Tampilkan postingan dengan label Keluarga pelem kalih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga pelem kalih. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2019

Syaina 5y4m, anak sholehah yang rajin bantu umi. Saat tahu uminya hamil dan kelelahan, anak ini sigap sekali membantu uminya. 
Mengambilkan obat jika mau habis
Mengambilkan obat dan air minum jika akan minum. 
Membantu umi mengerjakan pekerjaan sehari-hari seperti mengepel, menyapu. 
Memijat bagian tubuh umi ketika umi merasakan keluhan dibagian tubuh tertentu. 
Paham dan tidak mengajak uminya main saat uminya lelah/sakit.
Menemani uminya kontrol ke dokter untuk melihat kondisi kesehatan dan tumbuh kembang calon adiknya. 
Mendoakan umi dan adiknya agar selalu diberi sehat, persalinannya lancar dan umi nggak kesakitan. 
Membantu umi membereskan keperluan untuk adeknya kelak. 
Membantu mengusulkan nama yang baik untuk adeknya. 
Mengelus, mencium dan menunjukkan kasih sayang seorang kakak ke adeknya. 
Masih banyak hal lain yang ananda lakukan untuk umi dan calon adeknya. 

Masya allah, nikmat allah mana yang kami dustakan? Diberi anak yang sholehah lebih berharga bahkan tak ternilai harganya dibandingkan diberi harta yang melimpah. 

Semoga allah selalu memampukan kami orang tuanya untuk terus membersamai anak-anak kami, menjaga titipanmu sebaik-baiknya, menumbuhkan dan merawat fitrahnya.Sesungguhnya hanya Allah yang maha mendidik. 
Ampuni kehilafan kami, kefakiran kami selama membersamai titipanMU. Aamiin....

Membantu umi mengepel lantai




Ikut umi belajar kelas MPASI

Rabu, 23 Januari 2019

Aku belajar menutup aurat (berjilbab)

Waktu perjalanan berangkat dari rumah ke wonogiri, syaina memakai kerudung tanpa dilepas. Wow keren banget, sebelumnya tak bertahan selama itu πŸ‘πŸ˜˜.Ghairahnya untuk menutup aurat dengan mengenakan kerudung sedang memuncak. Memang kami orang tuanya tidak pernah memaksanya untuk berkerudung sejak dini. Hanya saja saya uminya sebagai role model berusaha memberikan contoh dan sounding dengan ramah. 

Dan ternyata kata abi, saat syaina jalan-jalan selama uminya belajar sfhf,  syaina tetap memakai jilbab saat bepergian diwarnai dengan sesekali melepasnya. Wow keren.... 

Senin pagi, 21 Januari 2019 kami bersiap untuk kembali ke rumah setelah perjalanan belajar sfhf di salatiga 3 hari yang lalu. Saat itu saya dan syaina sudah menyiapkan baju ganti. Kami mandi bergantian. Syaina mandi lebih dulu dan saya setelahnya. Ghairah syaina yang sedang memuncak memakai jilbab membuat dirinya ingin mencoba memakai kerudung segitiga milik uminya yang sebenarnya sudah kotor. Syaina memang sudah bisa memakai jilbab segitiga tanpa berkaca, saya hamya diminta membantunya memasangkan peniti. Ciput uminya satu-satunya yang sudah disiapkanpun dipakai olehnya.Waktu itu saya hendak memakai phasmina yang memerlukan ciput.  
Lha ciput umi dipakai? 
Nanti umi pakai yang mana? (dengan nada agak kecewa,agak menekan dan muka datar). 

Ada perasaan kecewa dalam diri. Tapi saya berusaha untuk diam dan tak memaksanya untuk melepas ciput. 

Syaina meminta izin:
Syaina pinjem ciputnya umi, boleh?

Syaina mencoba menawarkan solusi.
Mi nanti umi pakai kerudungnya di slempangin dulu ke sini (maksudnya pundak seperti gaya ibu pejabat), buat sementara pas ambil ciput lagi di mobil.
Nah nanti syaina temenin, syaina bantu pegangin di mobil. Nah kan ada ciputnya,nanti umi pakai di mobil. Syaina dibelakang, umi di depan pakainya. 

Saya tetap diam agak kecewa dan masih muncul ego untuk tetap meminta ciput yang dipakai syaina. Dan masih beruntung saat itu saya tak mengeluarkan kata-kata tidak produktif untuknya.Sampai abinya selesai mandi, syaina bahkan meminta tolong pada abinya yang hendak ke mobil ambil celana.
Bi umi nggak ada ciputnya (ananda bermaksud minta tolong abi mengambilkan ciput untuk umi). 
Beberapa saat kemudian abi datang membawa ciput milik syaina. 
Saya coba pakai dan ternyata tidak nyaman karena kekecilan. Dan ego saya muncul lagi dengan nada dan ekspresi yang menunjukan kekecewaan berharap syaina mau tukeran ciput. 

Entahnya seketika saya tergerak ke mobil mengambil ciput saya yang lain di koper. Dan kembali ke kamar. 

Umi ada ciput lagi? Tuh kan ada. Ekspresinya seneng melihat uminya bersedia ambil dan pakai ciput lain. 

Suasana kembali cair. Syaina kembali meminta izin:
Mi syaina boleh pakai jilbab segitiga ini keluar dibawa jalan-jalan. 
Spontan saya jawab:Boleh....Dalam hati masih mengganjal,lha masa pergi pakai kerudung begitu mana pakainya dendek. Sifat perfect masih bergejolak. Tapi umi yang lagi belajar menurunkan ego dan sabar demi fitrah individu ananda tumbuh hebat. 

Kami melanjutkan rencana perjalanan.Dan syaina berhasil bertahan memakai jilbab selama perjalanan pulang jogja-purwokerto.Alhamdulillah yeyeyeyey😘.

Setelah saya renungkan dan flashback. Ada hikmah:
- Saya bersyukur saat ghairahnya memakai kerudung tak diterciderai oleh ego diri saya yang badmood saat ciputnya dipakai ananda. Bayangkan saja,jika saat itu saya tetap mempertahankan ego diri sampai ananda mengalah memberikan ciputnya. Apa yang terjadi? Mungkin ghairahnya memakai jilbab akan turun, imaji negatif tentang kerudung mungkin akan muncul dan fitrah individunya terciderai. Ya allah hamba bersyukur engkau menenangkan egoku dan mengintervensiku. 
- Syaina sudah sangat keren menawarkan problem solving ketika ciput saya dipakai ananda. Keren cara berpikirnya....Ini mengindikasikan art of discoverynya tumbuh. Memang masih menjadi  PR besar saya untuk bersabar dan menurunkan ego demi anak agar tak reaktif lagi dalam merespon sesuatu.
- Benar kata pak dodik gurunda saya, bahwa kita harus bisa melihat sisi positif anak terlebih dahulu dan mengapresiasinya. Tak buru-buru memberi feedback apalagi feedback negatif yang destruktif.
- Bahwa kami orang tuanya perlu bersabar seluas-luasnya untuk tidak menggegas anak. Kami hanya perlu menemani prosesnya dan terus bersabar. Bahwa buah tak selalu nampak sesuai yang kami harapkan waktu itu. Kami tak tahu kapan buah itu akan tumbuh merekah. Kami hanya perlu bersabar disetiap prosesnya. 







