Rabu, 01 Maret 2017

Belajar minum susu pakai gelas

Melatih kemandirian


One week one skill pekan ini adalah melatih syaina minum susu dengan gelas.Tidak mudah merubah kebiasaan dari minum susu dengan botol ke minum susu dengan gelas.Keluar dari zona nyaman syaina.Tantangan terberat adalah saat syaina bangun tidur dan menjelang tidur selalu minum susu dengan botol.Saya dan suami sudah berkomitmen untuk melatih syaina minum susu dengan gelas.Beberapa usaha yang kami lakukan adalah 

  • Kami lakukan sounding kepada syaina saat suasana hati syaina sedang senang.
  • Kami mengajak syaina melihat video anak yang sedang minum susu dengan gelas.
  • Melibatkan syaina memilih gelas dengan karakter yang ananda sukai
  • Melibatkan syaina membuat susu dengan gelas.
  • Mengajak syaina minum susu dengan gelas bersama-sama setiap pagi.
Usaha yang Kami lakukan tidak selalu sesuai harapan kami.Tangisan dan teriakan mewarnai proses usaha kami.Tidak jarang memicu perselisihan pendapat diantara kami.Tetapi kami sepakat bahwa ketika anak menginginkan sesuatu harus dengan cara yang baik.Bersikap sabar dan konsisten agar tidak mudah iba dengan teriakan dan tangisan anak sehingga tidak dijadikan senjata oleh anak ketika menginginkan sesuatu.Keinginan ananda tidak pernah kami luluskan selama ananda meminta dengan cara yang tidak baik.Yang kami lakukan adalah bersikap acuh tak acuh dengan tetap mengawasi tingkah laku anak sampai ananda selesai menangis dan berteriak.Setelah kondisi tenang,kami lanjutkan sounding dan negosiasi.Akhirnya anak sepakat untuk minum susu dengan gelas.Walaupun saat minum susu dengan gelas tidak selalu habis,kami memaklumi bahwa ini adalah masa adaptasi anak dan kami berikan pujian atas sikap ananda tersebut.Latihan ini terus dilakukan setahap demi setahap.








#Level2
#Day7to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#ODOPfor99days

Senin, 27 Februari 2017

Materi melatih kemandirian

*Institut Ibu Profesional*
_Materi Bunda Sayang Sesi #2_


*MELATIH KEMANDIRIAN ANAK*

_Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?_

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

_Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?_

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

_Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?_

☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th  adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦 Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
👨‍👩‍👦‍👦 Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
👨‍👩‍👦‍👦Komitmen dan konsisten dengan aturan

Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

☘Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦Hargai keinginan anak-anak
👨‍👩‍👦‍👦Jangan buru-buru memberikan pertolongan
👨‍👩‍👦‍👦 Terima ketidaksempurnaan
👨‍👩‍👦‍👦 Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
👨‍👩‍👦‍👦 Berbagi peran bersama anak
👨‍👩‍👦‍👦 Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

☘Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

🔑Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah 
👨‍👩‍👦‍👦Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
👨‍👩‍👦‍👦Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
👨‍👩‍👦‍👦Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
👨‍👩‍👦‍👦Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko

Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

☘Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
🔟Berkarya

☘3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan

Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri? 

☘Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

_Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita_

Salam,


/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

_Sumber bacaan_:

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014_
_Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara_
_Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi_




Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

*Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak*


Membangun dan mendidik kemandirian anak bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama melatih anak mandiri ketika masih di usia dini. Secara alamiah anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian "Yes, I can!" Kata-kata ajaib ini merupakan sinyal dari kesadaran seorang anak terhadap diri dan kemampuannya sendiri untuk menentukan dirinya. 

Orang tua yang bijaksana memanfaatkan keinginan akan kemandirian ini dengan membiarkan anak-anak mereka mempraktikkan keterampilan mereka yang baru muncul sesering mungkin pada lingkungan yang aman atau ramah anak. Dukungan orang tua yang seperti ini memang sangat dibutuhkan anak agar dapat melakukan berbagai hal secara mandiri, termasuk aktivitas yang masih relatif sulit. 

Namun realita yang ada, orang tua terkadang merasa tidak tega, tidak bersabar, khawatir yang lahir karena bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak.  Inilah salah satu penyebab dari kegagalan anak dalam proses kemandiriannya. Oleh karena itu, orang tua perlu memperbaiki sikap mental agar tidak mudah khawatir dengan anak.

