Tampilkan postingan dengan label Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 November 2017

Belajar bentuk

Hari ini syaina mengajak saya bermain komputer. Syaina nampaknya ingin belajar berkreasi membuat bermacam-macam bentuk.Syaina yang memilih sendiri jenis bentuk yanga akan dibuat.Ada matahari, bulan purnama,bulan sabit, persegi panjang, gambar icon muka.Syaina juga memilih warna dari tiap-tiap bentuk. 





#Harike-5
#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunsayIIP

Sabtu, 30 September 2017

One day one thousand rupiah

Teknis Pelaksanaan "One day one thousand rupiah":
  1. Menyiapkan celengan.Kami pilih gambar ayam sebagai untuk menarik minat syaina.
  2. Membuat label nama untuk setiap celengan.Setiap celengan diberi nama pemiliknya.
  3. Menabung setiap hari (one day one thousand rupiah).
  4. Membongkar celengan saat penuh dan menghitung dana yang terkumpul.
  5. Koin cinta yang terkumpul tiap semester,kami salurkan kepada yang membutuhkan.Periode penyaluran dilakukan setiap bulan juli dan desember dalam satu tahun periode.Membuat laporan pelaksanaan proyek.
  6. Kami bekerjasama dengan beberapa lembaga amal atau turun kejalan langsung dan berbagi kepada yang membutuhkan.










#Tantangan10Hari
#Level8
#Day5
#KuliahBunsayIIP
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial



Sabtu, 17 Juni 2017

Reading time before sleep

Hampir setiap malam hari menjelang tidur syaina minta dibacakan buku berjudul asal mula namaku. Entah apa yang sedang dalam imaji ananda tentang buku ini. Ananda belajar mengenal nama tokoh dalam buku,apa kesukaan masing-masing tokoh dalam buku. Tantangan buat uminya adalah menghilangkan rasa bosan untuk membacakan buku yang sama setiap malam, harus tetap menjaga ekspresi dan menjiwai cerita. SEMANGAT UMI!!!! Yuk nak kita teruskan kegiatan gemar membaca. 







#GameLevel5 
#Tantangan10Hari
#Day10to15days
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
#ODOPfor99days



Jumat, 16 Juni 2017

Tahap membaca

Ketika akan membaca, syaina lebih suka memakai alat bantu e-pen. Ananda akan mencari bunyi-bunyi dalam bacaan yang ia sukai. Kemudian ia akan merekam suara saat bernyanyi. 





#GameLevel5 
#Tantangan10Hari
#Day9to15days
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
#ODOPfor99days

Kamis, 15 Juni 2017

Tahap perkembangan membaca syaina


Tahapan Perkembangan Membaca Anak Usia Dini

1. Tahap fantasi (Magical Stage)

2. Tahap Pembentukan Konsep Diri Membaca (Self Concept Stage)

3. Tahap Membaca Gambar (Bridging Reading Stage)

4. Tahap Pengenalan Bacaan (Take Off Reader Stage)

5. Tahap Membaca Lancar (Independent Reader Stages)


Awalnya pada usia kurang dari dua tahun syaina hanya membolak-balikan buku dan membawa-bawa buku. Sekarang syaina (2y10m) sudah masuk tahap dua yaitu tahap pembentukan konsep diri membaca yaitu memandang dirinya sebagai pembaca, dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna pada gambar atau pengalaman sebelumnya dengan buku, menggunakan bahasa buku meskipun tidak cocok dengan tulisan. Syaina sudah mampu memilih buku-buku yang ananda sukai. Membacanya berulang-ulang. Mengkaitkan isi cerita dalam kehidupan sehari-hari. 




#GameLevel5 
#Tantangan10Hari
#Day8to15days
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
#ODOPfor99days


Rabu, 14 Juni 2017

Tahap berbicara

Untuk melatih kemampuan berbicara ananda,sesekali ketika family reading time (menjelang tidur malam) saya meminta syaina bercerita tentang kisah dalam buku yang ananda suka. Syaina akan berimprovisasi dan mengarang cerita versi dirinya. Bercerita sambil menunjuk gambar. Sebagai pendengar yang baik, saya mencoba menyimak apa yang ananda sampaikan dan memberikan apresiasi setelah ananda selesai bercerita.