#PortofolioSyaina
#4y6m


Senin, 09 April 2018

Berakvitas bareng

Minggu 8 april 2018 adalah waktunya we family. 

Dimulai dari bersepeda pagi bersama.Saat bersepeda melewati hamparan sawah di sisi kanan dan kiri jalan, kami membicarakan banyak ciptaan allah. Ada sinar matahari yang menghangatkan badan, udara pagi yang sejuk, melihat petani yang sedang menanam benih padi, allah yang akan menumbuhkan benih padi hingga bisa di panen, di olah menjadi beras dan dimasak oleh kita menjadi beras. Melihat air sungai yang mengalir, melihat sapi dan kambing,mengamati bagaiman mereka makan dan memproses makanannya. Tak lupa kami mampir ke rumah saudara yang sejalan dengan rute bersepeda kami untuk bersilaturahmi. Hikmah yang kami dapatkan lewat perjalanan ini adalah betapa banyaknya nikmat allah yang diberikan untuk kita, tidak ada sedikitpun nikmatNya yang bisa kami dustakan, menumbuhkan fitrah iman ananda tentang Allah yang Maha Penyayang, indahnya kebaikan. 

Awalnya ananada membawa mainan boneka-bonekaan yang ananda peroleh dari Utinya. Wujud kasih sayang utinya adalah menuruti hampir semua keinginan cucunya walaupun anak tidak membutuhkan. Tapi berbeda bagi kami orang tuanya, tidak semua keinginannya harus kami penuhi. Ada beberapa pertimbangan kami untuk hal ini. Kami akan melihat seberapa urgensinya bagi ananda, apakah ini hanya keinginan saja atau memang kebutuhannya. Penting bagi kami melatih kecerdasan finansial sejak dini yang ramah fitrah perkembangan. Kami mengenalkan konsep bekerja-sedekah-menabung-memberikan pilihan butuh/tidak untuk membelinya /menggunakan uang tabungannya. Kami bernegosiasi dan memberikan penjelasan kepada ananda jika ego keinginannya mucul,mencoba mencari jalan tengah yang terbaik. Akhirnya kami sepakat untuk membuat mainan boneka dari kardus bekas. Memanfaatkan bahan yang ada dan membuatnya bersama-sama menjadi mainan lebih bermakna dan bermanfaat dibanding membeli mainan instan. Tetapi Syaina kurang menikmati proses ini. 


Makan bersama dimeja makan menjadi we time yang keren, dengan makan bareng kami ngobrol banyak hal yang menambah bonding keluarga. Kami melatih life skill ananda dengan makan sendiri, mengambil lauk,minum dan apa yang ananda butuhkan dengan melihat kemampuannya. Membaca doa bersama keras-keras, mencontohkan untuk meletakkan piring dan gelas ditempatnya usai makan,mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. 

Bermain peran fotocopy
Beberapa hari yang lalu, syaina ikut kami untuk fotocopy. Mungkin gaya belajar syaina adalah visual auditory. Syaina mengamati apa-apa yang ananda lihat dan segera mempraktekan peran hasil pengamatannya ketika sampai dirumah.
Mi maen fotocopy-fotocopyan yuks
Umi jadi orang yang mau fotocopy
Aku jadi mas-mas yang fotocopy

Syaina mempraktekan apa-apa yang ananda lihat.
Syaina mengambil brosur hasil fotocopy uminya kemarin
Menanyakan apa yang mau difotocopy
Menulis disecarik kertas seolah-olah itu hasil fotocopy
Melakukan transaksi jual beli dengan uang mainan.



Transaksi jual beli dengan uang mainan

Sudah mampu menulis cakar ayam pada setiap kotak



Bermain boneka-bonekaan
Bermain boneka-bonekaan bersama umi, syaina dan umi berperan sebagai ibunya dan boneka sebagai anaknya. Layaknya seorang ibu yang mempunyai anak bayi, syaina menyusui,memandikan,membantu memakaikan baju, membacakan cerita sebelum tidur ke anaknya.Empatinya mulai tumbuh. 

Story telling oya ke umi dan abinya
Saat bermain boneka-bonekaan, syaina membacakan cerita sebelum tidur kepada boneka.Syaina mengambil buku yang ingin ananda ceritakan. Ananda mengambil buku berjudul "asal mula namaku". Syaina membuka lembar demi lembar dan menceritakan apa-apa yang ia lihat dalam gambar.Aktivitas ini bisa menjadi tahap pralatih membaca. Bahagia rasanya menjadi orang tua yang selalu melihat perkembangan anaknya setahap demi setahap. Diusianya 3y8m,syaina lebih suka memilih judul buku yang ingin diceritakan uminya atau memilih buku yang ingin ananda ceritakan isinya kepada kami. Bahkan ketika abinya keliru menceritakan isi atau alur cerita yang ada dalam buku,syaina akan mengintervensi dan mengkoreksinya.

Story telling di depan umi dan abinya


Ke mesjid bersama
Kami mencoba untuk shalat magrib berjama'ah di masjid. Bahkan kadang syaina yang mengajak kami ke masjid. Kami mencoba menumbuhkan fitrah imannya tentang cinta masjid. Menunjukkan ekspresi muka bahagia saat adzan berkumandang dan bergegas menuju masjid. Bukan tertib syariahnya yang menjadi fokus kami,tetapi menumbuhkan ghairah tentang masjid. Membangun imaji positif tentang beribadah, shalat dan masjid melalui atmosfir keteladanan orang tuanya. Berharap agar anaknya menjadi sholehah kelak dengan cara mendahulukan diri kami menjadi sholeh/sholehah terlebih dahulu. To change for things, we must change first.

Syaina sudah mampu melakukan beberapa gerakan shalat,melakukan urutan gerakan shalat,hafal beberapa surat pendek untuk shalat seperti al fatihah. Kadang syaina ikut shalat sampai raka'at terakhir, kadang syaina hanya satu raka'at. Ini pun sudah sangat bagus untuk usianya. Kami mengapresiasi ghairah shalatnya bukan tertib shalatnya. Menjaga kemuliaan anak ketika di masjid dengan cara menanamkan adab ke mesjid melalui imaji positif. Kami tidak mau cepat mengadabkan anak dengan cara yang buruk agar anak terlihat santun di masjid yang justru akan menimbulkan imaji negatif tentang shalat dan masjid. Tapi tidak pula menurunkan kemuliaan anak karena orang lain yang sedang beribadah terganggu akibat sikap syaina. Kami membawa anak shalat dimasjid  pada waktu sepi jamaah dan sepi anak-anak.Saat ini syaina dalam tahap meniru,apapun yang dilakukan orang lain/anak lain yang menarik baginya akan ananda ikuti. Syaina juga tipe anak yang suka bermain dengan teman-temannya ketika dimasjid, saat itu tidak tepat bagi kami untuk membawanya ke masjid karena syaina akan ikut berlarian atau bersuara keras. Sedangkaan saat temannya hanya satu atau tidak ada maka syaina akan lebih kondusif dimasjid.