Faktor lingkungan juga terkadang ikut andil dalam kegagalan proses kemandirian anak. Dorongan negatif dari lingkungan sekitar yang terkadang menganggap apa yang orang tua lakukan untuk melatih kemandirian anaknya sebagai bentuk eksploitasi. Padahal yang paling terpenting dan utama dalam membangun dan mendidik kemandirian anak adalah ketika anak merasa senang dalam melakukan aktivitas kemandiriannya tanpa ada rasa takut ataupun karena ada rasa tekanan dari luar.

Perlu diketahui bahwa kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan perkembangan usianya. 

Adapun jenis kemandirian anak yang perlu dibangun adalah sebagai berikut:

*1. Kemandirian dalam Keterampilan Hidup*

Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam keterampilan hidup adalah memberi kesempatan, bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan, mengenakan baju sendiri, mandiri sendiri, dsb.

Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.

Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

*2. Kemandirian Psikososial*

Bertengkar itu tidak baik. Tetapi menghentikan pertengkaran begitu saja, menjadikan anak kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan konflik. Kita memang harus menengahi dan adakalanya menghentikan. Tetapi kita juga harus membantu anak menggali masalahnya, merunut sebabnya dan menawarkan jalan keluar kepada anak, baik dengan menunjukkan berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil maupun menanyakan kepada anak tentang apa saja yang lebih baik untuk dilakukan.

Apa yang terjadi jika kita bertindak keras terhadap berbagai konflik yang terjadi antar anak? Banyak hal,  salah satunya anak tidak berani mengambil sikap yang berbeda dengan teman-temannya, meskipun dia tahu bahwa sikap itulah yang seharusnya dia ambil. Padahal kita seharusnya menanamkan pada diri anak sikap untuk mendahulukan prinsip daripada harmoni. Rukun itu penting, tapi hidup dengan berpegang pada prinsip yang benar itu jauh lebih penting. Kita tanamkan kepada mereka _principles over harmony_ , melakukan hal-hal yang benar semata-mata karena prinsip. Bukan karena ada orang lain yang memaksa anak melakukannya.

Lalu apakah yang harus kita lakukan jika anak sedang bertengkar? Apakah kita biarkan mereka? Tidak. Kita tidak boleh membiarkan. Kita harus menangani. Membiarkan anak bertengkar dengan keyakinan mereka akan mampu menyelesaikan sendiri dapat memicu terjadi situasi submisif, yakni siapa kuat dia yang menang. Dan inilah yang sedang terjadi di negeri kita. Bahkan urusan antre pun, siapa yang kuat dia yang duluan. Dampaknya akan sangat luas dan bisa menakutkan.

Kita juga dapat melatih kemandirian psikososial anak secara lebih luas. Melatih _toilet trainee_ beserta adab-adabnya. Melatihnya bagaimana adab ketika bertamu atau menerima tamu, adab berbicara kepada yang lebih tua atau yang lebih muda, dan lain sebagainya.

*3. Kemandirian Belajar*

Inilah proses serius kita hari ini. Banyak sekolah yang bersibuk mengajari anak agar terampil membaca, menulis semenjak usia dini, tapi lupa bahwa yang paling mendasar adalah sikap positif, kemauan yang kuat, dorongan dan kebanggaan akan kegiatan tersebut. 

Jika anak memiliki kemauan yang kuat untuk belajar disertai keyakinan (bukan hanya paham) bahwa belajar itu penting, maka kita dapat berharap anak akan cenderung menjadi pembelajar mandiri saat mereka memasuki usia 10 tahun. Sebaliknya jika kita hanya mengajari mereka berbagai kecakapan belajar semisal membaca, menulis, dan berhitung di usia dini, mungkin awalnya mereka menggebu-gebu untuk mempelajari semua itu, namun di usia 10 tahun justru menjadi titik balik berupa kejenuhan serta keengganan belajar. 