Buku yang paling ananda sukai adalah cerita fabel dalam al-qur'an dan kisah nabi. Ananda selalu meminta saya mendongeng kisah teraebut berulang-ulang. Sejauh ini, beberapa cerita dalam buku berhasil memberikan contoh tindakan sehari-hari. Contoh ketika syaina membaca kisah semut dan nabi sulaiman. Diceritakan tentang mukjizat nabi sulaiman yang bisa mendengarkan dan berbicara dengan hewan misalnya semut. Nabi sulaiman yang sangat hati-hati ketika melewati banyak rumah semut agar tidak melukai rumah dan semut. Ketika dalam kehidupan sehari-hari ananda menjumpai semut, ananda selalu bilang "ini semut temannya nabi sulaiman, jangan dimatiin ya kasian".Masih banyak contoh lain yang sering menjadi contoh bagi ananda dan selalu ingin diceritakan kembali oleh ananda. 


Bahwa kisah/cerita dalam buku banyak memberikan contoh yang baik untuk diaplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi tentu saya harus mendampingi ananda ketika membaca untuk memastikan buku bacaan tersebut ramah untuk anak. 



#GameLevel5 
#Tantangan10Hari
#Day7to15days
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
#ODOPfor99days

Selasa, 13 Juni 2017

Tahap mendengarkan

Mendengarkan adalah step pertama untuk melatih anak suka membaca. Beberapa kegiatan syaina untuk melatih ketrampilan mendengar adalah

  • Saya sering mengajak syaina membaca buku sebagai pengantar tidur. Walaupun judul buku yang saya bacakan ajeg sesuai permintaan syaina. Awalnya syaina akan mendengarkan apa yang saya ceritakan dalam buku. Lama kelamaan syaina mampu menceritakan kembali apa yang ananda lihat dalam buku dan apa yang ananda dengar dari cerita saya. Hal ini menunjukkan kemampuan mendengarnya masih berfungsi dengan baik dan ananda mulai menangkap informasi yang ia dengar. 
  • Seringkali kami berdiskusi tentang suatu objek yang kami lihat. Misalnya bentuk awan dilangit, hewan dan tanaman yang kami jumpai. Lewat kegiatan ini, ananda akan berimajinasi dan bercerita tentang apa yang ananda lihat. Tentu hal ini akan melatih kemampuan berbicara anak.
  • Seringkali kami membawa ananda bertemu orang banyak misalnya melibatkan ananda dikegiatan jual beli.Ananda akan menyimak setiap obrolan orang-orang disekitarnya dan akan praktek berbicara layaknya orang yang sedang melakukan transaksi jual beli.
  • Kemampuan mendengar ananda juga terlatih lewat kegiatan mendengarkan lagu (audio) saat dimobil atau lewat recorder.Ananda juga sangat suka mendengarkan lagu anak-anak.Ananda sudah dapat menyanyikan beberapa lagu anak. Lagi lagi melalui kemampuan menyimak dan mendengarkan.




#GameLevel5 
#Tantangan10Hari
#Day6to15days
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
#ODOPfor99days

Minggu, 11 Juni 2017

Menulis di pohon literasi

Memasuki hari ke lima tantangan bunda sayang. Setelah membaca syaina tertarik untuk menulis sendiri judul buku yang ananda baca. Waduh??? Siap-siap corat coret nih pohon literasinya. Setelah negosiasi akhirnya umi saja yang menulis judul bacaan di pohon literasi. Syaina bertanya ini pohon siapa saja? Umi? Abi? Aku?. Syaina juga menunjukkan nama gambar yang ananda lihat. Pohon literasi tersebut sengaja tidak kami tempel di tembok, selain untuk mempermudah menulis judul bacaan, agar syaina mudah untuk berimajinasi dengan menyentuh dan menulis langsung sesuai gayanya. Yuks baca lagi, agar kita bisa melihat jendela dunia. 😊😊😍😍






#GameLevel5 
#Tantangan10Hari
#Day5to15days
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
#ODOPfor99days

One day one read

Setelah pohon literasi jadi, kami tuliskan judul buku yang telah kami baca setiap hari pada masing-masing pohon milik kami. One day one read (ODOR)  adalah project baru dalam keluarga.Setiap anggota keluarga mininal membaca satu sumber bacaan setiap hari. Sehingga diharapkan dapat memperkaya wawasan bagi kami. Bagi kami membaca adalah jendela keluarga. Waktu membaca bersama yang rutin kami lakukan adalah menjelang tidur. Kami biasanya membacakan buku pilihan syaina yang ananda sukai. Sesekali harus berimprovisasi ketika membaca agar anak tidak bosan dan isi cerita mudah dipahami oleh anak. Syaina sudah dapat menceritakan kembali isi cerita dalam buku. Sering kali berimajinasi tentang gambar dalam buku, mencoba mengungkapkan apa yang ananda pahami dari suatu gambar.