Membaca beberapa surat pendek 
Syaina tiba-tiba membaca surat alfatihah didepan umi dan abinya. Syaina mungkin tipe auditory (masih proses mengamati), sehingga metode talaqi dan membacakan surat pendek dengan suara keras akan direkam oleh syaina. Syaina hafal surat alfatihah karena sering mendengar imam membacanya saat sholat berjamaah di masjid atau karena kami sering memutar alqur'an memo di hp. Hafal/tidak surat-surat pendek saat ini bukan menjadi target kami. Kami tidak ingin terobsesi lebih cepat agar syaina cepat hafal surat pendek. Tetapi ghairah untuk cinta al qur'an yang sedang kami tumbuhkan.Ketika ghairahnya tumbuh hebat maka rasa cinta untuk membaca,menghafal dan mengamalkannya akan ada disaat yang tepat dengan niat yang tulus bukan karena paksaan,perintah semata yang cepat pudar. Tidak berlaku kaidah makin cepat makin bagus, tetapi berlaku kaidah indah pada waktunya. 

Bermain memfoto dan difoto
Syaina suka bermain foto selfie atau memfoto objek. Umi dan abinya selalu menjadi objek pertama. Malam itu syaina bergembira memfoto abinya yang memakai kacamata kupu-kupu. Secara bergantian syaina meminta saya untuk memfoto dirinya yang sedang memakai kacamata kupu-kupu dengan berbagai gaya. Binar matanya terlihat bahagia.




Membacakan buku dan mengucap syukur sebelum tidur.
Hal ini rutin kami lakukan sebelum tidur.Menambah binding, media untuk menumbuhkan fitrah iman dengan cara membaca kisah tentang alqur'an, keteladanan rasulullah dan para sahabat, tentang allah,tentang akhlaq baik,dll.Mengucap syukur atas segala nikmat allah yang diberikan kepada kami hari ini akan membangun imaji positif tentang kasih sayang allah. 



#potofoliosyaina
#3y8m
















Kamis, 15 Februari 2018

Mengapa kami tinggal didesa ini??

Pertanyaan ini kadang muncul dalam obrolan kami:

"Kenapa kami tinggal ditempat ini?"
"Apa maksud allah menempatkan kami ditempat ini?"

Inilah pertanyaan yang terus kami gali jawabannya

Beberapa tanda-tanda yang mungkin menjadi petunjuk jawaban atas pertanyaan diatas adalah
1. Ada misi khusus yang allah berikan kepada keluarga kami untuk memberikan kebermanfaatan bagi lingkungan tempat tinggal kami sekarang.Bidang usaha yang saya jalani saat ini adalah pelayanan kefarmasian.Memang didesa saya belum ada fasilitas kesehatan berupa apotek untuk memberikan pelayanan kefarmasian bagi masyarakat didesa kami.Lewat restu orang tua dan atas izin allah,saya berhasil mendirikan apotek didesa dan mencoba memberikan pelayanan kefarmasian semampu saya.
2.Mencoba membaca isu sosial yang ada didesa saya.Bahwa ekonomi keluarga masih sangat rendah dan pendidikan keluarga masih belum tersentuh.
Lagi-lagi allah memberikan kami rizki yang melimpah sehingga kami bisa berbagi rizki dan entah kenapa di penghujung akhir tahun 2016 allah membukakan mata hati kami dan membimbing kami untuk terus belajar sebagai orang tua dengan lebih banyak belajar tentang konsep pendidikan berbasis fitrah dan dipertemukan dengan para keluarga se visi.Semakin yakin bahwa:

"it's take a village to rise a child"

Apakah hal ini menjadi tandaNya bahwa suatu saat nanti lewat laku kehidupan keluarga kami sekarang akan menjadi role model baru untuk pendidikan keluarga di sekitar lingkungan kami agar lebih melek pendidikan keluarga dan kembali kepada fitrah orang tua dalam mendidik anak-anak.

Ya allah mampukan kami jika ini adalah misi yang engkau amanahkan kepada kami



#day4
#Tantangan100hari
#15Februari2018
#Purwokerto
#KelasPortofolioAnakbyGPA
#GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta
#PekaAkanUnikAnak




Rabu, 14 Februari 2018

Gen keluarga (potensi kekuatan keluarga)








#tantangan2
#diaspora
#Perak2018
#KekuatanKeluarga
#day3
#Tantangan100hari
#14Februari2018
#Purwokerto
#KelasPortofolioAnakbyGPA
#GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta
#PekaAkanUnikAnak


Jumat, 09 Februari 2018

Perjalanan memantaskan diri sebagai orang tua

Akhir tahun 2016 keluarga kami mulai dibukakan hidayah oleh Allah untuk belajar tentang parenting,arti keluarga,dan bertemu dengan banyak keluarga hebat yang menginspirasi.Beribu-ribu syukur kami panjatkan kepada yang Maha Kuasa atas hidayahNYA kepada keluarga kami.Betapa sayangnya Allah kepada kami,sehingga kami dituntun untuk terus belajar dan semakin mendekatkan diri kepadaNYA.

Selama kurang lebih satu tahun (September 2016-sekarang), kami mengikuti beberapa seminar parenting,berkomunitas dan berkegiatan bersama dalam rangka update diri sebagai orang tua dan keluarga yang selalu ingin berproses untuk terus maju dan up to date dalam membersamai ananda sebagai anak jaman now dan gernerasi mendatang.Karena kami sebagai orang tua harus terus belajar untuk mendidik ananada sesuai jamannya bukan lagi memakai pola asuh turunan orang tua kami dahulu.

"Didiklah anak sesuai jamannya"

Selama berproses,kami kemudian mencoba untuk merumuskan apa misi dan visi keluarga kami.Misi adalah alasan keberadaan keluarga kami didunia ini.Bukankah Allah menciptakan kami tanpa sia-sia dan pasti ada maksud penciptaan.Sedangkan visi adalah apa yang dicita-citakan keluarga kami dalam merealisasikan misi.Visi ini harus selaras dengan misi.Berikut adalah profil keluarga kami

PROFIL KELUARGA PELEM KALIH

NAMA KELUARGA
KELUARGA PELEM KALIH (KPK)

FILOSOFI NAMA KELUARGA

Sifat dermawan
Menurut KBBI dermawan artinya pemurah hati, orang yang suka berderma (beramal, bersedekah).

Menjelang musim mangga, para petani mulai memangkas sebagian ranting dan cabang dari pohon mangga. Bahkan ada yang sampai melukai dan menyayat kulitnya tetapi tidak sampai ke kambium. Walaupun dengan penuh rasa sakit dan nyeri, namun pohon mangga sadar bahwa ini merupakan salah satu upaya kelangsungan kehidupannya. Pohon mangga rela melepaskan sebagian anggota tubuhnya sebab yakin dia akan semakin produktif. Setelah beberapa waktu tumbuhlah daun baru dengan bunga-bunga kecil di seluruh dahan dan ranting. Bunga berubah menjadi mangga kecil yang berwarna hijau, bakal buah mangga manis dan menyegarkan. 