*4. Kemandirian Emosional*

Bekal pokok dari kemandirian emosional adalah pengenalan diri yang diikuti dengan penerimaan diri, kemudian pengendalian diri. Ini memerlukan peran orangtua dalam mengajak anak untuk mengenali kelebihan-kelebihan, kekurangan, kemampuan dan kelemahannya sendiri. Pada saat yang sama orangtua menunjukkan penerimaan terhadap kekurangan maupun kelemahan anak, tetapi bukan berarti membiarkan anak melemahkan dirinya sendiri. Malas dan enggan mengatasi masalah merupakan bentuk sikap melemahkan diri sendiri. Orangtua perlu menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Maka tak patut merendahkan orang lain, tak pantas pula meninggikan diri. Lebih-lebih untuk sesuatu yang diperoleh tanpa melakukan usaha apa pun alias sepenuhnya merupakan pemberian semenjak lahir.

Yang juga penting untuk dilakukan adalah mendampingi anak mengenali kebutuhannya. Balita pun tak perlu rewel jika ia telah dapat mengenali kebutuhannya untuk istirahat. Perlu juga mendampingi mereka untuk belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan perlu dipenuhi, meski tak serta-merta. Sedangkan keinginan, adakalanya dapat dituruti, tetapi tetap perlu belajar menahan diri. Semua ini ditumbuhkan bersamaan dengan menguatkan dorongan sekaligus kemampuan bertanggung-jawab, termasuk berkait dengan konsekuensi atas berbagai tindakan mereka.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Sumber bacaan : 

Muhammad Fauzil Adhim, Anak Perlu Belajar Mandiri, Majalah Hidayatullah edisi November 2014.

Ciri Anak Mandiri dan Tahapan Perkembangan Kemandirian, www.AlMaghribiCendekia.com, 2015

William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004

Belajar merapikan mainan sendiri

Melatih kemandirian




Action 5: Belajar merapikan mainan



Salah satu cara saya saat ingin mengedukasi anak adalah dengan membacakan buku menjelang tidur malam.Tujuannya bukan untuk menggegas anak cepat membaca.Saya membacakan buku untuk menasehati anak dan membuat anak mempunyai kesan mendalam dari kisah-kisah yang saya bacakan.

Salah satu contoh kasus ketika anak selesai bermain dengan kondisi mainan/buku yang berantakan.Tantangan bagi saya adalah bagaimana cara mengedukasi anak ikut serta membantu saya merapikan dan menyimpan mainan/bukunya kembali ke tempat semula. Membutuhkan energi yang cukup banyak bagi saya untuk merapikan mainan anak jika setiap selesai bermain anak terbiasa meninggalkan mainan tanpa merapikan terlebih dahulu.Saya bacakan saja buku tentang manfaat anak dapat merapikan mainannya sendiri.Sepertinya cara ini cukup efektif bagi saya dibandingkan harus on the spot menasehati anak.Alhamdulillah setiap kami selesai bermain,saya ajak merapikan dan menyimpan mainan ke tempat semula,syaina dengan muka riang membantu saya.Saya berikan pujian setiap anak berhasil menyelesaikannya (hore syaina pinter ya sambil nyanyi lagu hallo balita).




Ini sedikit percakapan kami ketika syaina berhasil membantu saya merapikan buku ke dalam container.
Ketika container yang kemarin kami beli dibuka.Anak spontan mengambil buku dalam kardus dan meletakkan dalam container.
Umi.    : lagi apa nak?
Syaina: bukunya di taruh sini ya mi.Kayak sali (nama anak dalam buku cerita) di bukunya aku(sambil nyanyi lagu hallo bilita).Aku bisa merapikan mainan sendiri,Ooo aku suka buku…..(kira-kita begitu lirik lagunya).





#Level2
#Day5to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian


Jumat, 24 Februari 2017

Belajar makan sendiri

Melatih Kemandirian


Action 3: makan sendiri

Pratek kemandirian hidup sangat penting.Tujuannya adalah agar kelak anak tidak bergantung kepada orang lain termasuk orang tuanya.Karena kami sebagai orang tua tidak selamanya hidup dan tidak selalu ada disamping anak-anak kami.

Praktek kemandirian hari ini adalah makan sendiri.Sebagai fasilitator anak,saya harus tega memberikan tantangan latihan kemandirian kepada anak.Kebiasaan kami dirumah adalah makan bersama.Stimulus yang baik untuk mengajak anak berlatih makan sendiri bersama-sama.Ini bukan kali pertama syaina bisa makan sendiri.Sesekali syaina minta disuapi untuk mengobati rasa kangen disuapi oleh uminya.

