan sudah magrib. 

Syaina masih membahas tentang keinginannya naik mobil ontel. 
Kami pun mencoba terus membangun komunikasi. 
Nak kan mobil ontel udah pernah, gimana kalau kita naik yang belum pernah? 
Oiya aku mau naik pesawat ke ka'bah. 
Kalau ke kabah berapa mi? Mahal ya? 
Menurut syaina mahal nggak? Kita harus naek pesawat kalau ke ka'bah soalnya jauh.Kita perlu banyak uang buat kesana. 
Ya udah uangnya mau syaina tabung buat ke ka'bah. Alhamdulillah, keren idenya nak πŸ‘.

Saat perjalanan pulang dari jogja pasca acara sfhf#3, kami berhenti sejenak untuk membeli donat. Pas masuk di outlet, ternyata donatnya habis dan kami harus menunggu sekitar 20menit untuk membeli donatnya. 

Celetuk si kecil: syaina aja ya yang bayarin donatnya. 
Huah uminya terharu, bahagia melihat reaksi si kecil. 

Menurut syaina,ketika ia mempunyai uang maka uang itu bisa dihabiskan untuk jajan. Oke kita belajar manajemen uang bareng ya nak. 

Saya mengingatkan dan memberi usul. Gimana kalau uangnya kita bagi-bagi dulu. 
Iya ada yang buat jajan dan ada yang buat ditabung ya mi. 

Pulang ke rumah ia sisihkan sebagian banyak uangnya untuk dimasukan ke celengan, sisanya ia masukan dompet untuk jajan. Alhamdulillah semoga allah terus membimbingmu ya nak dan senantiasa memberikan rezeki yang berkah.Aamiin....



#PortofolioSyaina
#4y6m

Rabu, 11 April 2018

Melatih kemandirian/life skill

Dalam rangka menyiapkan spora unggul yang mungkin kelak akan terbang jauh dan tumbuh ditempat baru,tentu ada beberapa kriteria spora unggul versi keluarga pelem kalih. Salah satunya adalah mandiri dan life skill.Agar kelak ditempat yang baru, spora unggul ini mampu tumbuh subur dan menebar manfaat bagi lingkungan sekitar bukan hanya sekedar mampu bertahan hidup dilingkungan yang baru. 

Melatih kemandirian/life skill untuk anak balita tentu tidaklah mudah. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum melatih kemandirian, diantaranya adalah
1. Melihat fitrah perkembangan anak. Karena kemampuan setiap anak berbeda, maka sebelum melatih kemandirian, perlu melihat kemampuan dan perkembangan anak. Agar tidak menciderai fitrah perkembangannya karena obsesi untuk menggegas. Bukankah tidak berlaku kaidah makin cepat makin bagus? Yang ada hanyalah indah pada waktunya. 

2. Memfasilitasi lingkungan yang mendukung untuk melatih kemandirian anak. Misalnya saat hendak melatih anak agar mampu mengambil minuman sendiri. Tentu kita menyediakan tempat gelas dan air minum yang mampu dijangkau anak, agar anak tidak selalu meminta tolong kita untuk mengambilkan dan menjadi enggan melakukannya. 


3. Tega. Setelah mempertimbangkan kemampuan dan perkembangan anak, rasa tega untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba melakukan life skill harus ada. Walaupun rasa tega tersebut dibalut rasa was-was/khawatir/cemas sebagai orang tua terhadap hal baru yang belum pernah ananda lakukan atau bahkan melakukan sesuatu yang kita anggap berbahaya versi orang dewasa. Kekhawatiran itu wajar dan menjadi fitrah orang tua. Tetapi rasa tega itu jauh lebih diperlukan ole orang tua terhadap anaknya demi menyiapkan spora yang unggul. Kekhawatiran yang sewajarnya/sesuai kadarnya yang harus dilatih oleh orang tua agar tidak diliputi oleh kekhawatiran yang over dosis. Membalut kekhawatiran dengan kepasrahan dan doa kepada yang maha memiliki hidup.