Fokus kami bukan untuk menggegas anak cepat bisa membaca tapi kami ingin memberikan imaji positif tentang indahnya membaca.Mudah-mudahan kelak ananda akan menjadi pribadi yang suka membaca. 

Hari ini, saya dan syaina membaca satu buku tentang kisah nabi uzair dan keledai. Syaina sangat suka buku jenis fabel. Beberapa buku yang telah dibaca syaina adalah aku sayang rasulillah, asal mula namaku dan aku anak santun. Ananda tidak bosan walaupun dibacakan judul yang sama setiap hari menjelang tidur. Semangat untuk terus membersamai ananda membaca buku. Sedangkan umi berhasil membaca tentang satu tema penyakit tuberculosis dan pohon abi masih kosong karena belum ada sumber bacaan yang berhasil dibaca hari ini. Semangat abi, ayo membaca! 



#GameLevel5 
#Tantangan10Hari
#Day4to15days
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
#ODOPfor99days

Sabtu, 10 Juni 2017

Proses pembuatan pohon literasi

Setelah dua hari melakukan persiapan tiba waktunya untuk menyusun pohon literasi. Sesuai dengan konsep yang telah didiskusikan kami membuat tiga pohon yang berbeda,masing-masing pohon milik satu anggota keluarga. Abi berperan dalam proses memotong gambar.Syaina sebagai tim hore dalam proses memotong gambar dan membantu proses menempelkan bagian-bagian gambar ke dalam kertas. Umi bertugas menyusun gambar di bidang kertas yang telah disediakan. Alhamdulillah berhasil membuat pohon literasi keluarga.Siap untuk mempercantik pohon dengan merimbunkan daun dan bungan lewat membaca buku minimal satu buku per hari. SEMANGAT



#GameLevel5 
#Tantangan10Hari
#Day3to15days
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
#ODOPfor99days

Jumat, 09 Juni 2017

Persiapan mebuat pohon literasi hari ke-2

Agenda hari kedua ditantangan game lavel 5 adalah mencetak gambar hasil searching untuk ide membuat pohon literasi.Tantangan tersendiri bagi kami untuk bisa membuat pohon yang menarik agar memacu semangat kami untuk membaca buku dan merimbunkam daun dipohin literasi. Terutama pohon si kecil yang harus rame dengan pernak pernik dan gambar.




Konsep pohonnya adalah membuat sebuah kebun dengan tiga pohon utama dan beberapa pohon kecil sebagai pendukung.Tiga pohon utama tersebut masing-masing milik abi, umi dan syaina. Dilengkapi dengan pelangi dan beberapa hewan khas di kebun seperti kupu-kupu dan burung.

Pohon literasi siap dieksekusi besok. Bismillah.... Semangat KPK (keluarga pelem kalih).


#GameLevel5 
#Tantangan10Hari
#Day2to15days
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst



Kamis, 08 Juni 2017

Persiapan membuat pohon literasi hari ke-1

Yups sampai pada tantangan game level 4 yaitu melatih anak suka membaca. Tantangan kali ini sungguh menantang. Membuat pohon literasi yaitu pohon kreasi untuk memacu kita agar suka membaca dengan cara merimbunkan pohon dengan judul buku yang telah dibaca. 

Begitu dapat tantangan, saya langsung diskusi dengan kepala sekolah dirumah untuk menceritakan apa itu pohon literasi, fungsi dan tujuan pembuatan dan berbagi peran dalam proses pembuatan. Saya sounding kepada syaina dan mengajak syaina untuk terlibat dalam proses pembuatan pohon literasi. 

Hari pertama tantangan kali ini kami memilih dan mencari ide bentuk pohon literasi yang akan kami buat. Searching untuk menambah wawasan kami tentang pohon literasi. Setelah menemukan konsep pohon literasi kami langsung berbagi tugas. Umi bertugas mencari gambar yang sesuai dengan tema pohon literasi, pernak-pernik bahan dan alat yang dibutuhkan dalam proses pembuatan pohon literasi dan menyelesaikan tahan finishing seperti menghias pohon. Setelah mendapatkan berbagai bahan dan alat,dikumpulkan dalam satu wadah dan siap digunakan untuk berkreasi membuat pohon literasi. Abi bertugas membuat kerangka pohon dan menempelkan pada media yang disiapkan serta mendokumentasikan kegiatan.Syaina terlibat dalam proses menempelkan pernak pernik bersama umi. 