Beberapa persiapan yang dilakukan syaina sebelum makan:
1.Mencuci tangan dengan sabun
2.Mengambil posisi duduk
3.Doa bersama sebelum makan
4.Mengambil nasi dan lauk secukupnya

Saya mengenalkan adab saat makan kepada syaina yaitu makan dengan tangan kanan dan makan harus duduk,tidak jalan-jalan/lari-lari,tidak sambil bermain atau berputar-putar disekeliling rumah,makan makanan yang ada didepan kami.

Ketika syaina makan sendiri,porsi makanannya lebih sedikit dibandingkan dulu saat syaina masih disuapi.Hanya intensitas makannya saja yang perlu ditingkatkan.Waktu makannya pun lebih lama.Hal ini lah yang membuat saya harus bersabar untuk tidak segera membantunya.Membiarkan syaina menikmati proses belajarnya.Catatan penting bagi saya bahwa untuk tidak memaksa syaina makan jika ananda belum menginginkannya.Karena anak yang merasa lapar secara otomatis akan makan.

Syaina tidak selalu menghabiskan makanannya.Saya terus sounding diwaktu yang tepat tidak on the spot tentang rizki makanan dari Allah,konsep mubazir jika makanan tidak dihabiskan dan proses yang sangat panjang untuk mendapatkan sebutir nasi.Makanan yang terlanjur tidak habis,kami kumpulkan untuk disedekahkan kepada ayam disekeliling rumah.





#Level2
#Day3to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Rabu, 22 Februari 2017

Syaina belajar membuat susu

Melatih kamandirian 


One week one skill
Pekan   1:minum susu memakai gelas
Pekan 2:mandi tepat waktu dan cebok sendiri


List ketrampilan kemandirian yang ingin dilatih:
  1. Membuat/menyiapkan susu sendiri
  2. Makan sendiri
  3. Mandi sendiri
  4. Training toilet terutama cebok sendiri
  5. Meletakkan pakaian kotor pada tempatnya
  6. Membuang sampah
  7. Mengambil jemuran dan merapikan pakaian
  8. Latihan bersih-bersih seperti menyapu dan mengepel lantai,mengelap kaca,membersihkan debu dengan kemoceng,latihan mencuci pakaian,menjemur baju.
  9. Mencuci peralatan makan dan minum
  10. Merapikan mainan
  11. Memakai baju sendiri dan bersolek srtrlah mandi (memakai minyak telon,bedak,hair lotion,hair&body,parfum)
  12. Merapikan tempat tidur


Action 1:Menyiapkan dan membuat susu sendiri

Tantangan kali ini adalah membuat susu sendiri.Ketika syaina meminta dibuatkan susu,saat itu saya tawarkan option:
"dibuatkan umi atau membuat sendiri?"

Syaina: Spontan syaina menjawab "Aku yang buat mi."
Umi: Ok.Siap...Ayo.
Berusaha memberikan kesempatan kepada syaina untuk mencoba tantangan baru.


Saat proses membuat susu syaina belum terlibat penuh dalam setiap tahap.Syaina andil pada tahap menuangkan susu bubuk kedalam botol sampai susu siap diminum.Tahapan yang dilakukan syaina adalah