4. Tirakat. Artinya sebagai orang tua pembelajar yang perlu berlatih menahan hawa nafsu untuk tidak cepat membantu anaknya ketika menghadapi sebuah tantangan. Memberikan anak kesempatan untuk mencari jalan keluar/mengambil keputusan atas tantangan itu penting, agar anak tidak selalu bergantung kepada orang tuanya dalam menghadapi tantangan.  Karena kami menyadari bahwa kami orang tuanya tidak akan selalu ada disampingnya untuk membantunya setiap saat. 

Beberapa capaian latihan kemandirian/life skill syaina diusia 3y8m adalah
1. Belajar memotong kuku sendiri
2. Membereskan mainan sendiri
3. Makan dan minum sendiri plus mampu mengambil minum dan lauk sendiri.
4. Mengambil pakaian dan pakai baju sendiri
5. Gosok gigi dan mandi sendiri
6. Mampu menggunting sendiri
7. Berlatih menyetrika sendiri dan mencuci piring setelah makan
8. Mampu membersihkan diri setelah buang hajat. 
9. Mampu membuang sampah dan meletakkan baju kotor pada tempatnya
10. Mampu menyapu dan mengepel lantai/membersihkan tumpahan minuman/makanan
11. Merapikan tempat tidur sendiri





Beberapa sumber referensi untuk mengetahui indikator kemandirian anak sesuai usia adalah 




Sabtu, 18 Maret 2017

Aliran rasa "Melatih Kemandirian"

Melatih kemandirian adalah sebuah tantangan besar.Melatih kemandirian anak menjadi penting karena kami sebagai orang tua tidak akan berada disampingnya untuk selamanya.Pada saatnya tiba,kami akan pergi meninggalkan anak-anak.Menumbuhkan keyakinan dan rasa percaya diri bahwa ananda bisa melakukan practise live skill.Memang tidak mudah dan tidak instan untuk melatih kemandirian anak.Kuncinya adalah konsisten dan bersabar dalam setiap proses.Memberikan dorongan semangat agar rasa percaya diri anak tumbuh lewat latihan kamandirian.Terkadang ada obsesi dan menginginkan hasil yang instan justru memberikan peluang besar terhadap kegagalan proses latihan kemandirian.Komunikasi produktif menjadi kunci penting dalam melatih kemandirian anak.

Rasanya senang dan bangga ketika anak bisa mengerjakan sendiri hal-hal mendasar dalam hidup seperti makan sendiri,mandi sendiri,memakai baju sendiri,dll.Manfaat yang saya dapatkan ketika anak berhasil latihan kemandirian adalah hemat waktu karena tidak sibuk lagi hanya sekedar mempersiapkan kebutuhan ananda yang seharusnya sudah bisa dikerjakan sendiri oleh ananda.Latihan kemandirian kami lakukan setahap demi setahap sesuai usia anak.Semangat untuk terus mendidik ananda.

Jumat, 03 Maret 2017

Syaina belajar memakai baju sendiri

Melatih Kemandirian


Action 9: Memakai baju sendiri

Latihan kemandirian hari ini adalah memakai baju sendiri.Terinspirasi dari membaca buku seri halo balita berjudul aku bisa pakai baju sendiri.Setelah mandi,syaina berlatih memakai baju sendiri.Saya fasilitasi perlengkapan syaina setelah mandi ditempat yang terjangkau anak.Ada bedak,minyak telon,sisir,minyak rambut,hand and body,minyak wangi.Syaina secara berurutan memakainya:

  1. Diawali dari minyak telon yang diusapkan dibagian perut dan punggung.
  2. Mengusapkan bedak dibadan dan wajah
  3. Mengambil body lotion dan diusapkan pada kedua tangan dan kaki
  4. Memakai hair lotion
  5. Memakai baju atasan diawali dengan basmallah.Pertama mencari lubang leher dan memasukkan ke kepala.Secara bergantian memasukkan tangan kanan dan kiri ke lubang lengan
  6. Memakai celana.Walaupun posisi celana belum rapi dan benar,tetapi syaina mengetahui tata cara memakainya.
  7. Memakai parfum dan menyisir rambut
Horeee,Yes I Can



#Level2
#Day9to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Kamis, 02 Maret 2017

Syaina belajar meletakkan baju kotor pada tempatnya

Melatih Kemandirian


Action 8: Syaina belajar meletakkan pakaian kotor pada tempatnya.