Bahan dan alat yang akan digunakan untuk membuat pohon literasi


Setelah menyiapkan dan mengumpulkan bahan dan alat, kami mulai mengambil dan menyiapkan buku-buku yang akan dibaca dan siap merimbunkan pohon literasi yang akan dibuat. Semangat Keluarga Pelem Kalih. 


#GameLevel5 
#Tantangan10Hari
#Day1to15days
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
#odopfor99days


Jumat, 03 Maret 2017

Syaina belajar memakai baju sendiri

Melatih Kemandirian


Action 9: Memakai baju sendiri

Latihan kemandirian hari ini adalah memakai baju sendiri.Terinspirasi dari membaca buku seri halo balita berjudul aku bisa pakai baju sendiri.Setelah mandi,syaina berlatih memakai baju sendiri.Saya fasilitasi perlengkapan syaina setelah mandi ditempat yang terjangkau anak.Ada bedak,minyak telon,sisir,minyak rambut,hand and body,minyak wangi.Syaina secara berurutan memakainya:

  1. Diawali dari minyak telon yang diusapkan dibagian perut dan punggung.
  2. Mengusapkan bedak dibadan dan wajah
  3. Mengambil body lotion dan diusapkan pada kedua tangan dan kaki
  4. Memakai hair lotion
  5. Memakai baju atasan diawali dengan basmallah.Pertama mencari lubang leher dan memasukkan ke kepala.Secara bergantian memasukkan tangan kanan dan kiri ke lubang lengan
  6. Memakai celana.Walaupun posisi celana belum rapi dan benar,tetapi syaina mengetahui tata cara memakainya.
  7. Memakai parfum dan menyisir rambut
Horeee,Yes I Can



#Level2
#Day9to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Kamis, 02 Maret 2017

Syaina belajar meletakkan baju kotor pada tempatnya

Melatih Kemandirian


Action 8: Syaina belajar meletakkan pakaian kotor pada tempatnya.

Syaina belajar meletakkan pakaian kotor pada tempatnya.Syaina sudah bisa melepas baju ketika akan mandi dan meletakkan baju kotor pada tempatnya.Ketika saya lupa meletakkan baju kotor tidak pada tempatnya syaina langsung mengingatkan saya "umi kok baju kotornya ditaruh disini (sembarang tempat)".Syaina langsung membawa baju kotor tersebut dan meletakkan pada tempatnya.

Saatnya memberikan tantangan.Yuk mencuci baju.Baju-baju kotor dimasukkan ke dalam ember yang telah diberi detergen untuk direndam.Hore berhasil,Yes I Can.




#Level2
#Day8to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Rabu, 01 Maret 2017

Belajar minum susu pakai gelas

Melatih kemandirian


One week one skill pekan ini adalah melatih syaina minum susu dengan gelas.Tidak mudah merubah kebiasaan dari minum susu dengan botol ke minum susu dengan gelas.Keluar dari zona nyaman syaina.Tantangan terberat adalah saat syaina bangun tidur dan menjelang tidur selalu minum susu dengan botol.Saya dan suami sudah berkomitmen untuk melatih syaina minum susu dengan gelas.Beberapa usaha yang kami lakukan adalah 

  • Kami lakukan sounding kepada syaina saat suasana hati syaina sedang senang.
  • Kami mengajak syaina melihat video anak yang sedang minum susu dengan gelas.
  • Melibatkan syaina memilih gelas dengan karakter yang ananda sukai
  • Melibatkan syaina membuat susu dengan gelas.
  • Mengajak syaina minum susu dengan gelas bersama-sama setiap pagi.
Usaha yang Kami lakukan tidak selalu sesuai harapan kami.Tangisan dan teriakan mewarnai proses usaha kami.Tidak jarang memicu perselisihan pendapat diantara kami.Tetapi kami sepakat bahwa ketika anak menginginkan sesuatu harus dengan cara yang baik.Bersikap sabar dan konsisten agar tidak mudah iba dengan teriakan dan tangisan anak sehingga tidak dijadikan senjata oleh anak ketika menginginkan sesuatu.Keinginan ananda tidak pernah kami luluskan selama ananda meminta dengan cara yang tidak baik.Yang kami lakukan adalah bersikap acuh tak acuh dengan tetap mengawasi tingkah laku anak sampai ananda selesai menangis dan berteriak.Setelah kondisi tenang,kami lanjutkan sounding dan negosiasi.Akhirnya anak sepakat untuk minum susu dengan gelas.Walaupun saat minum susu dengan gelas tidak selalu habis,kami memaklumi bahwa ini adalah masa adaptasi anak dan kami berikan pujian atas sikap ananda tersebut.Latihan ini terus dilakukan setahap demi setahap.