Hikmah: Untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar pasti ada sesuatu yang harus kita lepaskan dari diri kita terlebih dahulu. Untuk mendapatkan materi (harta) yang melimpah,  kita wajib melepaskan sedikit harta yang menjadi hak Allah. Harapan kami,mudah-mudahan sifat dermawan ini akan menjadi sifat yang melekat dalam diri keluarga kami
Sikap Ikhlas dan Istiqomah
Ikhlas  menurut KBBI artinya bersih hati, tulus hati.
Istiqomah menurut KBBI artinya sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Pelajaran yang bisa diambil dari buah mangga adalah Kejelekan dibalas dengan kebaikan. Perlakuan buruk orang lain terhadap diri dan keluarga seharusnya bukan dibalas dengan kejelekan pula tetapi dengan kebaikan.
Ketika buah mangga sudah nampak ranum, banyak orang yang melemparinya/mengambilnya dengan cara yang tidak baik misalnya melempar dengan batu. Dilempar dengan batu, dibalas dengan lemparan buah mangga yang  manis. 

Bermanfaat sepanjang hidupnya
Pohon yang rindang memberikan keteduhan bagi siapa saja yang berteduh dibawahnya. Buahnya yang muda sudah bisa dinikmati dengan rasa khas asemnya yang menyegarkan. Buah yang telah matang dapat dirasakan manisnya dan memberikan kesegaran. Sifatnya yang produktif ini memberikan kebermanfaatan bagi sesama makhluk Allah lainnya.

Ketiga sifat yang dimiliki pohon mangga diharapkan sejalan dengan visi keluarga pelem kalih yaitu bahagia dunia akhirat dengan sifatnya yang dermawan, ikhlas dan istiqomah. Memberikan kebermanfaatan dengan potensi uniknya masing-masing.
Bidang yang kami tekuni adalah bidang bisnis. Mangga Dua yang dalam bahasa jawa artinya pelem kalih adalah brand name bisnis dan brand name keluarga kami. Awalnya nama tersebut digagas oleh ayah kami yang membuka toko dengan nama mangga dua karena disamping toko ada dua buah pohon mangga besar yang telah lama tumbuh melewati tiga generasi yaitu ayah,anak dan cucu. Entah bagaimana nama tersebut spontan muncul menjadi ide untuk nama bisnis saya dan suami. Kami lebih suka menyebut “Mangga Dua” dengan nama “Pelem Kalih” karena lebih jawa dan santun terdengar. menjadi brand name bisnis dan keluarga. 

VISI KELUARGA (CITA-CITA KELUARGA)
Bahagia dunia dan akhirat
Bermanfaat bagi sesama

MISI KELUARGA (MAKSUD PENCIPTAAN/ALASAN KEBERADAAN/TUGAS)
Membangun keluarga yang produktif dibidang bisnis,Harmonis dan Bermanfaat bagi sesama dengan kolaborasi potensi uniknya masing-masing.

Pembagian peran dibidang bisnis adalah

Indra Octa Supraba
Membangun relasi (relator),koneksi, humas, pemeliharaan inventory,melayani customer.
Tema bakat: Competition, discipline,input,significance, maximizer, consistency, belief, relator, conectedness, responsibility

Linda Kurniawati
Membuat managemen bisnis meliputi managemen keuangan, pengelolaan inventory dan SDM.Managemen keuangan adalah hal yang paling disukai.
Tema bakat: analytical, discipline, achiever, maximizer, futuristic, arranger, focus, input, responsibility dan competition.

Naura Syainala Maritza
Sifat unik yang terlihat sejauh ini adalah kompetisi (competision),suka mengatur/suka memerintah (command),suka melayani (belief),empati ,maximizer (suka rapi) dan tidak sabaran (activator). Sifat ini bukan label akhir bagi kami untuknya.Nama-nama sifat unik ini muncul dari hasil observasi kami selama menemani ananda hingga usia tiga tahun untuk memberikan konotasi positif. Sifat unik ini masih sangat mungkin berubah.


Setelah menyamakan suhu FoR daN FoE dengan beberapa kali nyangkruk dalam family forum dan melewati sekian kali pembelajaran lewat berbagai media dan sumber akhirnya tahun ini kami mencoba membuat FSP bidang keuangan keluarga dalam vision board dan menuliskan tahapan keluarga berkualitas "A" versi KPK serta mecoba komitmen dan konsisten dalam membangun habit baru yang lebih baik.





Beberapa habit yang sedang kami bangun adalah
1.Puasa sunnah senin kamis bersama
2. Shalat magrib dan isya berjamaah
3.Sholat sunah tahajud dan dhuha minimal 3xseminggu
4.Free gedget time 17.00-20.00 untuk berkegiatan bersama full hati dan pikiran bersama keluarga
5.Bersedekah rutin setiap awal bulan
6.Silaturahmi dengan keluarga lumbir minimal 2xsebulan,silaturahmi dengan teman komunitas untuk up grape wawasan dan ilmu minimal 2x setahun.




Rabu, 08 November 2017

Visit to Temanggung Version Pelem Kalih Family

Trip to Temanggung

Bulan ini agenda TSF adalah berkunjung ke temanggung.

1.Visit to Singgih home's
Rumah pak singgih adalah tujuan pertama kami. Pak singgih adalah penemu karya kreatif radio magno,spedagi dan pasar papringan. Saat itu kami datang terlambat karena belum paham daerah dan hujan deras selama perjalanan yang memperlambat laju kami. Sesampainya dirumah pak singgih, kami sudah terlambat mengikuti diskusi bersama pak singgih.Pak singgih bercerita tentang awal lahirnya karya kreatif beliau. Orang hebat yang mampu menjadi Changer agen dalam mengangkat isu sosial yang ada disekitar tempat tinggalnya. Melalui idenya beliau berhasil menemukan radio magno yaitu radio berbahan dasar kayu yang merupakan hasil kreatif kerajinan tangan.
Spedagi adalah singkatan dari kata sepeda pagi.Berawal dari kebiasaan pak singgih yang suka bersepeda pagi.Uniknya sepeda ini dibuat dari bahan dasar yang melimpah di alam yaitu bambu. Sedangkan pasar papringan adalah pasar ramah lingkungan yang memiliki visi gerakan revitalisasi desa untuk mengangkat kembali budaya masyarakat setempat agar tetap lestari. 







2.Bermalam di home stay "oemah tani"

Setelah diskusi dengan pak singgih,ba'da magrib kami menuju oemah tani untuk bermalam disana. Sesampainya di oemah tani, saya taking demean desain oemah tani yang unik dan nyaman.Rumah yang dibuat dari bahan dasar bambu, jerami dan kayu.Rumah ini terdiri dari dua lantai yaitu lantai atas dan bawah. Lantai atas digunakan untuk beristirahat, bisa menampung orang dengan kapasitas kurang lebih 20 orang.Sedangkan lantai dasar terdiri dari ruang tamu untuk ngobrol santai, dapur, dan toilet. 




Saat itu cuaca malam cerah.Kami para ibu asyik berberes untuk menyiapkan makan malam dan melakukan aktivitas memasak mendoan untuk teman makan dan nyangkruk. Bapak-bapak langsung nyangkruk di ruang tamu.Anak-anak langsung bermain dilantai atas. Walaupun mereka jarang bertemu tetapi sudah asyik bercanda dan bermain bersama. Inilah sisi hebat anak-anak. 