Syaina belajar meletakkan pakaian kotor pada tempatnya.Syaina sudah bisa melepas baju ketika akan mandi dan meletakkan baju kotor pada tempatnya.Ketika saya lupa meletakkan baju kotor tidak pada tempatnya syaina langsung mengingatkan saya "umi kok baju kotornya ditaruh disini (sembarang tempat)".Syaina langsung membawa baju kotor tersebut dan meletakkan pada tempatnya.

Saatnya memberikan tantangan.Yuk mencuci baju.Baju-baju kotor dimasukkan ke dalam ember yang telah diberi detergen untuk direndam.Hore berhasil,Yes I Can.




#Level2
#Day8to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Rabu, 01 Maret 2017

Belajar minum susu pakai gelas

Melatih kemandirian


One week one skill pekan ini adalah melatih syaina minum susu dengan gelas.Tidak mudah merubah kebiasaan dari minum susu dengan botol ke minum susu dengan gelas.Keluar dari zona nyaman syaina.Tantangan terberat adalah saat syaina bangun tidur dan menjelang tidur selalu minum susu dengan botol.Saya dan suami sudah berkomitmen untuk melatih syaina minum susu dengan gelas.Beberapa usaha yang kami lakukan adalah 

  • Kami lakukan sounding kepada syaina saat suasana hati syaina sedang senang.
  • Kami mengajak syaina melihat video anak yang sedang minum susu dengan gelas.
  • Melibatkan syaina memilih gelas dengan karakter yang ananda sukai
  • Melibatkan syaina membuat susu dengan gelas.
  • Mengajak syaina minum susu dengan gelas bersama-sama setiap pagi.
Usaha yang Kami lakukan tidak selalu sesuai harapan kami.Tangisan dan teriakan mewarnai proses usaha kami.Tidak jarang memicu perselisihan pendapat diantara kami.Tetapi kami sepakat bahwa ketika anak menginginkan sesuatu harus dengan cara yang baik.Bersikap sabar dan konsisten agar tidak mudah iba dengan teriakan dan tangisan anak sehingga tidak dijadikan senjata oleh anak ketika menginginkan sesuatu.Keinginan ananda tidak pernah kami luluskan selama ananda meminta dengan cara yang tidak baik.Yang kami lakukan adalah bersikap acuh tak acuh dengan tetap mengawasi tingkah laku anak sampai ananda selesai menangis dan berteriak.Setelah kondisi tenang,kami lanjutkan sounding dan negosiasi.Akhirnya anak sepakat untuk minum susu dengan gelas.Walaupun saat minum susu dengan gelas tidak selalu habis,kami memaklumi bahwa ini adalah masa adaptasi anak dan kami berikan pujian atas sikap ananda tersebut.Latihan ini terus dilakukan setahap demi setahap.








#Level2
#Day7to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#ODOPfor99days

Senin, 27 Februari 2017

Materi melatih kemandirian

*Institut Ibu Profesional*
_Materi Bunda Sayang Sesi #2_


*MELATIH KEMANDIRIAN ANAK*

_Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?_

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

_Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?_

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

_Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?_

☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu

πŸ”‘Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th  adalah sbb :
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦ Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦ Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Komitmen dan konsisten dengan aturan

Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

☘Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

πŸ”‘Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Hargai keinginan anak-anak
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Jangan buru-buru memberikan pertolongan
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦ Terima ketidaksempurnaan
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦ Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦ Berbagi peran bersama anak
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦ Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

☘Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

πŸ”‘Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah 
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘¦‍πŸ‘¦Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko

Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

☘Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
πŸ”ŸBerkarya

☘3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan

Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri? 