#Level2
#Day7to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#ODOPfor99days

Senin, 27 Februari 2017

Materi melatih kemandirian

*Institut Ibu Profesional*
_Materi Bunda Sayang Sesi #2_


*MELATIH KEMANDIRIAN ANAK*

_Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?_

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

_Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?_

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

_Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?_

☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th  adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦 Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
👨‍👩‍👦‍👦 Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
👨‍👩‍👦‍👦Komitmen dan konsisten dengan aturan

Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

☘Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦Hargai keinginan anak-anak
👨‍👩‍👦‍👦Jangan buru-buru memberikan pertolongan
👨‍👩‍👦‍👦 Terima ketidaksempurnaan
👨‍👩‍👦‍👦 Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
👨‍👩‍👦‍👦 Berbagi peran bersama anak
👨‍👩‍👦‍👦 Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

☘Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

🔑Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah 
👨‍👩‍👦‍👦Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
👨‍👩‍👦‍👦Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
👨‍👩‍👦‍👦Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
👨‍👩‍👦‍👦Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko

Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

☘Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
🔟Berkarya

☘3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan

Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri? 

☘Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

_Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita_

Salam,


/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

_Sumber bacaan_:

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014_
_Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara_
_Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi_




Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

*Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak*


Membangun dan mendidik kemandirian anak bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama melatih anak mandiri ketika masih di usia dini. Secara alamiah anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian "Yes, I can!" Kata-kata ajaib ini merupakan sinyal dari kesadaran seorang anak terhadap diri dan kemampuannya sendiri untuk menentukan dirinya. 

Orang tua yang bijaksana memanfaatkan keinginan akan kemandirian ini dengan membiarkan anak-anak mereka mempraktikkan keterampilan mereka yang baru muncul sesering mungkin pada lingkungan yang aman atau ramah anak. Dukungan orang tua yang seperti ini memang sangat dibutuhkan anak agar dapat melakukan berbagai hal secara mandiri, termasuk aktivitas yang masih relatif sulit. 

Namun realita yang ada, orang tua terkadang merasa tidak tega, tidak bersabar, khawatir yang lahir karena bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak.  Inilah salah satu penyebab dari kegagalan anak dalam proses kemandiriannya. Oleh karena itu, orang tua perlu memperbaiki sikap mental agar tidak mudah khawatir dengan anak.

Faktor lingkungan juga terkadang ikut andil dalam kegagalan proses kemandirian anak. Dorongan negatif dari lingkungan sekitar yang terkadang menganggap apa yang orang tua lakukan untuk melatih kemandirian anaknya sebagai bentuk eksploitasi. Padahal yang paling terpenting dan utama dalam membangun dan mendidik kemandirian anak adalah ketika anak merasa senang dalam melakukan aktivitas kemandiriannya tanpa ada rasa takut ataupun karena ada rasa tekanan dari luar.

Perlu diketahui bahwa kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan perkembangan usianya. 

Adapun jenis kemandirian anak yang perlu dibangun adalah sebagai berikut:

*1. Kemandirian dalam Keterampilan Hidup*

Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam keterampilan hidup adalah memberi kesempatan, bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan, mengenakan baju sendiri, mandiri sendiri, dsb.

Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.

Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

*2. Kemandirian Psikososial*

Bertengkar itu tidak baik. Tetapi menghentikan pertengkaran begitu saja, menjadikan anak kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan konflik. Kita memang harus menengahi dan adakalanya menghentikan. Tetapi kita juga harus membantu anak menggali masalahnya, merunut sebabnya dan menawarkan jalan keluar kepada anak, baik dengan menunjukkan berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil maupun menanyakan kepada anak tentang apa saja yang lebih baik untuk dilakukan.