Setelah semua hidangan siap. Kami langsung makan bersama.Masing-masing dari kami membawa bekal nasi dan lauk sendiri. Ada banyak lauk disana ada tempe bacem, bakso,mendoan,oseng daun pepaya, oseng tuna, balado terong, buah2an,dll.Seperti meja peradaban dimana seluruh keluarga makan bersama.Suasana kebersamaan, bahagia, rasa sayang melengkapi kami. Setelah makan kami para ibu langsung beberes dan menuju lantai atas untuk menemani anak-anak tidur karena waktu sudah cukup malam dan kami lelah setelah melakukan perjalanan jauh dari kota masing-masing. Ternyata dugaan kami para orang tua meleset. Anak-anak masih terus bermain sampai tengah malam. Mereka bergadang layaknya orang dewasa. Berlari sana-sini, naik turun, membaca buku dan menulis, main boardgame, bermain dengan kucing, dll. Ketika yang satu bermain maka semuanya akan bermain, ketika yang satu tidur maka satu demi satu anak-akan akan tidur. Rasanya sudah seperti keluarga dekat. Akhirnya kami para ibu-ibu ikut nyangkruk sembari mengawasi kegiatan bermain anak-anak. Bapak-bapak masih terus nyangkruk dilantai bawah. Tepat tengah malam kami pun beristirahat untuk mencharge stamina agar siap belajar besok pagi. 

Tepat saat adzan subuh berkumandang, kami bangun pagi untuk melaksanakan ibadah shalat subuh dan bersiap ke pasar papringan. Anak-anak masih tertidur nyenyak akibat begadang semalam. Pukul 6.30 kami siap menuju pasar papringan. Foto bersama menjadi menu pagi kami. 




3. Visit to pasar papringan

Lama perjalanan menuju pasar papringan dari oemah tani kurang lebih 30 menit. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan indah maha karya sang pencipta yaitu dua gunung yang letaknya berdampingan. Kedua gunung tersebut bernama sindoro dan sumbing. Udara pagi yang sejuk menambah rasa syukur kami. 

Nampaknya sudah banyak orang yang menuju pasar papringan.Banyak kendaraan antri disepanjang jalan masuk pasar papringan. Ternyata pasar papringan ini berlokasi di tengah-tengah pemukiman penduduk. 

Dari tempat parkir menuju pasar papringan,kami harus berjalan kaki.Saat berjalan kaki menuju lokasi kami disuguhkan dengan banyak pohon bambu (dalam bahasa jawa disebut pring) dikanan dan kiri. Dan tiba-tiba sampailah kami dipintu masuk pasar. Samakin penasaran dan takjub dengan pasar ini

Beberapa hal yang membuat kami takjub adalah
  • Sebelum masuk kami harus berantri untuk membeli koin papringan berbahan dasar bambu. Koin papringan ini digunakan sebagai mata uang untuk transaksi jual beli dipasar.KerenπŸ‘πŸ‘πŸ‘
  • Pasar ini adalah pasar ramah lingkungan zero waste dari sampah organik seperti plastik yang susah didegenerasi. Pasar yang unik dan bersih. Kami harus membeli keranjang bambu sebagai wadah belanja kami. Syaina berkesempatan belajar transaksi jual beli. Syaina memilih sendiri keranjang bambu dan membayarnya dengan koin papringan. Asyeekkk aku bisa 😘
  • Selain transaksi jual beli, di pasar ini menyediakan fasilitas dan area bermain anak dengan permainan tradisional. Ada ayunan, egrang,  dan jungkat jungkit. Disediakan juga perpustakaan mini yang unik. Ramah anak dan ramah literasi.πŸ‘πŸ˜
  • Semakin memasuki bagian dalam pasar, semakin ramai pengunjung. Pasar ini terletak diantara pohon bambu yang mengelompok sehingga disebut sebagai papringan (tempat yang banyak bambunya). 
  • Pasar ini didirikan dengan visi sebagai gerakan revitalisasi desa dengan beberapa pendekatan kreatif. Tujuan pendirian pasar ini bukan sebagai desa wisata yang ingin mencari keuntungan saja tetapi lebih untuk melestarikan budaya agar tidak punah. Budaya untuk menumbuhkan rasa guyub rukun, melestarikan kearifan lokal seperti bambu sebagai bahan dasar kerajinan tangan,dll sehingga bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar,melestarikan budaya orang jawa bahwa papringan digunakan sebagai tempat untuk melakukan banyak aktifitas seperti bermain anak, membuat kerajinan tangan, transaksi jual beli yang bebas sampah. Nilai-nilai seperti inilah yang ingin dijaga dan dilestarikan. 
  • Pasar papringan hanya dibuka setiap sebulan sekali yaitu setiap minggu pon. Kenapa menggunakan kalender jawa??Tujuannya adalah agar kita tetap ingat dengan nama-nama kalender jawa (pon,wage,kliwon,manis dan pahing).
  • Pasar ini fokus menjual tiga hal yaitu hasil pertanian dan peternakan, makanan tradisional dan kerajinan tangan. Hanya saja sebagian besar pasar ini menjual makanan tradisional. Ada banyak makanan tradisional yang sebelumnya kami tidak tahu dan semakin penasaran untuk mencoba. Kami mencoba lontong mangut, soto, jajanan ndeso, sego kuning, dll.




Minggu, 01 Oktober 2017

Edutrip wonogiri


1. Family stategic planning dan Tallent maping (21 September 2017)

Perjalanan edutrip kali ini adalah perjalanan yang membuat kami galau untuk memutuskan keikutsertaannya. Situasi dirumah sedang tidak memungkinkan untuk kami tinggalkan, tiga hari sebelum keberangkatan bapak terkena musibah kecelakaan dan ada berita hangat terkait kasus peredaran obat ilegal yang membuat heboh dunia kefarmasian. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk berangkat mendadak dengan persiapan packing seadanya. Pada tanggal ini perjalanan ke wonogiri baru saja dimulai.Ini adalah kali pertama kami berkunjung ke wonogiri. Bermodalkan GPS,kami mengikuti rute jalan sesuai petunjuk yang ada di GPS.Jalur yang dipilih ada via bantul jogjakarta.Awalnya perjalanan menyenangkan,setelah memasuki wilayah bantul kami disuguhkan dengan pemandangan hutan dimana kanan kiri jalannya dipenuhi oleh pemadangan pohon jati. Rumah penduduk pun masih sangat jarang. Perasaan khawatir, takut dan tidak nyamanpun hadir. Kami khawatir jika kami salah jalan dan nyasar. Kami merasa bahwa perjalanan ini sangat jauh dan asing. Ditengah perasaan tersebut, kami harus yakin bahwa kami pasti akan sampai ketempat tujuan. Akhirnya setelah melewati perjalanan panjang selama 9 jam (Start pukul 08.00-finish pukul 17.00),kami sampai ditempat tujuan pertama yaitu angkringan sopo ngiro tempat berlangsungnya pemaparan FSP masing-masing keluarga peserta edutrip kali ini.Perasaan cape hilang seketika saat berjumpa kembali dengan teman-teman yang kami kenal di event cangkrukan. Syaina bertemu dengan teman-temannya dan salah satu teman mainnya yang seumuran yaitu naura (namanya sama ya). Walaupun ini pertemuan yang kedua kali tapi saya merasa bahwa sudah tidak ada jarak diantara kami. Saya merasa memiliki banyak keluarga.Sangat disayangkan kami tidak bisa mengikuti seasion FSP, tapi tidak perlu khawatir karena kami masih memiliki kesempatan untuk belajar dengan ngobrol lebih dekat bersama keluarga-keluarga hebat ini. 