☘Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

_Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita_

Salam,


/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

_Sumber bacaan_:

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014_
_Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara_
_Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi_




Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

*Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak*


Membangun dan mendidik kemandirian anak bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama melatih anak mandiri ketika masih di usia dini. Secara alamiah anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian "Yes, I can!" Kata-kata ajaib ini merupakan sinyal dari kesadaran seorang anak terhadap diri dan kemampuannya sendiri untuk menentukan dirinya. 

Orang tua yang bijaksana memanfaatkan keinginan akan kemandirian ini dengan membiarkan anak-anak mereka mempraktikkan keterampilan mereka yang baru muncul sesering mungkin pada lingkungan yang aman atau ramah anak. Dukungan orang tua yang seperti ini memang sangat dibutuhkan anak agar dapat melakukan berbagai hal secara mandiri, termasuk aktivitas yang masih relatif sulit. 

Namun realita yang ada, orang tua terkadang merasa tidak tega, tidak bersabar, khawatir yang lahir karena bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak.  Inilah salah satu penyebab dari kegagalan anak dalam proses kemandiriannya. Oleh karena itu, orang tua perlu memperbaiki sikap mental agar tidak mudah khawatir dengan anak.

Faktor lingkungan juga terkadang ikut andil dalam kegagalan proses kemandirian anak. Dorongan negatif dari lingkungan sekitar yang terkadang menganggap apa yang orang tua lakukan untuk melatih kemandirian anaknya sebagai bentuk eksploitasi. Padahal yang paling terpenting dan utama dalam membangun dan mendidik kemandirian anak adalah ketika anak merasa senang dalam melakukan aktivitas kemandiriannya tanpa ada rasa takut ataupun karena ada rasa tekanan dari luar.

Perlu diketahui bahwa kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan perkembangan usianya. 

Adapun jenis kemandirian anak yang perlu dibangun adalah sebagai berikut:

*1. Kemandirian dalam Keterampilan Hidup*

Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam keterampilan hidup adalah memberi kesempatan, bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan, mengenakan baju sendiri, mandiri sendiri, dsb.

Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.

Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

*2. Kemandirian Psikososial*

Bertengkar itu tidak baik. Tetapi menghentikan pertengkaran begitu saja, menjadikan anak kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan konflik. Kita memang harus menengahi dan adakalanya menghentikan. Tetapi kita juga harus membantu anak menggali masalahnya, merunut sebabnya dan menawarkan jalan keluar kepada anak, baik dengan menunjukkan berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil maupun menanyakan kepada anak tentang apa saja yang lebih baik untuk dilakukan.

Apa yang terjadi jika kita bertindak keras terhadap berbagai konflik yang terjadi antar anak? Banyak hal,  salah satunya anak tidak berani mengambil sikap yang berbeda dengan teman-temannya, meskipun dia tahu bahwa sikap itulah yang seharusnya dia ambil. Padahal kita seharusnya menanamkan pada diri anak sikap untuk mendahulukan prinsip daripada harmoni. Rukun itu penting, tapi hidup dengan berpegang pada prinsip yang benar itu jauh lebih penting. Kita tanamkan kepada mereka _principles over harmony_ , melakukan hal-hal yang benar semata-mata karena prinsip. Bukan karena ada orang lain yang memaksa anak melakukannya.

Lalu apakah yang harus kita lakukan jika anak sedang bertengkar? Apakah kita biarkan mereka? Tidak. Kita tidak boleh membiarkan. Kita harus menangani. Membiarkan anak bertengkar dengan keyakinan mereka akan mampu menyelesaikan sendiri dapat memicu terjadi situasi submisif, yakni siapa kuat dia yang menang. Dan inilah yang sedang terjadi di negeri kita. Bahkan urusan antre pun, siapa yang kuat dia yang duluan. Dampaknya akan sangat luas dan bisa menakutkan.

Kita juga dapat melatih kemandirian psikososial anak secara lebih luas. Melatih _toilet trainee_ beserta adab-adabnya. Melatihnya bagaimana adab ketika bertamu atau menerima tamu, adab berbicara kepada yang lebih tua atau yang lebih muda, dan lain sebagainya.