Apa yang terjadi jika kita bertindak keras terhadap berbagai konflik yang terjadi antar anak? Banyak hal,  salah satunya anak tidak berani mengambil sikap yang berbeda dengan teman-temannya, meskipun dia tahu bahwa sikap itulah yang seharusnya dia ambil. Padahal kita seharusnya menanamkan pada diri anak sikap untuk mendahulukan prinsip daripada harmoni. Rukun itu penting, tapi hidup dengan berpegang pada prinsip yang benar itu jauh lebih penting. Kita tanamkan kepada mereka _principles over harmony_ , melakukan hal-hal yang benar semata-mata karena prinsip. Bukan karena ada orang lain yang memaksa anak melakukannya.

Lalu apakah yang harus kita lakukan jika anak sedang bertengkar? Apakah kita biarkan mereka? Tidak. Kita tidak boleh membiarkan. Kita harus menangani. Membiarkan anak bertengkar dengan keyakinan mereka akan mampu menyelesaikan sendiri dapat memicu terjadi situasi submisif, yakni siapa kuat dia yang menang. Dan inilah yang sedang terjadi di negeri kita. Bahkan urusan antre pun, siapa yang kuat dia yang duluan. Dampaknya akan sangat luas dan bisa menakutkan.

Kita juga dapat melatih kemandirian psikososial anak secara lebih luas. Melatih _toilet trainee_ beserta adab-adabnya. Melatihnya bagaimana adab ketika bertamu atau menerima tamu, adab berbicara kepada yang lebih tua atau yang lebih muda, dan lain sebagainya.

*3. Kemandirian Belajar*

Inilah proses serius kita hari ini. Banyak sekolah yang bersibuk mengajari anak agar terampil membaca, menulis semenjak usia dini, tapi lupa bahwa yang paling mendasar adalah sikap positif, kemauan yang kuat, dorongan dan kebanggaan akan kegiatan tersebut. 

Jika anak memiliki kemauan yang kuat untuk belajar disertai keyakinan (bukan hanya paham) bahwa belajar itu penting, maka kita dapat berharap anak akan cenderung menjadi pembelajar mandiri saat mereka memasuki usia 10 tahun. Sebaliknya jika kita hanya mengajari mereka berbagai kecakapan belajar semisal membaca, menulis, dan berhitung di usia dini, mungkin awalnya mereka menggebu-gebu untuk mempelajari semua itu, namun di usia 10 tahun justru menjadi titik balik berupa kejenuhan serta keengganan belajar. 

*4. Kemandirian Emosional*

Bekal pokok dari kemandirian emosional adalah pengenalan diri yang diikuti dengan penerimaan diri, kemudian pengendalian diri. Ini memerlukan peran orangtua dalam mengajak anak untuk mengenali kelebihan-kelebihan, kekurangan, kemampuan dan kelemahannya sendiri. Pada saat yang sama orangtua menunjukkan penerimaan terhadap kekurangan maupun kelemahan anak, tetapi bukan berarti membiarkan anak melemahkan dirinya sendiri. Malas dan enggan mengatasi masalah merupakan bentuk sikap melemahkan diri sendiri. Orangtua perlu menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Maka tak patut merendahkan orang lain, tak pantas pula meninggikan diri. Lebih-lebih untuk sesuatu yang diperoleh tanpa melakukan usaha apa pun alias sepenuhnya merupakan pemberian semenjak lahir.

Yang juga penting untuk dilakukan adalah mendampingi anak mengenali kebutuhannya. Balita pun tak perlu rewel jika ia telah dapat mengenali kebutuhannya untuk istirahat. Perlu juga mendampingi mereka untuk belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan perlu dipenuhi, meski tak serta-merta. Sedangkan keinginan, adakalanya dapat dituruti, tetapi tetap perlu belajar menahan diri. Semua ini ditumbuhkan bersamaan dengan menguatkan dorongan sekaligus kemampuan bertanggung-jawab, termasuk berkait dengan konsekuensi atas berbagai tindakan mereka.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Sumber bacaan : 

Muhammad Fauzil Adhim, Anak Perlu Belajar Mandiri, Majalah Hidayatullah edisi November 2014.

Ciri Anak Mandiri dan Tahapan Perkembangan Kemandirian, www.AlMaghribiCendekia.com, 2015

William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004

Belajar merapikan mainan sendiri

Melatih kemandirian




Action 5: Belajar merapikan mainan



Salah satu cara saya saat ingin mengedukasi anak adalah dengan membacakan buku menjelang tidur malam.Tujuannya bukan untuk menggegas anak cepat membaca.Saya membacakan buku untuk menasehati anak dan membuat anak mempunyai kesan mendalam dari kisah-kisah yang saya bacakan.