Setelah seasion FSP selesai, kami lanjut menuju penginapan di tempat kelurga mbak dewi dan mas noor (klinik bunafsi) . Kami diberikan pelayanan yang luar biasa oleh keluarga hebat ini (keluarga sopo ngiro). Kami menempati kamar-kamar klinik. Kami diberikan kesempatan untuk bersih-bersih dan menikmati suasana malam pertama diwonogiri. Menikmati jamuan makan malam soto sumenep buatan ibunda keluarga doyan dolan. Rasanya enak tosotonya. Dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi tentang tallent mapping oleh pak lukman dari keluarga kelana bumi allah. Terimakasih pak lukman yang sudah berbagi ilmu tentang tallent maping.Jazakumullah khairan katsir. 

Ada makna dibalik setiap kegiatan yang kami lakukan. Kami mencoba mengikat makna dari kegiatan hari pertama ini,bahwa:

Belajar bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dimana saja dan dengan cara apa saja. Kami para orang tua belajar dengan cara yang santai tapi serius karena kami memiliki pokok bahasan yang jelas. Lantas bagaimana dengan anak-anak? 
Walaupun anak-anak belum bisa duduk tenang bersama kami. Tetapi kami yakin bahwa mereka melihat dan mendengar apa-apa yang kami bicarakan. Mereka menjadi saksi bahwa orang tuanya terus belajar dengan caranya untuk terua memantaskan diri menjadi orang tua yang lebih baik. Anak-anak melakukan observasi dengan mengenal lingkungan yang baru mereka jumpai dan berinteraksi dengan orang-orang baru.




Sesi pemaparan "tallent mapping"


2. Kunjungan ke SABS dan Live in Kampung wayang (22 September 2017)

Agenda hari kedua rombongan travelschooler families adalah berkunjung dan berbagi ke SABS (Sekolah Alam Bengawan Solo) yang merupakan tempat sekolah nuansa. Dalam perjalanan menuju SABS,kami disuguhkan dengan pemandangan sawah dan banyak burung "kuntul" kami menyebutnya. Pemandangan yang langka, karena didaerah tempat tinggal kami burung kuntul tersebut sudah tidak pernah dijumpai disawah. Tujuan kami berkunjung ke SABS adalah untuk bersilaturahmi dan berbagi dengan teman-teman di SABS. Sesi berbagi kali ini diisi oleh keluarga doyan dolan tentang jenis-jenis kain dan keluarga bening hati tentang pengalaman mendaki gunung. Keren ya dua keluarga tersebut. Mudah-mudahan kelurga kami bisa berbagi seperti dua kelurga tersebut. Aamiin....





Ada hal yang menarik,yang saya temukan juga beberapa kali saat trip ke beberapa tempat yaitu syaina suka bermain peran seolah-olah sedang mendokumentasikan kegiatan dengan cara memfoto atau memvideokannya dan observer terhadap hal-hal yang menarik perhatiannya.Syaina belajar dengan mengamati kegiatan yang sedang berlangsung. Ketika mengamati,ananda begitu serius dan detail memperhatikannya. Entah apa yang ada dalam imajinasinya. Contohnya saat bunda noor berbagi tentang jenis-jenis kain, syaina sempat menyimak dengan serius beberapa kali.Ada makna dibalik kejadian ini yaitu syaina belajar fokus dan konsentrasi pada hal yang menarik perhatiannya.


Disaat dua keluarga tersebut (doyan dolan dan bening hati) berbagi,keluarga pelem kalih dan keluarga fahrizal_Ika bereksplorasi di area lain. Duo naura bermain prosotan, ayun-ayunan dan bereksplorasi dengan apa-apa yang mereka temui disana. Ibunya bertugas sebagai fasilitator yang mendampingi mereka bermain. Sedangkan para ayah berdiskusi asyik dengan pemilik SABS.





Konsep SABS ini sangat menarik perhatian saya dan anak-anak. Tidak seperti sekolah formal pada umumnya yang memiliki gedung dengan banyak fasilitas didalamnya. Sekolah ini memiliki halaman yang luas untuk bermain dan belajar anak-anak. Ada gasebo/panggok yang terbuat dari material kayu,digunakan untuk kegiatan indoor yang dibuat sendiri oleh pendiri sekaligus pemilik sekolah alam ini.

Pelajaran yang kami dapat setelah berkunjung ke SABS adalah:


  • Belajar tidak harus didalam gedung, tetapi bisa dimana saja.Alam adalah laboraturium terlengkap, sebagai tempat belajar anak-anak. 
  • Orang tua adalah pendidik utama dan pertama. Sekolah sebagai sarana untuk membantu orang tua memfasilitasi pendidikan anak-anaknya bukan sebagai penanggung jawab penuh untuk mendidik anak. Orang tua hendaknya ikut terlibat dalam pendidikan anak
  • Setiap anak memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikannya. Sekolah seharusnya bersedia menerima apapun kondisi anak yang ingin belajar tanpa ada seleksi akademis,fisik,derajat sosial,dll ketika akan masuk ke sekolah.








Setelah berkunjung ke SABS,kami melanjutkan perjalanan ke kampung wayang untuk live in disana. Sesampainya di kampung wayang kecamatan manyaran, kami diterima dengan baik oleh penduduk disana.Kami dijamu dengan makan siang khas desa kempuhsari yaitu bothok jambu mete, jangan lombok, sayur pepaya dan beberapa makanan wonogiri. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya untuk makan bothok jambu mete dan rasanya enak ada sensasi asem manis. Nampaknya pohon jambu mete masih sangat banyak disana,berbeda dengan didesa kami yang hampir tidak pernah dijumpai lagi. Selain makanannya yang khas, bentuk rumah disana juga khas dan tradisonal yaitu berbentuk limas dan pendek yang sebagian besar materialnya adalah dari kayu. Suasana pedesaan yang sunyi,tenang dan sejuk dengan banyak pohon.


Tiba saatnya pembagian home stay untuk live in selama semalam. Masing-masing keluarga mendapatkan kesempatan live in di home stay penduduk. Keluarga kami dan keluarga fahrizal_ika mendapatkan kesempatan untuk tinggal dalam satu home stay karena kedua anak kami yang seumuran dan suka bermain bersama. Ini adalah pertama kali kami tinggal satu rumah dengan orang yang belum kami kenal sebelumnya. Host familynya bernama pak suroso. Rumah tersebut dihuni oleh tiga anggota keluarga. Kami dijamu dengan sangat baik saat live in di home stay pak suroso.  Disiapkan kamar, dibuatkan camilan khas wanogiri dan makan malam yang sederhana tetapi nikmat sekali. Anak-anak sempat bermain dengan salah satu teman barunya warga asli desa kepuhsari,namanya pita. Hebatnya anak-anak adalah begitu kenal langsung bermain bersama. Kami para orang tua nyangkruk bersama host family. Suasana kekeluargaan begitu hangat. Walaupun hanya satu malam kami disana, tetapi kami mendapatkan pengalaman luar biasa.