*3. Kemandirian Belajar*

Inilah proses serius kita hari ini. Banyak sekolah yang bersibuk mengajari anak agar terampil membaca, menulis semenjak usia dini, tapi lupa bahwa yang paling mendasar adalah sikap positif, kemauan yang kuat, dorongan dan kebanggaan akan kegiatan tersebut. 

Jika anak memiliki kemauan yang kuat untuk belajar disertai keyakinan (bukan hanya paham) bahwa belajar itu penting, maka kita dapat berharap anak akan cenderung menjadi pembelajar mandiri saat mereka memasuki usia 10 tahun. Sebaliknya jika kita hanya mengajari mereka berbagai kecakapan belajar semisal membaca, menulis, dan berhitung di usia dini, mungkin awalnya mereka menggebu-gebu untuk mempelajari semua itu, namun di usia 10 tahun justru menjadi titik balik berupa kejenuhan serta keengganan belajar. 

*4. Kemandirian Emosional*

Bekal pokok dari kemandirian emosional adalah pengenalan diri yang diikuti dengan penerimaan diri, kemudian pengendalian diri. Ini memerlukan peran orangtua dalam mengajak anak untuk mengenali kelebihan-kelebihan, kekurangan, kemampuan dan kelemahannya sendiri. Pada saat yang sama orangtua menunjukkan penerimaan terhadap kekurangan maupun kelemahan anak, tetapi bukan berarti membiarkan anak melemahkan dirinya sendiri. Malas dan enggan mengatasi masalah merupakan bentuk sikap melemahkan diri sendiri. Orangtua perlu menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Maka tak patut merendahkan orang lain, tak pantas pula meninggikan diri. Lebih-lebih untuk sesuatu yang diperoleh tanpa melakukan usaha apa pun alias sepenuhnya merupakan pemberian semenjak lahir.

Yang juga penting untuk dilakukan adalah mendampingi anak mengenali kebutuhannya. Balita pun tak perlu rewel jika ia telah dapat mengenali kebutuhannya untuk istirahat. Perlu juga mendampingi mereka untuk belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan perlu dipenuhi, meski tak serta-merta. Sedangkan keinginan, adakalanya dapat dituruti, tetapi tetap perlu belajar menahan diri. Semua ini ditumbuhkan bersamaan dengan menguatkan dorongan sekaligus kemampuan bertanggung-jawab, termasuk berkait dengan konsekuensi atas berbagai tindakan mereka.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

πŸ“šSumber bacaan : 

Muhammad Fauzil Adhim, Anak Perlu Belajar Mandiri, Majalah Hidayatullah edisi November 2014.

Ciri Anak Mandiri dan Tahapan Perkembangan Kemandirian, www.AlMaghribiCendekia.com, 2015

William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004

Belajar merapikan mainan sendiri

Melatih kemandirian




Action 5: Belajar merapikan mainan



Salah satu cara saya saat ingin mengedukasi anak adalah dengan membacakan buku menjelang tidur malam.Tujuannya bukan untuk menggegas anak cepat membaca.Saya membacakan buku untuk menasehati anak dan membuat anak mempunyai kesan mendalam dari kisah-kisah yang saya bacakan.

Salah satu contoh kasus ketika anak selesai bermain dengan kondisi mainan/buku yang berantakan.Tantangan bagi saya adalah bagaimana cara mengedukasi anak ikut serta membantu saya merapikan dan menyimpan mainan/bukunya kembali ke tempat semula. Membutuhkan energi yang cukup banyak bagi saya untuk merapikan mainan anak jika setiap selesai bermain anak terbiasa meninggalkan mainan tanpa merapikan terlebih dahulu.Saya bacakan saja buku tentang manfaat anak dapat merapikan mainannya sendiri.Sepertinya cara ini cukup efektif bagi saya dibandingkan harus on the spot menasehati anak.Alhamdulillah setiap kami selesai bermain,saya ajak merapikan dan menyimpan mainan ke tempat semula,syaina dengan muka riang membantu saya.Saya berikan pujian setiap anak berhasil menyelesaikannya (hore syaina pinter ya sambil nyanyi lagu hallo balita).