  1. Botol susu berisi air hangat (proses ini dilakukan oleh umi)."Umi ambilkan air panas dulu yah?".Saya belum memberikan kesempatan kepada syaina untuk menuangkan sendiri air panas kedalam botol karena saya masih menyimpan air panas didalam termos berukuran besar.Saya kategorikan berbahaya (zona merah).Untuk tantangan berikutnya,sebagai fasilitator saya wajib memfasilitasi proses belajar anak untuk meningkatkan intellectual curiosity dengan menyediakan sarana yang ramah anak.Terlintas ide untuk melatih anak mengambil air panas dan menuangkan ke dalam botol dari dispanser yang bisa dijangkau anak dan lebih aman untuk anak,tentu tetap dalam pengawasan.
  2. Memasukkan susu bubuk sebanyak lima sendok teh kedalam botol yang telah berisi air hangat.Syaina sudah paham bahwa untuk memasukkan susu bubuk kedalam botol melalui mulut botol dengan diameter yang terbatas harus hati-hati dan perlu trik/cara khusus.Syaina mengambil susu bubuk dengan takaran tidak penuh satu sendok teh (jumlahnya relatif sedikit).Tujuannya agar susu bubuk tidak jatuh berserakan ke lantai.Ternyata proses ini tidak berjalan lancar.Tetap ada susu bubuk yang jatuh ke lantai.Tidak menjadi masalah karena melalui proses ini,syaina dapat belajar hati-hati untuk memindahkan susu bubuk dari satu wadah ke wadah yang lain (botol susu).
  3. Selesai memasukkan susu bubuk kedalam botol,tahap selanjutnya adalah diaduk."Mi susunya diaduk yah?".Syaina belajar mengaduk dengan cara yang benar.Tangan kiri syaina memegang botol dan tangan kanannya digunakan untuk mengaduk.Syaina berhasil mengaduk susu tanpa ada cairan susu yang tumpah.Alhamdulillah bisa....
  4. Beberapa susu bubuk yang berserakan dilantai saat proses penuangan,syaina kumpulkan dan mencoba untuk membersihkannya.
  5. Botol susu kemudian ditutup.Pada tahap ini,syaina belajar menutup botol dengan benar.Tutup botol dipasang dengan posisi yang pas (tidak miring) pada mulut botol,diputar searah jarum jam sampai kencang.Hore tahapan ini lolos.
  6. Bungkus susu bubuk dirapikan kembali dengan melipatnya beberapa kali.
  7. Susu siap diminum.
  8. Setelah selesai minum susu,syaina meletakkan botol susu kedalam washtaffel untuk dicuci.Kali ini tidak langsung ananda cuci sendiri tetapi biasanya dilain waktu ananda cuci botol susu yang kotor tersebut.


Moment saat syaina membuat susu sendiri


Dari tantangan membuat susu sendiri,syaina belajar beberapa hal yaitu:

  •  Syaina belajar konsep air panas dan air dingin jika mengenai sebuah benda termasuk kulit tubuh.
  • Belajar mengenal konsep air menempati berbagai jenis wadah,salah satunya botol.
  • Belajar tahapan membuat susu dengan benar dari awal sampai akhir proses pembuatan.
  • Melatih motorik halus dan daya konsentrasi.



#Level2
#Day1to10days
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#ODOPfor99days

Selasa, 21 Februari 2017

Syaina memenuhi panggilan shalat

Dua pekan sudah sepeninggal almarhumah ibu.Kebiasaan syaina saat moment itu sampai sekarang adalah ketika mendengar suara adzan,syaina bergegas mengajak saya dan suami menuju ke masjid memenuhi panggilan-Nya.Mencoba untuk tidak menghalangi keinginannya.Tidak ingin memberikan banyak alasan penolakan,tanpa pikir panjang saya setuju dengan ajakannya.Saat itu yang terpintas dalam pikiran saya adalah fitrah imannya sedang tumbuh hebat.Alhamdulillah syaina sudah paham bahwa adzan adalah panggilan Allah untuk shalat.Kita harus segera memenuhi panggilan tersebut tanpa menunda dan meninggalkan sejenak aktivitas kita.Bersyukur karena selalu diingatkan syaina untuk segera shalat saat adzan berkumandang.Bagaikan alaram yang selalu mengingatkan saya.Senang,terharu,bersyukur atas sikap syaina ini dan berharap akan terus konsisten setiap hari.

Beberapa ucapan syaina saat mendengar adzan berkumandang

Mi udah adzan tuh
Yuk ke rumah Allah (sebutan masjid oleh ananda)
Wudhu dulu ya mi
Bawa mukena ya
Mukena syaina mana (menuju kamar dan mencoba mencari mukena)




Ananda sangat antusias berjalan menuju masjid dengan langkah kecilnya.Bersemangat menyambut panggilan shalat.Sesampai di masjid syaina minta dibantu memakai mukena.Syaina pun melakukan beberapa gerakan shalat.Sesekali mengikuti gerakan imam dan dilanjutkan gerakan shalat lain sekehendaknya.Saya amati tingkah laku syaina saat shalat (saat itu kebetulan saya sedang berhalangan shalat).Tidak ada target apapun dalam hal ini.Tanpa instruksi lisan dari saya,sengaja saya biarkan ternyata syaina sudah cukup paham urutan gerakan shalat mulai dari takbiratul ihram sampai salam.Alhamdulillah syaina bisa kondusif disaat jamaah sedang shalat.Mudah-mudahan ada imaji positif tentang shalat yang tumbuh dalam diri syaina.Saya tidak ingin memaksa,memarahi bahkan mencubit/mumukul jika ananda tidak mau shalat karena belum ada kewajiban baginya untuk menjalankan shalat.Saya ingin syaina mengerjakan shalat karena niat/kemauannya sendiri dengan suasana yang senang tanpa paksaan/tekanan.Menumbuhkan imaji bahwa shalat adalah hal yang menyenangkan bukan suatu beban.