Salah satu contoh kasus ketika anak selesai bermain dengan kondisi mainan/buku yang berantakan.Tantangan bagi saya adalah bagaimana cara mengedukasi anak ikut serta membantu saya merapikan dan menyimpan mainan/bukunya kembali ke tempat semula. Membutuhkan energi yang cukup banyak bagi saya untuk merapikan mainan anak jika setiap selesai bermain anak terbiasa meninggalkan mainan tanpa merapikan terlebih dahulu.Saya bacakan saja buku tentang manfaat anak dapat merapikan mainannya sendiri.Sepertinya cara ini cukup efektif bagi saya dibandingkan harus on the spot menasehati anak.Alhamdulillah setiap kami selesai bermain,saya ajak merapikan dan menyimpan mainan ke tempat semula,syaina dengan muka riang membantu saya.Saya berikan pujian setiap anak berhasil menyelesaikannya (hore syaina pinter ya sambil nyanyi lagu hallo balita).




Ini sedikit percakapan kami ketika syaina berhasil membantu saya merapikan buku ke dalam container.
Ketika container yang kemarin kami beli dibuka.Anak spontan mengambil buku dalam kardus dan meletakkan dalam container.
Umi.    : lagi apa nak?
Syaina: bukunya di taruh sini ya mi.Kayak sali (nama anak dalam buku cerita) di bukunya aku(sambil nyanyi lagu hallo bilita).Aku bisa merapikan mainan sendiri,Ooo aku suka buku…..(kira-kita begitu lirik lagunya).





#Level2
#Day5to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian


Jumat, 24 Februari 2017

Belajar makan sendiri

Melatih Kemandirian


Action 3: makan sendiri

Pratek kemandirian hidup sangat penting.Tujuannya adalah agar kelak anak tidak bergantung kepada orang lain termasuk orang tuanya.Karena kami sebagai orang tua tidak selamanya hidup dan tidak selalu ada disamping anak-anak kami.

Praktek kemandirian hari ini adalah makan sendiri.Sebagai fasilitator anak,saya harus tega memberikan tantangan latihan kemandirian kepada anak.Kebiasaan kami dirumah adalah makan bersama.Stimulus yang baik untuk mengajak anak berlatih makan sendiri bersama-sama.Ini bukan kali pertama syaina bisa makan sendiri.Sesekali syaina minta disuapi untuk mengobati rasa kangen disuapi oleh uminya.

Beberapa persiapan yang dilakukan syaina sebelum makan:
1.Mencuci tangan dengan sabun
2.Mengambil posisi duduk
3.Doa bersama sebelum makan
4.Mengambil nasi dan lauk secukupnya

Saya mengenalkan adab saat makan kepada syaina yaitu makan dengan tangan kanan dan makan harus duduk,tidak jalan-jalan/lari-lari,tidak sambil bermain atau berputar-putar disekeliling rumah,makan makanan yang ada didepan kami.

Ketika syaina makan sendiri,porsi makanannya lebih sedikit dibandingkan dulu saat syaina masih disuapi.Hanya intensitas makannya saja yang perlu ditingkatkan.Waktu makannya pun lebih lama.Hal ini lah yang membuat saya harus bersabar untuk tidak segera membantunya.Membiarkan syaina menikmati proses belajarnya.Catatan penting bagi saya bahwa untuk tidak memaksa syaina makan jika ananda belum menginginkannya.Karena anak yang merasa lapar secara otomatis akan makan.

Syaina tidak selalu menghabiskan makanannya.Saya terus sounding diwaktu yang tepat tidak on the spot tentang rizki makanan dari Allah,konsep mubazir jika makanan tidak dihabiskan dan proses yang sangat panjang untuk mendapatkan sebutir nasi.Makanan yang terlanjur tidak habis,kami kumpulkan untuk disedekahkan kepada ayam disekeliling rumah.