Ini sedikit percakapan kami ketika syaina berhasil membantu saya merapikan buku ke dalam container.
Ketika container yang kemarin kami beli dibuka.Anak spontan mengambil buku dalam kardus dan meletakkan dalam container.
Umi.    : lagi apa nak?
Syaina: bukunya di taruh sini ya mi.Kayak sali (nama anak dalam buku cerita) di bukunya aku(sambil nyanyi lagu hallo bilita).Aku bisa merapikan mainan sendiri,Ooo aku suka buku…..(kira-kita begitu lirik lagunya).





#Level2
#Day5to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian


Jumat, 24 Februari 2017

Belajar makan sendiri

Melatih Kemandirian


Action 3: makan sendiri

Pratek kemandirian hidup sangat penting.Tujuannya adalah agar kelak anak tidak bergantung kepada orang lain termasuk orang tuanya.Karena kami sebagai orang tua tidak selamanya hidup dan tidak selalu ada disamping anak-anak kami.

Praktek kemandirian hari ini adalah makan sendiri.Sebagai fasilitator anak,saya harus tega memberikan tantangan latihan kemandirian kepada anak.Kebiasaan kami dirumah adalah makan bersama.Stimulus yang baik untuk mengajak anak berlatih makan sendiri bersama-sama.Ini bukan kali pertama syaina bisa makan sendiri.Sesekali syaina minta disuapi untuk mengobati rasa kangen disuapi oleh uminya.

Beberapa persiapan yang dilakukan syaina sebelum makan:
1.Mencuci tangan dengan sabun
2.Mengambil posisi duduk
3.Doa bersama sebelum makan
4.Mengambil nasi dan lauk secukupnya

Saya mengenalkan adab saat makan kepada syaina yaitu makan dengan tangan kanan dan makan harus duduk,tidak jalan-jalan/lari-lari,tidak sambil bermain atau berputar-putar disekeliling rumah,makan makanan yang ada didepan kami.

Ketika syaina makan sendiri,porsi makanannya lebih sedikit dibandingkan dulu saat syaina masih disuapi.Hanya intensitas makannya saja yang perlu ditingkatkan.Waktu makannya pun lebih lama.Hal ini lah yang membuat saya harus bersabar untuk tidak segera membantunya.Membiarkan syaina menikmati proses belajarnya.Catatan penting bagi saya bahwa untuk tidak memaksa syaina makan jika ananda belum menginginkannya.Karena anak yang merasa lapar secara otomatis akan makan.

Syaina tidak selalu menghabiskan makanannya.Saya terus sounding diwaktu yang tepat tidak on the spot tentang rizki makanan dari Allah,konsep mubazir jika makanan tidak dihabiskan dan proses yang sangat panjang untuk mendapatkan sebutir nasi.Makanan yang terlanjur tidak habis,kami kumpulkan untuk disedekahkan kepada ayam disekeliling rumah.





#Level2
#Day3to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Rabu, 22 Februari 2017

Syaina belajar membuat susu

Melatih kamandirian 


One week one skill
Pekan   1:minum susu memakai gelas
Pekan 2:mandi tepat waktu dan cebok sendiri


List ketrampilan kemandirian yang ingin dilatih:
  1. Membuat/menyiapkan susu sendiri
  2. Makan sendiri
  3. Mandi sendiri
  4. Training toilet terutama cebok sendiri
  5. Meletakkan pakaian kotor pada tempatnya
  6. Membuang sampah
  7. Mengambil jemuran dan merapikan pakaian
  8. Latihan bersih-bersih seperti menyapu dan mengepel lantai,mengelap kaca,membersihkan debu dengan kemoceng,latihan mencuci pakaian,menjemur baju.
  9. Mencuci peralatan makan dan minum
  10. Merapikan mainan
  11. Memakai baju sendiri dan bersolek srtrlah mandi (memakai minyak telon,bedak,hair lotion,hair&body,parfum)
  12. Merapikan tempat tidur


Action 1:Menyiapkan dan membuat susu sendiri

Tantangan kali ini adalah membuat susu sendiri.Ketika syaina meminta dibuatkan susu,saat itu saya tawarkan option:
"dibuatkan umi atau membuat sendiri?"