Rumah limas khas kampung wayang

Sore hari kami keliling ke home industri pembuatan wayang kulit:
1.Tempat pengolahan kulit basah hewan ternak seperti kambing, sapi, kerbau menjadi kulit kering siap olah.Kulit kering tersebut siap ditatah menjadi kerangka dasar wayang kulit.Lama pembuatan satu wayang kulit adalah selama kurang lebih tiga hari sampai satu minggu tergantung tokoh wayang dan tingkat kerumitan wayang. Yang paling rumit adalah saat pembuatan gunungan. Karena proses pembuatannya dikerjakan manual dengan tangan sehingga berpengaruh pada harga wayang yaitu sekitar 1,5juta tergantung tokoh dan kerumitan wayang.
2.Setelah ditatah,tahap kedua adalah pemberian warna/pengecatan.Warna cat ini menyesuaikan tokoh wayangnya.
3.Tempat untuk pelatihan menatah wayang bagi warga sekitar termasuk anak-anak yang tertarik belajar membuat wayang. Keren.....
4.Tahap finishing, quality control sebelum siap dijual.
5.Berkunjung ke tempat penyimpanan dan latihan gamelan.










Ada hal menarik yang saya temukan disini saat membersamai ananda, beberapa kali ananda mencoba memainkah tokoh wayang setelah mengamati abinya bermain (Si observer), mulai dari menyentuh wayang, melihat secara bergantian tokoh wayang dan mencoba menjadi dalang dengan mengoperasikan tokoh wayang.


Setelah berkunjung ke home industry, kami pulang menuju ke home stay masing-masing. Dilanjutkan nyangkruk malam dengan host family. Kami dijamu dengan suguhan makan malam yang dimasak sendiri oleh tuan rumah. Ada urab sayuran, tahu dan tempe, telur dan ayam. Masakannya enak lho, pedesnya terasa banget dilidah. Terimakasih bu, kami sudah dijamu dengan sangat baik oleh keluarga pak suroso. Jazakumullah khairan katsir....

Setelah makan malam,kami menuju sanggar untuk mengikuti workshop beberapa tahapan pembuatan wayang seperti menatah (memahat kulit), menyungging (mewarnai), melukis kaca, gamelan dan mendalang. Saya dan keluarga hanya melihat saja,tidak ikut dalam workshop tersebut. Kami memutuskan untuk pulang ke home stay karena waktu sudah malam (pukul setengah 10) dan syaina sudah ngantuk,kami perlu istirahat cepat karena besok subuh kami harua berangkat ke puncak joglo.

Subuhpun datang, tiba waktunya kami berpamitan dengan keluarga pak suroso pemilik home stay. Kami mengucapkan terima kasih dan foto bersama sebagai kenang-kenangan. Kami diberi oleh-oleh oleh keluarga pak suroso. Maturnuwun karena sudah merepotkan, lah kok malah dikasih oleh-oleh juga. 



Perpisahan dengan host family di kampung wayang manyaran

3. Kunjungan ke puncak joglo dan Live in Desa Beji (23 September 2017)

Hari terakhir dari rangkaian perjalanan kami adalah ke puncak joglo dan live in didesa beji.
Berangkat jam 5 pagi setelah shalat subuh dari kampung wayang ke puncak joglo. Anak-anak balita masih tertidur dan kami orang dewasa belum mandi. Setelah berpamitan di home stay masing-masing kami berkumpul di sanggar budaya untuk berpamitan kepada para pengurus sanggar. Saat perjanana menuju puncak joglo matahari terbit sudah mulai terlihat, haduh gagal rencana kami melihat sunrise.

Kami berhenti dirumah salah satu warga, untuk pindah armada.Keluarga sopo ngiro sebagai tour guide merasa khawatir untuk membawa kami naik ke puncak joglo dengan mobil masing-masing. Sehingga kami pindah armada dengan supir yang berpengalaman dengan medannya dan armada yang biasa digunakan untuk membawa penumpang menuju puncak joglo. Kami dibagi dalam dua tahap,tahap pertama mobil mengangkut ibu-ibu dan anak-anak laki-laki/perempuan pra aqil baligh.Tahap kedua mobil mengangkut para bapak-bapak.

Perjalanan menantang baru saja dimulai. Tanjakan demi tanjakan memacu adrenalin kami. Ada tanjakan dengan ketinggian hampir 90 derajat. Tikungan sangat tajam membuat kami penumpang didalam mobil beristigfar dan sesakali berteriak. Perjalanan selma kurang lebih 30 menit, membawa kami sampai di puncak joglo. Subhanallah kami disuguhkan dengan lukisan indah karya Allah sang Maha Pencipta. Kabut dingin masih menyelimuti. Langit dan awan tampak begitu dekat,nyata dan indah. Ada tambak dan pepohonan yang memanjakan mata kami. Moment yang pas untuk menumbuhkan fitrah iman pada ananda. Bagaimana hebatnya Allah dengan penciptaannya. Tidaklah lupa untuk mengabadikan lukisan indah ciptaan Allah tersebut. Disana kami para ibu-ibu duduk bersama bercerita,berfoto dan bersenda gurau sambil menunggu bapak-bapak datang. Anak-anak balita tak luput dari pengamatan orang tuanya. Kumpulan anak-anak dan para jomblowati bermain tebak-tebakan. Saya, ika dan duo naura akhirnya ikutan nimbrung main tebak-tebakan. Dan para bapak-bapak yang ditunggu pun datang dengan membawa sarapan. Kami langsung berfoto dengan keluarga masing-masing. Mengabadikan moment tak terlupakan. Dilanjutkan sarapan bersama, nasi rames dan teh hangat.hemmm yummy..... Foto bersama keluarga travelschooler menjadi sesi penutup dipuncak joglo.Keep smile..... 😊😘.


















Kami kembali ke rumah keluarga sopo ngiro untuk mandi dan istirahat sebelum lanjut live in dikampung beji. Syaina mengajak saya berkeliling klinik, melihat apa saja yang ada disana. Dan syaina menemukan mainan anak-anak.Asyikk.....Syaina bertanya keberadaan dede bayi ke salah satu karyawan spa baby disitu. Setelah ditunjukkan akhirnya syaina mengajak saya masuk untuk melihat bayi yang sedang di pijit dan renang. Syaina suka banget dengan anak bayi atau anak dengan usia lebih muda darinya. Keinginan untuk observasi kembali datang. Melihat dengan serius bagaimana proses saat bayi dipijat full dengan ekspresi bayinya dan saat bayinya renang. Syaina sempat recalling memory saat dulu ananda melakukan hal yang sama dengan apa yang ananda lihat saat ini. Syaina melihat proses pijat dan renang sampai hampir selesai, kemudian kami memutuskan untuk kembali ke kamar untuk mandi. 

Tepat pukul 11.00 wib kami melanjutkan perjalanan untuk live in di desa beji dengan berkurangnya satu keluarga "Rumah soka" yang memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Awalnya beberapa keluarga tidak ingin live in di beji dan ingin pulang ke rumahnya,tetapi setelah kami ngobrol akhirnya kami berlima keluarga melanjutkan edutrip live in di desa beji. Asyekk masih rame-rame. 