Sesampai dirumah tidak lupa syaina mengucapkan salam  "Assalamu'alaikum" dan saling berjabatan tangan.Alhamdulillah....

Saya teringat dengan materi kulwap grup HEbAT beberapa waktu yang lalu bahwa salah satu cara untuk menumbuhkan fitrah keimanan adalah menciptakan atmosfir kesalihan dan keteladanan orang tua.Semangat menumbuhkan fitrah keimanan anak.Bismillah mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing kami dalam mendidik anak dan memberikan kami qoulan sadida (tutur kata yang berkesan dan indah serta tingkah laku yang dapat diteladani anak).Hanya Allah yang Maha memiliki fitrah dan Maha mendidik.

Kegiatan syaina lainnya terkait fitrah keimanan adalah saat bepergian keluar rumah,syaina mampu mengenali masjid dan menunjukkan kepada kami bahwa itu masjid milik Allah
Mi itu rumah Allah
Itu rumah Allahnya kecil
Itu rumah Allah yang besar


#ODOPfor99days







Jumat, 17 Februari 2017

Aliran rasa kelas komunikasi produktif

ALIRAN RASA SETELAH MENGIKUTI KELAS KOMUNIKASI PRODUKTIF



Sebelum berkenalan dengan kelas komunikasi produktif,gaya komunikasi saya masih seadanya.Rasanya senang sekali selama mengikuti kelas komunikasi produktif.Tantangan 10 hari luar biasa.Selama 10 hari berlatih komunikasi produktif bersama pasangan dan anak.Saya ditantang untuk selalu menata setiap kata-kata yang ingin dilontarkan,menjaga bahasa tubuh dan intonasi bicara agar tidak berlebihan.Tentu hal itu tidak berjalan lancar.Ada saatnya saya gagal berkomunikasi produktif.Dua belas gaya populer kimunikasi tidak produktif masih sering dilakukan.Terutama jika dihadapkan dengan tingkah laku anak yang unik.Sering terjadi perbedaan pendapat dan salah paham dengan suami karena cara penyampaian saya yang ternyata keliru.Semangat untuk terus berlatih komunikasi produktif tidak boleh berhenti hanya dalam tantangan 10 hari.Tantangan sebenarnya adalah saya mampu konsisten berkomunikasi produktif setiap hari.Saya tantang diri saya untuk berlatih komunikasi produktif selama 3 bulan.Harapannya adalah agar dapat menjadi habits.

Adanya kelas komunikasi produktif membuat saya dan suami sepakat untuk saling mengingatkan ketika kami sedang berkomunikasi dengan pasangan atau anak.Tercetus family forum yaitu ngobrol santai dengan suami tentang parenting,manajemen waktu,manajemen rumah tangga,dll.Istilahnya cangkrukan family.

Salah satu cara kami untuk mengevaluasi komunikasi keluarga dalah dengan membuat papan evaluasi komunikasi setiap hari.Papan evaluasi tersebut digunakan untuk mencatat berapa kali saya melakukan gaya komunikasi tidak produktif dan menjadi raport komunikasi.Pemicu terjadinya komunikasi tidak produktif adalah mood yang kurang baik (badmood) maka sangat penting menjaga mood,tidak sabaran,manajemen waktu yang berantakan (manajemen waktu berbanding lurus dengan manajemen emosi) dan fisik yang terlalu lelah.

Dengan mengikuti kelas komunikasi produktif,manfaat yang saya peroleh adalah lebih menjaga lisan dalam memilih kata-kata yang baik sebelum diucapkan,meningkatkan kesabaran,sering dikusi bersama pasangan,terjadi perubahan sikap/respon suami dan anak menjadi lebih baik,lebih saling memahami satu sama lain.




Ditulis oleh:
Linda Kurniawati
Purwokerto