Syaina: Spontan syaina menjawab "Aku yang buat mi."
Umi: Ok.Siap...Ayo.
Berusaha memberikan kesempatan kepada syaina untuk mencoba tantangan baru.


Saat proses membuat susu syaina belum terlibat penuh dalam setiap tahap.Syaina andil pada tahap menuangkan susu bubuk kedalam botol sampai susu siap diminum.Tahapan yang dilakukan syaina adalah

  1. Botol susu berisi air hangat (proses ini dilakukan oleh umi)."Umi ambilkan air panas dulu yah?".Saya belum memberikan kesempatan kepada syaina untuk menuangkan sendiri air panas kedalam botol karena saya masih menyimpan air panas didalam termos berukuran besar.Saya kategorikan berbahaya (zona merah).Untuk tantangan berikutnya,sebagai fasilitator saya wajib memfasilitasi proses belajar anak untuk meningkatkan intellectual curiosity dengan menyediakan sarana yang ramah anak.Terlintas ide untuk melatih anak mengambil air panas dan menuangkan ke dalam botol dari dispanser yang bisa dijangkau anak dan lebih aman untuk anak,tentu tetap dalam pengawasan.
  2. Memasukkan susu bubuk sebanyak lima sendok teh kedalam botol yang telah berisi air hangat.Syaina sudah paham bahwa untuk memasukkan susu bubuk kedalam botol melalui mulut botol dengan diameter yang terbatas harus hati-hati dan perlu trik/cara khusus.Syaina mengambil susu bubuk dengan takaran tidak penuh satu sendok teh (jumlahnya relatif sedikit).Tujuannya agar susu bubuk tidak jatuh berserakan ke lantai.Ternyata proses ini tidak berjalan lancar.Tetap ada susu bubuk yang jatuh ke lantai.Tidak menjadi masalah karena melalui proses ini,syaina dapat belajar hati-hati untuk memindahkan susu bubuk dari satu wadah ke wadah yang lain (botol susu).
  3. Selesai memasukkan susu bubuk kedalam botol,tahap selanjutnya adalah diaduk."Mi susunya diaduk yah?".Syaina belajar mengaduk dengan cara yang benar.Tangan kiri syaina memegang botol dan tangan kanannya digunakan untuk mengaduk.Syaina berhasil mengaduk susu tanpa ada cairan susu yang tumpah.Alhamdulillah bisa....
  4. Beberapa susu bubuk yang berserakan dilantai saat proses penuangan,syaina kumpulkan dan mencoba untuk membersihkannya.
  5. Botol susu kemudian ditutup.Pada tahap ini,syaina belajar menutup botol dengan benar.Tutup botol dipasang dengan posisi yang pas (tidak miring) pada mulut botol,diputar searah jarum jam sampai kencang.Hore tahapan ini lolos.
  6. Bungkus susu bubuk dirapikan kembali dengan melipatnya beberapa kali.
  7. Susu siap diminum.
  8. Setelah selesai minum susu,syaina meletakkan botol susu kedalam washtaffel untuk dicuci.Kali ini tidak langsung ananda cuci sendiri tetapi biasanya dilain waktu ananda cuci botol susu yang kotor tersebut.


Moment saat syaina membuat susu sendiri


Dari tantangan membuat susu sendiri,syaina belajar beberapa hal yaitu:

  •  Syaina belajar konsep air panas dan air dingin jika mengenai sebuah benda termasuk kulit tubuh.
  • Belajar mengenal konsep air menempati berbagai jenis wadah,salah satunya botol.
  • Belajar tahapan membuat susu dengan benar dari awal sampai akhir proses pembuatan.
  • Melatih motorik halus dan daya konsentrasi.



#Level2
#Day1to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#ODOPfor99days