#Level2
#Day3to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Rabu, 22 Februari 2017

Syaina belajar membuat susu

Melatih kamandirian 


One week one skill
Pekan   1:minum susu memakai gelas
Pekan 2:mandi tepat waktu dan cebok sendiri


List ketrampilan kemandirian yang ingin dilatih:
  1. Membuat/menyiapkan susu sendiri
  2. Makan sendiri
  3. Mandi sendiri
  4. Training toilet terutama cebok sendiri
  5. Meletakkan pakaian kotor pada tempatnya
  6. Membuang sampah
  7. Mengambil jemuran dan merapikan pakaian
  8. Latihan bersih-bersih seperti menyapu dan mengepel lantai,mengelap kaca,membersihkan debu dengan kemoceng,latihan mencuci pakaian,menjemur baju.
  9. Mencuci peralatan makan dan minum
  10. Merapikan mainan
  11. Memakai baju sendiri dan bersolek srtrlah mandi (memakai minyak telon,bedak,hair lotion,hair&body,parfum)
  12. Merapikan tempat tidur


Action 1:Menyiapkan dan membuat susu sendiri

Tantangan kali ini adalah membuat susu sendiri.Ketika syaina meminta dibuatkan susu,saat itu saya tawarkan option:
"dibuatkan umi atau membuat sendiri?"

Syaina: Spontan syaina menjawab "Aku yang buat mi."
Umi: Ok.Siap...Ayo.
Berusaha memberikan kesempatan kepada syaina untuk mencoba tantangan baru.


Saat proses membuat susu syaina belum terlibat penuh dalam setiap tahap.Syaina andil pada tahap menuangkan susu bubuk kedalam botol sampai susu siap diminum.Tahapan yang dilakukan syaina adalah

  1. Botol susu berisi air hangat (proses ini dilakukan oleh umi)."Umi ambilkan air panas dulu yah?".Saya belum memberikan kesempatan kepada syaina untuk menuangkan sendiri air panas kedalam botol karena saya masih menyimpan air panas didalam termos berukuran besar.Saya kategorikan berbahaya (zona merah).Untuk tantangan berikutnya,sebagai fasilitator saya wajib memfasilitasi proses belajar anak untuk meningkatkan intellectual curiosity dengan menyediakan sarana yang ramah anak.Terlintas ide untuk melatih anak mengambil air panas dan menuangkan ke dalam botol dari dispanser yang bisa dijangkau anak dan lebih aman untuk anak,tentu tetap dalam pengawasan.
  2. Memasukkan susu bubuk sebanyak lima sendok teh kedalam botol yang telah berisi air hangat.Syaina sudah paham bahwa untuk memasukkan susu bubuk kedalam botol melalui mulut botol dengan diameter yang terbatas harus hati-hati dan perlu trik/cara khusus.Syaina mengambil susu bubuk dengan takaran tidak penuh satu sendok teh (jumlahnya relatif sedikit).Tujuannya agar susu bubuk tidak jatuh berserakan ke lantai.Ternyata proses ini tidak berjalan lancar.Tetap ada susu bubuk yang jatuh ke lantai.Tidak menjadi masalah karena melalui proses ini,syaina dapat belajar hati-hati untuk memindahkan susu bubuk dari satu wadah ke wadah yang lain (botol susu).
  3. Selesai memasukkan susu bubuk kedalam botol,tahap selanjutnya adalah diaduk."Mi susunya diaduk yah?".Syaina belajar mengaduk dengan cara yang benar.Tangan kiri syaina memegang botol dan tangan kanannya digunakan untuk mengaduk.Syaina berhasil mengaduk susu tanpa ada cairan susu yang tumpah.Alhamdulillah bisa....
  4. Beberapa susu bubuk yang berserakan dilantai saat proses penuangan,syaina kumpulkan dan mencoba untuk membersihkannya.
  5. Botol susu kemudian ditutup.Pada tahap ini,syaina belajar menutup botol dengan benar.Tutup botol dipasang dengan posisi yang pas (tidak miring) pada mulut botol,diputar searah jarum jam sampai kencang.Hore tahapan ini lolos.
  6. Bungkus susu bubuk dirapikan kembali dengan melipatnya beberapa kali.
  7. Susu siap diminum.
  8. Setelah selesai minum susu,syaina meletakkan botol susu kedalam washtaffel untuk dicuci.Kali ini tidak langsung ananda cuci sendiri tetapi biasanya dilain waktu ananda cuci botol susu yang kotor tersebut.


Moment saat syaina membuat susu sendiri


Dari tantangan membuat susu sendiri,syaina belajar beberapa hal yaitu:

  •  Syaina belajar konsep air panas dan air dingin jika mengenai sebuah benda termasuk kulit tubuh.
  • Belajar mengenal konsep air menempati berbagai jenis wadah,salah satunya botol.
  • Belajar tahapan membuat susu dengan benar dari awal sampai akhir proses pembuatan.
  • Melatih motorik halus dan daya konsentrasi.



#Level2
#Day1to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#ODOPfor99days