Sesampainya didesa beji kami bertemu dengan satu keluarga asli wonogiri yang sedang melakukan penelitian di desa tersebut, mereka yang menjembatani rangakaian kegiatan kami di desa beji. Kami berkumpul di rumah salah satu koordinator gapoktan yaitu ibu sis. Disana kami diterima dengan baik. Plt kepala desa beji dan peyuluh pertanian. 

Yang menarik didesa beji adalah banyak tanaman organik yang dijumpai disetiap rumah dan jalan.Tanaman yang paling sering dijumpai disetiap rumah dan jalan adalah buah naga. Pohonnya mirip kaktus dengan ukuran jumbo menjulang tinggi ke atas dan merambat. Sayangnya buah naga sedang tidak berbuah,karena termasuk tanaman musiman. Buah naga berbuah ketika bulan desember. Menurut bu sis, didesa beji setiap rumah wajib menanam 4 jenis tanaman.


Kami diajak berkeliling daerah beji dan melihat cara pembuatan pestisida organik, prebiotik dan biogas. Struktur tanah didesa beji ini sebenernya bukan struktur tanah yang sesubur di daerah kami, tetapi sangat luar biasa dengan kerja keras penduduk di desa ini menjadi desa yang sangat ramah lingkungan dengan fokus pada pengembangan dibidang pertanian organik. Bahkan ada dua jenis hasil pertanian didesa ini yang telah memperoleh sertifikasi yaitu buah naga dan beras merah. Keren.....πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Pestisida dibuat dari campuran tumbukan daun sirsak, lengkuas,jahe,tembakau/daun mojopahit dan air. Kemudian dimasukkan ke tangki untuk disemprotkan ke tanaman. 
Sedangkan prebiotiknya dibuat dari campuran debogan pohon pisang yang berwarna coklat, gula merah dan air cucian beras kemudian didiamkan selama semalam (kalau tidak salah) dan siap digunakan. Semuanya dari bahan alami.Pupuknya pun berasal sari kotoran hewan. Banyak rumah penduduk yang memelihara hewan ternak seperti sapi dan kambing. Kami juga diberi kesempatan untuk melihat proses pembuatan biogas dari kotoran sapi jenis limosin yang sangat besar. 




Syaina ikut mengamati proses pembuatan pestisida,prebiotik dan biogas. Kali ini syaina mengambil peran sebagai pendokumentasi kegiatan, suka dengan foto-foto bak seorang fotrografer. πŸ˜…πŸ˜˜
Difotonya bahan-bahan pembuat pestisida, hewan ternak dan lainnya. 





Kegiatan selanjutnya adalah praktek menanam di rumah bu sis. Asyeek anak-anak pasti suka. Kami diajarkan cara membuat media tanam.Media tanam disini dibuat dari tiga bahan yaitu arang sekam, pupuk kandang (dari kotoran hewan/bahan organik lainnya), dan tanah. Yuk langsung praktek... 


Anak-anak belajar dengan mengamati, melihat bu sis praktek mencampur bahan-bahan menjadi media tanam. Setelah media tanam siap, anak-anak praktek menanam secara bergantian.Ketagihan,antusias dan semangat tinggi untuk mengulangi setelah sekali mencoba menanam. Asyek menanam.....Dari kegiatan ini ada beberapa aspek fitrah yang ditumbuhkan yaitu Menumbuhkan fitrah belajar dengan praktek langsung,menumbuhkan fitrah iman dengan rasa cinta untuk menjaga lingkungan dan makhluk ciptaan Allah,menumbuhkan fitrah estetika. 



Waktu sudah sore, setelah menanam kami berdiskusi pembagian home stay. Duo naura live in di homestay yang sama. Nggak bisa dipisah😜.Kami tinggal di home stay milik pak cipto dan bu marini. Rumahnya besar dengan halaman rumah yang luas. Kami berkenalan dengan pemilik rumah yang ramah dan sopan. 

Ba'da magrib saya dan ika menuju rumah bu sis untuk melihat cara pembuatan intil.Kami diterangkan bagaimana cara membuat intil dan bahan dasarnya adalah singkong. Sayang saat sesi ini saya tidak bisa menyimak dari awal sampai akhir karena syaina mengajak bermain. Berguru ke ika saja 😝

Setelah makan malam bersama, kami siap melihat pertunjukan gejug lesung. Penasaran kira-kira seperti apa ya??Kami kaget ketika para pemain gejug lesung datang satu persatu dengan pakaian seragam nan ayu diikuti para warga datang untuk nonton bareng. Ternyata gejug lesung ini menjadi salah satu bagian pertunjukan untuk menyambut tamu. Wahh suatu kehormatan besar bagi kami. Padahal ekspektasi kami tidak sampai kesitu, dalam pikiran kami hanya melihat proses latihan gejug lesung bukan pertunjukannya.

Kami diberikan kesempatan untuk sambutan didepan warga. Diwakili oleh pak norman dari keluarga sopo ngiro. Tiba saatnya pertunjukan gejug lesung. Gejug lesung adalah pertunjukan seni dengan cara menggejug (memukul)  lesung (wadah untuk menumbuk) ukuran besar yang terbuat dari kayu dengan menggunakan tongkat kayu secara bersamaan dengan tempo tertentu,diiringi oleh nyanyian paduan suara. Dibutuhkan energi besar untuk memukul lesung, konsentrasi dan kekompakan diantara pemain gejug lesung ini. Ketika tidak konsentrasi akan membuat salah pukul dan tidak kompak sehingga kacau. Anak-anak tertidur ketika acara belum dimulai, sehingga mereka tidak bisa melihat langsung. Nanti cukup lihat hasil dokumentasinya. 




Saat gejug leaung berlangsung kami lanjut nyangkruk sampai pukul 22.00 wib. Setelah itu kami kembali ke home stay masing-masing untuk istirahat. Keesokan harinya saat pagi, kami nyangkruk dengan bu marini sambil membantu memasak bersama. Kami dijamu dengan sarapan pagi khas desa beji. Ada bothok,telur dadar, tempe tahu,lalap dan jangan lombok dengan nasi putih campur intil. Wahh merepotkan sekali nggih sekaligus bahagiaπŸ˜ŠπŸ˜˜πŸ‘


Tiba waktunya berpamitan, saling bersalaman dan mengucapkan terima kasih kepada pemilik home stay. Kami juga diberi oleh-oleh pisang yang enak banget,benih sayuran bayam, pare, labu dan bibit buah naga. Di akhiri dengan foto bersama. Kenangan yang tak terlupakan. 


Para keluarga berkumpul di rumah bu sis untuk berpamitan bersama. Kemudian kami saling berpamitan antar keluarga travelschooler. Sedih rasanya berpisah setelah kurang lebih 4 hari berkegiatan bersama. Kami baru kenal dan berjumpa sekali saat event cangkrukan tetapi kami sudah merasa dekat seperti keluarga karena kami punya visi dan misi yang sama dalam hal pendidikan anak. Sampai jumpa kembali di next edutrip keluarga homeschooler. Hati-hati di jalan.....πŸ˜ŠπŸ˜πŸ™


#ODOPfor99days2017